Pengalaman Anggota

Bermenung: Perhatian-sedekah di ini jaman

Beberapa hari lalu ketika berada di dalam masjid, Pak Sabar kaget, ditowel dari belakang. Setelah ditoleh, ternyata dia tetangga rumah, anak usia 10 tahunan dan mengajak salaman lalu cium tangan. Yang membuat Pak Sabar kaget, kok anak itu perhatian sekali.

 

Setelah diingat-ingat, dua hari (dua kali) sebelumnya ketika pulang dari masjid, Pak Sabar berjalan bersama anak itu, mengajaknya mengobrol dan kadang memuji bahwa dia hebat, sudah kelas lima, sebentar lagi kelas enam. Mau SMP, hanya itu.

Bu Sabar juga demikian, kalau ada anak bermain di depan rumahnya ditegor, kalau sudah mandi (sore) dipuji, sudah rapi sudah harum. Anak-anak itu senang, kemudian rajin mandi dan senang dengan Bu Sabar.

Bukan hanya anak-anak, ternyata orang tua kalau diajak bicara dan didengar apa isi pembicaraannya akan senang. Kadang kalau mereka pulang kampung memberi oleh-oleh apa itu kentang, kol dan lainnya sesuai daerahnya.
Begitulah jaman kini, anak2 banyak ditinggal ortunya cari sesuap nasi segenggam berlian, sehingga tidak banyak waktu untuk berbicara dengan orang tua. Selain itu anak sekolah juga sibuk kursus ini dan itu. Jika orang tua di rumah, bisa jadi mereka ibu, anak, bapak masih asyik dengan HP-nya masing-masing. Tak heran banyak anak haus teman untuk bicara, rindu teman yang mau memberi perhatian.

Begitu pula banyak orang tua (misalnya “level” kakek dan nenek atau yang merasa “level” strata di masyarakat lebih rendah) yang ingin bicara, ingin didengar pembicaraannya. Mereka tidak punya tempat untuk bicara. Orang di lingkungannya tidak mempunyai “slot waktu” untuk mereka bicara.

Maka kalau di jaman ini kita mau bersedekah, berbuat baik kepada orang lain, tidak harus dengan uang, makanan dan harta benda. Bisa dengan senyuman, memberi perhatian, mengajak bicara, mau mendengarkan, itu saja malah bisa jadi lebih berharga daripada kita memberi uang.

 

Juga berkah (kebaikannya bertambah), sebab bisa jadi mereka akan menganggap kita “teman”, “saudara” dan selalu mendoakan. Tentunya terutama kepada mereka, anak-anak maupun orang tua yang hanya sedikit mempunyai kesempatan untuk bicara . . . . (Widartoks 2016; dari grup FB-ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close