Pengalaman Anggota

Kailan (FE 052b)

Sejak saya pertama kali tinggal di Jogja 4 tahun lalu, saya terkejut menemukan sayur Kailan di pasar kecil, Tempel. Di Bandung, Kailan hanya ada di pasar2 tertentu dan harganya tidak murah. Di sini dengan lembaran dua ribu perak, saya dapat satu ikat, yang dua telunjuk dan dua ibu jari tangan tidak cukup menggenggamnya.

 

Murah sekali, hampir saya tidak percaya. Malah yang daunnya sedikit tapi batangnya sebesar ibu jari lebih murah lagi. Lha kan aneh? Justru batang Kailan-lah yang dicari penyantap sayur lezat ini.
Saya biasa memasak Kailan dengan dua cara, cara pertama saya merebunya. Jerang air dalam panci.

 

Setelah hampir mendidih bubuhkan garam dan satu sendok makan minyak zaitun. Setelah mendidih barulah saya cemplungkan daunnya utuh dan saya tutup rapat2 sampai beberapa lama. Setelah matang, daunnya yang mengkilat hijau tua, cantik menggiurkan itu saya tiriskan dan saya baringkan dengan teratur pada talenan kayu dan saya iris-iris dengan pisau tajam.

 

Saya atur dalam piring oval dan saya siramkan saus kentalnya. Sausnya saya buat dari bawang putih yang saya rajang kecil dan saya tumis sebentar lalu saya siram dengan air sekitar setengah cangkir.

 

Kemudian saya bubuhkan saus tiram sedikit saja, saus ini asin, jadi tidak perlu lagi garam, toch daunnya tadi sudah saya rebus dengan garam. Setelah mendidih saya siramkan cairan tepung sagu, aduk pelan sehingga membuat saus kental berwarna coklat.

Cara kedua ya ditumis biasa, daun dirajang dan batangnya yang keras dirajang agak tipis sehingga bisa merata matangnya. Bumbunya ya standar, bawang putih yang digeprek dan sedikit saus tiram dan sedikit kecap asin. Kedua masakan itu rasanya persis sama, cara masak yang pertama, tampilannya sepuluh kali lebih cantik, jadi pantas kalau di restoran harganya lebih mahal.

Nah, masalahnya, istri saya selalu tertawa. Itu bukan Kailan, itu Kubis Ciwis. Di sini itu sayuran kelas tiga, harganya paling murah. Orang sini tidak terlalu menyukai, daunnya keras, batangnya lebih keras ladi dan pahit pula, jadi tidak laku. Lha, memang ciri Kailan ya begitu, itulah yang dicari.

 

Saya ngotot, iapun berkeras. Saking penasaran, kami berangkat makan sea-food di restoran d’Cost di City Mall Jogja. Saya pesan sayur Kailan, satu piring kecil harganya dua puluh ribu. Rasanya persis dengan apa yang saya makan di rumah. Habis makan, kami turun ke bawah, mampir ke Hyper Mart.

 

Saya merencanakan akan membeli sayur Kailan dan akan saya bandingkan head-to-head dengan yang di rumah. Saya tengok harganya belasan ribu untuk satu ikat kecil, saya tidak jadi beli. Sampai tadi padi perdebatan tentang mana yang betul apakah Kailan atau Kubis Ciwis masih berlangsung.

 

Sesungguhnya debat itu tidak perlu, whatever the name, dengan dua ribu, saya bisa tiga kali makan sayur yang saya anggap Kailan itu. Titikhabis. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close