Selingan

Gendari- Kunti-Madrim-Lahirnya Bara Dalam Sekam(5)

(Sayembara Membawa Petaka)
// Kisah ini saya tulis di sini untuk menjawab pertanyaan Pak Mochamad Toha //
Dewabrata menghela nafas panjang. Setelah merenung cukup lama dia berkata.

” Ramanda. Saya bersedia tidak menduduki tahta Astina ini. Biarlah kelak adik saya, putra Ramanda dengan Ibu Dewi Durgandini menggantikan Rama sebagai raja Astina “. Dia menghela nafas panjang.
“ Bagi saya, kebahagiaan Ramanda lebih penting. Kapan lagi saya membahagiakan ortu. Saya juga ingin membahagiakan Ibunda, tapi tidak mungkin lagi”, kata Dewabrata melanjutkan.

“ Duh anakku Dewabrata, Ramanda bangga padamu, pada pengabdianmu ke ortu”, kata Prabu Sentanu ter-bata2 sambil memeluk Dewabrata, tak terasa air matanya mengalir terburai.

Pada hari yang dientukan, Prabu Sentanu mengutus untuk menyampaikan kesediaan Dewabrata tidak akan minta tahta Astina, sebagai syarat jika Dewi Durgandini menerima pinangannya. Untuk lebih meyakinkan, Prabu Sentanu mengutus Dewabrata untuk menyampaikan hal itu ke Dewi Durgandini.

Sesampai di kediaman Dewi Durgandini, Dewabrata menyampaikan pesan ayahnya, kesanggupan menyerahkan tahta kelak kepada putra Prabu Sentanu dengan Dewi Durgandini, jika Dewi Durgandini bersedia jadi istrinya.

“ Nakmas Dewabrata. Terima kasih atas kesediaanmu untuk tidak menduduki tahta Astina dan menyerahkannya kepada anakku kelak dengan Prabu Sentanu”, kata Dewi Durgandini. “ Tetapi bagaimana saya bisa yakin dengan keputusanmu? Dengan kesediaanmu?”, tanya Dewi Durgandini.

“ Bumi langit menjadi saksi, Ibu”, jawab Dewabrata.

“ Dewabrata, saya sangat percaya kepadamu. Tetapi kelak kamu akan berumah tangga pula. Tentulah istri dan anakmu akan menuntut haknya, agar kamu, anakmu, yang akan mewarisi tahta Astina”, kata Dewi Durgandini.

Bagai disambar petir Dewabrata mendengar perkataan Dewi Durgandini itu. Memang kemungkinan seperti itu sangat masuk akal. Sebagai manusia biasa, adalah wajar istri dan anaknya kelak juga menginginkan tahta Astina. Dewabrata, yang sekalipun masih muda tetapi sudah sering bertapa, sudah banyak menimba ilmu kenegaraan dan ilmu kehidupan manusia, akhirnya menguatkan diri dan berkata.

“ Ibu Durgandini, agar ibu tidak ragu dengan keputusan saya, dunia seisinya menjadi saksi, mulai saat ini saya akan menjalani hidup wadat, tidak akan kawin seumur hidup saya”, kata Dewabrata mantab

Pada saat itu dunia seakan tergoncang demi mendengar perkataan Dewabrata. Para bidadari menangis menyaksikan keputusan Dewabrata.

Maka, hari-hari berikutnya kerajaan Astina sibuk mempersiapkan perkawinan Prabu Sentanu dengan Dewi Durgandini. Pesta pernikahan berlangsung meriah dengan mengundang tamu dari berbagai Negara.

Singkat cerita, dengan Dewi Durgandini, Prabu Sentanu mempunyai dua anak, yaitu Citragada dan Citrawirya. Dewabrata kemudian mejalani hidup sebagai pertapa, sebagai orang suci yang disebut Resi dan namanya lebih terkenal sebagai Bisma, yang berarti ‘sumpah yang dahsyat’, karena hidup membujang seumur hidup.

Ketika Citragada sudah dewasa, Prabu Sentanu menyerahkan tahta kerajaan Astina keapda Citragada. Prabu Sentanu kemudian menjadi pertapa.

Citragada sekarang menjadi raja Astina. Namun Citragada mati muda, mangkat dalam suatu peperangan. Maka sesuai Undang-undang yang berlaku saat itu, tahta Astina kemudian diserahkan kepada adiknya, Citrawirya, sekalipun masih muda.

Ketika Citrawiya telah dewasa, di negeri Kasi ada sayembara adu kesaktian, dalam rangka mencarikan calon suami bagi putri kerajaan Kasi tersebut.

Sebenarnya sudah menjadi tradisi, setiap putri negara Kasi sudah dewasa, diserahkan kepada Negara Astina. Namun, ketika raja Astina dipegang Citrawirya, Kasi memilih mengadakan sayembara untuk mencarikan jodoh putrinya.

Karena Citrawirya dianggap kurang sakti, maka Dewi Durgandini dan Prabu Sentanu meminta tolong kepada Bisma atau Dewabrata yang memang sakti mandraguna untuk mengikuti sayembara tersebut. Jika bisa memenangkan sayembara itu, Putri Kasi tersebut akan dikawinkan dengan Citrawirya.

Bisma menyanggupi, kemudian berangkat ke Kasi untuk mengikuti sayembara. Ternyata yang menjadi ‘hadiah’, putri Negara Kasi tersebut bukan hanya satu orang, melainkan tiga orang, Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika.

Satu persatu peserta sayembara memamerkan kesaktiannya, satu persatu pula peserta bertumbangan.

Pada akhirnya Bisma bisa mengalahkan semua peserta, maka kemudian Bisma memboyong ketiga putri Kasi tersebut untuk dinikahkan dengan adik tirinya, Citrawirya.

Sesampai di Astina, Dewi Amba berterus terang bahwa dia sebenarnya telah punya pacar, yaitu Prabu Citramuka dari negara Swantipura. Citrawirya mengijinkan Dewi Amba meninggalkan Astina untuk menikah dengan Raja Swantipura itu. Menurutnya tidak baik memisahkan cinta antara dua orang anak manusia, apalagi mereka sudah sepakat untuk hidup bersama. Akhirnya Citrawirya menikahi Dewi Ambika dan Dewi Ambalika.

Dewi Amba kemudian menuju negara Swantipura dengan maksud untuk melanjutkan hubungan dan menikah dengan Prabu Citramuka. Namun Prabu Citramuka menolak, dengan alasan kini Dewi Amba telah menjadi putri boyongan, telah menjadi hak negara Astina. Tidak elok kalau dia mengawininya.

Dewi Amba yang cintanya ditolak akhirnya pulang ke Astina. Dia menyalahkan Bisma yang telah memutuskan cintanya kepada Prabu Citramuka dan kini menuntut agar Bisma mengawininya. Bisma tidak bisa menerima, sebab Dewi Amba meninggalkan Astina untuk mencari Prabu Citramuka atas kemauannya sendiri. Lagi pula, mengapa tidak dari awal, ketika Bisma ikut sayembara tidak berkata terus terang, sehingga Dewi Amba ini tidak termasuk yang disayembarakan.

Bisma juga berterus terang bahwa dia menjalani hidup wadat, tidak akan menikah selama hidup. Namun, Dewi Amba tetap menuntut Bisma untuk menikahinya. Menurutnya sumpah bisa saja dibatalkan dengan upacara tertentu, apalagi pembatalan sumpah ini, demi kebaikan.

Ke manapun Bisma pergi, Dewi Amba selalu mengikutinya, dengan harapan suatu saat hati Bisma akan luluh dan bisa menerima cintanya. Dia berfikir bahwa, batu saja bisa berlubang jika terkena tetesan air setetes demi setetes, apalagi ini hati manusia yang terbuat dari darah dan daging.

Ya, hati yang terbuat dari darah-daging yang kadang bisa panas membara, suatu waktu keras membatu, namun kadang bisa luluh oleh butiran air mata. Bersambung…. (Widharto KS-2017; dari grup FB-ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close