Kesehatan

Penanganan Kanker Payudara

Kanker payudara jadi Kanker utama yang diderita wanita Indonesia. Bagi penderitanya, proses pengobatan itu pertempuran panjang melawan penyakit dan dirinya sendiri. BBC berbicara dengan perempuan penderita kanker payudara Kamis (13/10) yang di sejumlah negara diangkat sebagai hari peningkatkan kesadaran atas jenis kanker ini dengan hari tanpa beha atau No Bra Day.

 

Ketika In Natasari, 33, mengetahui dirinya mengidap kanker payudara, dia tidak menangis atau sedih. “Saya sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk,” katanya. Tapi anehnya, ada perasaan bersalah yang tidak biasa: dia menyalahkan diri sendiri atas hal yang menimpanya.

 

“Saya merasa saya yang menyebabkan penyakit ini datang. Padahal saya tahu itu tidak betul, tetapi tetap saja pikiran itu merayap ke otak saya. Saya merasa bersalah kepada suami saya, anak saya. Bagaimana saya merawat anak saya kalau saya sakit begini?” katanya kepada BBC Indonesia.

 

Proses pengobatan itu perjalanan panjang yang butuh kekuatan. Divonis Oktober 2015 lalu, dia  menjalani operasi pengangkatan payudara dan kemoterapi. Saat itu dia mengaku siap. “Ini waktunya untuk bertempur,” katanya. Tapi dalam proses itu juga, In Natasari merasa kehilangan dirinya.

 

Hilang segalanya

“Sebelum saya dioperasi, (tepatnya) malam hari sebelum operasi pengangkatan payudara, saya betul2 merasa hilang segalanya. Sedih dan takut. Kehilangan payudara adalah momentum yang tidak pernah terpikir dalam hidup perempuan”

 

“Saya berada dalam masa2 kehilangan identitas, bukan hanya karena kehilangan payudara, tetapi juga saya merasa kehilangan diri saya selama proses itu.” Pencarian identitas itu terasa hingga kini, setelah ibu dua anak yang tinggal di Belanda ini dinyatakan bersih dari tumor.

 

Namun, jika ada yang pelajaran yang paling berarti dalam perjalanan sulit itu adalah “Anda harus merawat diri Anda sendiri sebelum mengurus orang lain,” katanya. “Jangan lupa periksa payudara, ambil libur untuk menyediakan waktu diri sendiri.”

 

Bagi Citra Dyah Prastuti, proses penyembuhan dari kanker payudara setengah jalan. “Saya menemukan benjolan di payudara saya 3/4/2016, setelah ketemu dokter dan mencari opini kedua, tanggal 19 (sudah langsung) operasi pengangkatan payudara karena dokter mengatakan kanker itu ganas,” cerita Citra.

 

“Waktu dokter mengatakan mungkin ganas, saya menangis, merasa: waduh panjang ini urusannya.”

Dia jalani pengobatan yang tanpa jeda. Setelah berbagai pemeriksaan dan mastektomi, Citra menjalani proses pemulihan 2 pekan. Kemoterapi 6x dimulai, juga radiasi 25x setiap hari. Ada juga terapi hormon yang harus dijalani beberapa tahun ke depan.

 

Namun beda dengan In, Citra tak ingin menyalahkan diri sendiri atas pertanyaan2 dibenaknya; Mengapa tak cek dari awal? Mengapa tak sadar kalau penyakit itu ada di riwayat keluarga? “Kalau penyesalan tidak, saya tak mau menyalahkan diri sendiri. Tapi kini, kalau saya bertemu perempuan, siapapun itu, saya minta mereka periksa. Tidak ada salahnya, biar ketahuan harus waspada atau tidak,” katanya.

 

Ini juga alasan mengapa dia tidak ingin menutupi kepalanya yang botak dengan wig. “Kadang kita tidak tahu penyakit itu begitu dekat, ada ketika Anda tidak kenal dengan orang yang mengalaminya.”

 

Penanganan kanker belum benar

Walta Gautama dari Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Onkologi Indonesia mengatakan jumlah kasus kanker payudara di Indonesia makin meningkat dan kini menjadi jenis kanker yang paling banyak yang dialami perempuan (melebihi kasus kanker serviks).

 

“Pada 20-30 tahun, kasus kanker payudara didominasi stadium 3-4 sebanyak 60%-70%, kini datanya tetap sama. Artinya ada yang salah. Penanganan kanker payudara belum jadi prioritas yang benar”. Ada faktor2 penyebab hal ini terjadi, dari perasaan ketakutan pasien menjalani pengobatan, pelayanan medis yang tak menunjang, hingga minimnya regulasi penanganan terkait penanganan kanker payudara.

 

Deteksi dini penting karena tingkat kesembuhan lebih tinggi. “Rajin periksa payudara sendiri dan mamografi rutin tiap tahun untuk perempuan di atas 40 tahun.” (http://www.bbc.com/indonesia/trensosial/2016/10/161013_trensosial_kanker_payudara)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close