Selingan

Mengetik cepat : Apa perlunya

Dahulu Pak Sabar bekerja di bidang teknik, jadi sangat jarang mengetik dengan mesin ketik. Mesin ketik itu pekerjannya bagian Tata Usaha. Pegangan Pak Sabar waktu itu obeng. Ketika dia pindah ke bagian pendidikan, maka obeng ditinggalkan dan berganti dengan tulis menulis. Tapi mesin ketik belum disentuhnya. Kalau mau mengetik, ada yang bisa dimintai tolong.

Tahun 1990-an pindah lagi ke bagian operasional. Pada saat itu di kantornya sudah ada komputer. Maka dia sering mennggunakan komputer itu untuk membuat pendataan, perencanaan dan pelaporan. Tahun 1994 dia pindah ke bagian penelitian.

Di sini alat kerjanya komputer, karena saat itu hampir semua orang sudah ‘punya’ komputer sendiri di kantor. Kini ‘makanan’ sehari-hari adalah buku untuk dipelajari dan komputer sebagai alat tulisnya. Maka Pak Sabar sering mengetik, tapi dengan 11 jari, alias 2 jari saja. Toh tidak dituntut mengetik dengan cepat. Pikirnya.

Pada saat itu ada beberapa anak muda (baru lulus dari sekolah) datang sebagai pegawai baru di tempat itu. Mereka semua cerdas2, cekatan dalam berfikir dan bekerja. Nah, ada kelebihan lain dari mereka menurut Pak Sabar. Mereka ini kebanyakan bisa mengetik dengan 10 jari dan sangat cepat.

Kalau mereka mengetik, matanya tidak melihat “keyboard”, tapi ke layar komputer saja. Jari-jarinya seakan bisa melihat “keyboard” dan menari-nari di atasnya. Pak Sabar sangat takjub dengan kemampuan mereka mengetik.Sungguh. Sangat takjub

Pada saat itu Pak Sabar berfikir sekian tahun ke depan, diera globalisasi, di saat persaingan sangat ketat, selain bekal ketrampilan, ilmu pengetahuan dan kepribadian yang bahasa Inggirnya “skill, knowledge dan attitude” , maka kemampuan mengetik dengan cepat menjadi nilai tambah tersendiri.

Dengan pemikiran seperti itu, maka anak-anaknya pada waktu dikursuskan mengetik, ketika duduk di kelas V SD. Agar dapat mengetik dengan benar, dengan 10 jari. Kini mereka piawai dalam mengetik dan menunjang pekerjaannya.

Waktu berjalan terus. Kini, Pak Sabar yang tua malah dapat kerjaan baru. Pekerjaan itu tidak terlampau mudah bagi Pak Sabar. Pertama dia harus bisa membaca dengan cepat dan mencerna apa yang dia baca. Untuk hal ini Pak Sabar merasa mampu. Tahap kedua dia harus bisa menyiapkan tanggapan atau komentar atas apa yang telah dibacanya tadi, juga dengan cepat. Pak Sabar merasa mampu.

Tahap ketiga, dia harus bisa menyusun tanggapan atau komentar tadi itu dalam bahasa Inggris. Nah, di sini Pak Sabar belepotan, sebab kemampuan bahasa Inggrisnya dirasa masih kurang. Nilai “Toefl’-nya kurang tinggi, menurutnya. Tahap keempat. Nah ini dia, dia harus bisa mengetik tanggapan dalam bahasa Inggris tadi dengan cepat pula.

Ini yang membuat Pak Sabar kedodoran, sebab kemampuan mengetiknya masih kurang cepat. Oleh karena itu terpaksalah dia belajar mengetik lagi. Coba dulu dia belajar mengetik, tidak akan terjadi begini. Pikirnya. Kok seperti rubrik Kok Bisa Ya saja.

Maka sarannya adalah, ajarilah putra – putri, cucu-cucu, untuk bisa mengetik dengan benar, dengan 10 jari. Selagi masih kecil, selagi jarinya masih lentur, belum kaku, selagi belum banyak tuntutan les ini dan les itu. Belajar mengetik tidak lama dan tidak berkepanjangan seperti belajar ilmu lainnya, seperti belajar bahasa dan musik, yang tidak ada habisnya.

Kalau anda masih muda, juga sangat baik dan sangat tidak ada salahnya jika bisa mengetik dengan cepat (Widartoks 2015; dari grup FB MKPB Telkom)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close