Selingan

Kesehatan jaman doeloe

Ini pemikiran lain dari Emha Ainun Nadjib atau biasa disebut Cak Nun. Ilmu kesehatan Cak Nun berbeda dengan ilmu kesehatan pada umumnya. Beliau tidak percaya bahwa olahraga itu pasti sehat.
“Gizi iku asline gak ono rek…tapi ojo diomongno dokter lho yo..” kata Cak Nun.

Omongan Cak Nun itu jangan diartikan linier dan harfiah. Bisa jadi itu cuman cara berpikir dan sugesti aja. Kalau kita cermati bayi jaman dahulu yang hanya dikasih pisang atau tajin. Kok ya bisa tubuhnya tumbuh jadi besar. Atau gelandangan yang hidup di jalan bertahun-tahun makan nggak jelas apa yang dimakan, kok ya bisa hidup dan nggak pernah sakit. Dan masih banyak contoh yang lain.

Menurut Cak Nun kunci kesehatan itu terletak pada pikiran yang benar. Kalau pikiran kita salah maka akan membuat disorganisasi otak. Perintah yang datang dari otak ke organ tubuh yang lain (saraf, jantung, ginjal dan lainnya) akan jadi kacau. Maka akan menimbulkan sakit-sakit.

Usahakan dalam segala hal cara berpikir kita benar, walau kita nggak mampu bertindak untuk mewujudkan kebenaran itu. Misal kita tahu ada seorang presiden yang dalam pikiran kita dia nggak benar tapi kita tidak bisa merubahnya. Itu sudah beres, minimal pikiran kita sudah tepat.

Maka hati-hatilah dalam berpikir. Karena pikiran akan jadi ucapan. Dan ucapan akan jadi perbuatan. Perbuatan yang terus menerus akan menjadi kebiasaan. Karena sudah menjadi kebiasaan maka akan menjadi karakter hidup.

Kalau jadi karakter lama2 jadi unsur kebudayaan dan ber-sama2 jadi kebudayaan masyarakat. Kalau kebudayaan masyarakat dibiarkan tanpa kritik atas dirinya maka dalam waktu tertentu akan menjadi peradaban. Kalau sudah jadi peradaban, susah untuk dirubah lagi. Ibarat batu yang sudah jadi akik.

Begitu juga Endonesah dengan korupsinya, dengan kecurangannya, dengan kedengkiannya..tidak bisa dirubah lagi. Maka pisahkan dirimu dengan Endonesah yang itu.Temukan dirimu, kamu regulasi lagi, kamu teliti lagi benihmu, kesejatianmu.

Per-nya hidup adalah berpikir dengan benar. Tidak kebenaran berpikir akan membuat destruksi, disorganisasi sel-sel maupun urat-urat syaraf otak. Selanjutnya urat-urat syaraf yang kacau tadi menurunkan perintah ke seluruh tubuh dan dalam jangka panjang terakumulasi menciptakan sakit-sakit…stres, daya tahan tubuh berkurang, perut sakit, stroke, dsb.

Kunci kesehatan terletak di pikiran bukan di hati. Kalau hati tugasnya bertapa. Orang yang selamat adalah yang hatinya bertapa, tidak lirik kanan lirik kiri. Sekarang nikah, besok selingkuh, cerai, kawin lagi, selingkuh lagi, cerai lagi dan seterusnya.

Pernah suatu kali Cak Nun bertanya pada dokter, “Dok, jantung itu baiknya dipacu atau dihemat..?”
Doktere ngelu ndase. “Ono-ono ae sampeyan iku…..yooo dihemat..,” jawab dokter seperti nggak yakin.
“Mangkane jangan suruh saya olahraga, ” kelakar Cak Nun.

Dalam guyonannya suatu kali, beliau bilang kalau di Lauh Mahfudz konon tiap manusia dijatah detak jantung sekian milyar detak. Dan jatah tiap manusia berbeda . “Soal benar tidaknya itu…aku yo gak eruh rek..” kata Cak Nun.

Dulu Cak Nun sempat berolahraga bulutangkis. Tapi sekarang tak dilakukannya lagi. “Itu bukan olahraga, itu penyiksaan!” kata beliau berkelakar.

Lihat saja saat shuttle cock menuju ke kanan, kita ikut lari ke kanan. Saat shuttle cock menuju ke kiri, terpaksa kita juga ikut ke kiri. Bagi beliau, olahraga itu harus berdaulat. Tubuh dan pikiran bebas melakukan sesuatu gerak atau aktifitas yang membuat tubuh jadi nyaman/sehat. Tapi yang terjadi adalah kita dipaksa oleh lawan untuk mengejar shuttle cock .

Orang sekarang tidak bisa membedakan antara OR dan permainan. Saat bermain sepakbola sebenarnya yang disebut olahraga itu saat pemanasan atau latihan. Tapi pada saat bertanding itu adalah permainan. Karena pikiran nggak merdeka, kita lari ke sana kemari mengejar bola karena dipaksa oleh lawan.

Tidak berarti Cak Nun anti olahraga. Olahraga tentu saja baik tapi kita hendaknya bisa memaknai semua itu dengan tepat. Dengan begitu tubuh kita nggak gampang capek dan sakit. Ini nggak cuma teori nggedabrus atau wacana omong kosong.

Bukti otentiknya pada Cak Nun sendiri, yang masih lincah di usianya yang sudah kepala 6. Aktivitas luar biasa dengan jadwal jadi pembicara atau pengajian yang padat dan tidur nggak sampai 5 jam tiap harinya.

Menurut penelitian, gerakan shalat dan wudhu itu sebenarnya gerakan olahraga dan pijat refleksi yang asli ciptaan Tuhan. Mengalahkan semua gerakan OR ciptaan manusia : Tai Chi, Yoga, SKJ, Goyang Dombret, dsb. Kalau kita melakukan dengan benar, teratur dan waktu yang tepat maka dijamin akan menyehatkan.

Manusia diturunkan Tuhan di bumi sebagai khalifah (wakil Tuhan) untuk mengolah dan memanfaatkan apa yang ada di alam semesta. Atas dasar inilah Cak Nun yakin bahwa manusia mempunyai kedaulatan atas dirinya . Sampai batas tertentu kita bisa memerintah tubuh kita.

Jadikan semua yang ada dirimu itu sebagai anak buahmu. Tanganmu adalah bagian dari tubuhmu tapi itu bukan kamu. Seperti juga matamu itu bukan kamu. Kalahkan mereka dengan niat dan sugestimu. (Tapi ya nggak iso rai welek diperintah dadi ayu).

Menurut Cak Nun, satu obat pun bisa diperintah jadi obat sakit yang lain. Ketika MUI mengharamkan pengobatan batu oleh Ponari di Jombang, Cak Nun pikir itu tidak tepat. Apa bedanya batu, kapsul atau obat yang lain. Sama2 benda mati. Kesembuhan dari Tuhan bisa lewat apa saja. Syirik atau bukan itu tidak terletak pada bendanya tapi pada niat dan konsepnya.

Karena umur sudah kepala 6, maka otomatis kemampuan tubuh pun menurun. Begitu juga dengan kemampuan penglihatan Cak Nun. Tapi dengan keyakinan dan sugesti tadi, beliau melatih, memerintah matanya untuk bisa melihat dengan normal.

Sekarang mata beliau bisa normal lagi tanpa harus pakai kaca mata. Tentu saja tidak semua orang bisa berhasil dengan itu. Kasihan para penjual kaca mata…gak payu mblo.
Suhirto M; dari grup sebelah)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close