Psikologi

Paganini

Di depan gerbang suatu jembatan disalah satu kota Eropa, duduk seorang pe-minta2. Ia tiap hr duduk di situ sambil memainkan biolanya yg sdh usang dan menaruh  kaleng di depan dia duduk. Dia berharap org² yg lalu lalang merasa iba mendengar  gesekan biolanya dan memberinya sedikit uang.

Pada suatu hr seorg pria yg  berjubah panjang, datang menghampiri pengemis tadi dan meminta agar pengemis itu meminjamkan biola usangnya.

Tentu saja pengemis itu menolak, dan berkata “Tidak. Ini adlh hartaku yg paling mahal” tapi org tsb terus membujuk agar si pengemis mau meminjamkan biolanya, meski hanya utk sebuah lagu. Akhirnya  pengemis buta itu, dgn segan memberikan biola tua.

Setelah itu, dia mulai memainkan sebuah lagu dgn begitu syahdu. Suara biola yg begitu halus di tangan si pendatang, membuat semua  yg lewat berhenti dan mrk  mengelilingi si pendatang dan pengemis tsb.
Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan biola si pendatang_, membuat semua org terdiam, terhanyut oleh gesekan biolanya. Si pengemis buta ternganga tanpa dpt ber-kata2.

Kaleng yg tadinya kosong kini telah penuh dgn uang. Ternyata tdk cuma satu tapi bbrp lagu dimainkan oleh si pendatang tsb. Akhirnya iapun hrs menyelesaikan permainannya, dan sambil mengucapkan terimakasih, ia mengembalikan biola tsb kpd si pengemis.

 

Si pengemis dgn berlinang air mata, dgn gemetar bertanya: “Siapakah anda org budiman?”
Si pendatang tersenyum dan dgn perlahan menyebutkan namanya “Paganini”
Sang maestro biola Paganini, telah memberi bantuan sesuai dengan profesinya.

Saudaraku, banyak cara bagi kita utk menjadi seperti “Paganini” dlm membantu orang lain yg membutuhkan. (Sapuwan; dari grup WA-78)-FR…

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close