Kesehatan

Mengapa banyak anak autis-Apa penyebabnya?

Ada pertanyaan besar di hati saya. Mengapa banyak anak autis? Di AS, perbandingan anak autis dengan yang normal 1:150. Di Inggris 1:100. Indonesia belum punya data akurat. Jumlah 1: 150 itu banyak. Artinya di satu RT ada anak2 autis.

 

Tapi mungkin benar, di sebuah RT yang saya kenal jelas ada 2-4 anak autis dan ada satu yang parah. Autis ini secara mudah adalah penyakit yaitu anak sulit berinteraksi dengan orang lain, maunya sendiri, sulit diatur. Atau bahasa ilmiahnya : gangguan dalam bidang perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku.

Apa penyebab autis? Kalau kita baca di internet, tidak ada yang menjawab pasti. Misalnya jawabannya begini : Hingga saat ini kepastian mengenai autisme belum juga terpecahkan. Selanjutnya penjelasannya begini : Para ilmuwan menyebutkan autisme masih misterius ini terjadi karena kombinasi berbagai faktor, termasuk faktor genetik yang dipicu faktor lingkungan.

1-Genetik
Ada bukti kuat yang menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme. Menurut National Institute of Health, keluarga yang memiliki satu anak autisme memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autisme.

2-Pestisida
Paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme.

3-Obat-obatan
Bayi yang terpapar obat2an tertentu ketika dalam kandungan ber-risiko lebih besar mengalami autisme.

4-Usia orangtua
Makin tua usia orangtua saat memiliki anak, makin tinggi risiko si anak menderita autisme. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010 menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50% memiliki anak autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun.

5-Perkembangan otak
Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme.

Para ahli saja mengatakan belum pasti, jadi menurut saya 1-5 di atas bisa dikritisi. Ini komentar saya.

1-Genetik.
Kalau ini saya percaya.

2-Pestisida
Di Indonesia ini pestisida mulai marak tahun 1970-an. Jadi kalau ini merupakan penyebab autis, berarti seharusnya tahun 1980-an sudah banyak anak autis. Kenyataannya kan belum.

3-Obat-obatan
Tahun 1970-1980-an ibu hamil mengkonsumsi obat-obatan, misalnya antibiotik yang sekarang dilarang bagi ibu hamil. Namun anak autis juga belum nampak.

4-Usia orangtua
Perempuan usia melahirkan 40 tahun memiliki risiko 50 persen memiliki anak autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun. Okelah.

5-Perkembangan otak
Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum, bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ini juga belum menunjukkan penyebabnya. Saya punya jawaban sendiri tentang penyebab autis ini. Sebelumnya ada testimoni begini:
Kawan saya punya teman yang anaknya autis. Anak ini maunya sendiri saja dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Kedua orang tuanya lalu menyadari bahwa anaknya autis, kemudian banyak berkonsultasi dengan dokter. Untunglah masih bisa ditolong dan si anak pelan-pelan menjadi normal.

Mereka (bapak dan ibu anak autis ini) lalu berfikir, introspeksi mengapa anaknya bisa kena autis. Akhirnya mereka dapatkan jawabannya.

Alkisah, orang tua ini mempunyai dua anak. Akan pertama masih kecil anak kedua masih bayi. Anak pertama karena sering menangis dan maunya digendong terus. Maka ibunya sibuk urus anak pertama ini. Anak kedua yang masih bayi lalu ditaruh di lantai (tentu dialasi) dan ditempatkan di depan televisi. Maka si bayi asyik menonton televisi dan tidak rewel. Di mana bapaknya? Ternyata bapaknya kalau di rumah lebih banyak berada di kamar asyik dengan komputernya, bekerja. Sampai malam larut begitu.

Praktis si bayi tidak, jarang atau kurang berinteraksi dengan bapak dan ibunya. Hal ini berlangsung lama. Maka inilah penyebab si bayi yang setelah besar tidak tahu cara berinteraksi dengan orang lain, sejak bayi terbiasa “hidup sendiri” dan menjadi autis. Anak pertama normal.

Dari kisah ini saya menyimpulkan bahwa penyebab autis yang mungkin paling besar justru kurangnya perhatian orang lain (terutama oang tua). Di jaman sekarang ini kemungkinan orang tua kurang berinteraksi dengan anak semakin besar, misalnya :
1-Kedua orang tua bekerja. Kalau anak diserahkan ke asisten, jaman sekarng ada kemungkinan asisten sibuk nonton TV atau berkomunukasi melalui media sosial seperti face book, whatsapp, dsb.
2-Kedua orang tua sibuk dengan dirinya sendiri, apakah itu bekerja, ber-“medsos”, nonton sinetron, dsb.

Sebab-sebab di atas sangat masuk akal di jaman “semua orang” pegang smart phone ini. Ingat autis itu masalah gangguan interaksi, jadi wajar penyebabnya adalah kurangnya interkasi itu.Maka ini peringatan bagi para orang tua agar ketika di rumah jangan hp melulu yang dipegang, namun lebih banyaklah berinteraksi, berkomunikasi, bermain dengan anak-anak, terutamna yang masih kecil, masih bayi.

Kalau ortu bekerja dua duanya, si bayi tidur saja satu ranjang dengan ortu. Peluklah mereka, sayangilah mereka dekatlah dengan mereka. Pakailah smart phone kalau anak-anak sudah tidur semua. Oh ya, satu lagi jangan kasih anak smart phone tanpa pengawasan, karena banyak “content” atau isi yang sangat tidak bagus bagi perkembangan jiwa anak. Selain itu anak juga akan asyik dengan smartphone.

Ingat bahwa anak kecil apalagi bayi itu tidak perlu pakaian bagus (sebab belum mengerti) dan mainan bagus, yang diperlukan mereka adalah perhatian, cinta dan kasih sayang.

Semoga kita dan anak turun bisa memberi perhatian dan kasih sayang ke anak cucu lebih baik lagi dan tidak ada yang terkena autis (apapun penyebabnya). (Widharto KS-2017; dari grup FB-ILP; Referesnsi : http://lifestyle.kompas.com/read/2011/01/11/09501535/Lima.Faktor.Penyebab.Autisme)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close