Psikologi

Islam dan kaum Ibu (TA 021)

(Reposting, setiap hari2 Ibu)-Tahukah anda posisi wanita zaman Pra-Islam? Di Yunani, pusat peradaban, wanita dianggap sumber musibah dan derita. Ketika ada tamu, istri diperlakukan layaknya budak atau pelayan. Istri dibebaskan melacur/berzina, jika terjadi wanita itu terhormat. Dewa cinta Yunani bernama “Cupid”

 

Di Romawi slogan terhadap wanita: “Ikat mereka dan jangan dilepas”. Suami boleh mengatur istri secara penuh dan berhak pula membunuh istri tanpa gugatan hukum. Mandi bercampur antara pria wanita dianggap lumrah. Ada kontes wanita telanjang yang disebut Fakuaro.

 

Lelaki di Persia punya kebebasan mutlak tanpa batas pada wanita. Hukum tidak diterapkan bagi kaum pria, tapi untuk wanita. Kalau laki2 marah wanita boleh di sembelih. Wanita dilarang menikah dengan lelaki yang tidak punya baju besi. Bila wanita haid, diusir dan diungsikan jauh di luar kota.

 

Nasib wanita di India lebih tragis lagi. Mereka di klaim tidak pantas lagi hidup bila suami mereka mati, sehingga isteri/wanita itu harus mati dan di bakar bersama mayat suaminya. Adat bakar Istri ini terus berlanjut sampai lahirnya Islam.

 

Bangsa Arab Jahiliah, tempat Rasul SAW dilahirkan, memperlakukan wanita lebih biadab. Ibu kandung jadi barang warisan, anak boleh mengawini ibunya. Di pihak lain, 10 orang lelaki boleh menggauli seorang wanita ber-sama2, dan ketika anaknya lahir, wanita itu berhak mengklaim satu di antara 10 bapak itu sebagai pemilik anak. Disini bayi wanita sering dibunuh.  (sumber: Buku Pintar, Iwan Gayo)

 

Islam merombak kebiasaan2 biadab ini dan menempatkan wanita di keluarga dengan aman serta memiliki hak2 yang diatur jelas dalam Al Qur’an dan Hadits. Perkawinan jadi ikatan yang diawali ikrar dan disaksikan Allah. Perbuatan zina dosa besar, hukuman atas perbuatan zina dijatuhkan di dunia dan diakhirat. Wanita dijaga auratnya dan terlindung atas perbuatan semena-mena.

 

Wanita menurut Islam, begitu dimulyakan. Rasul minta berbakti ke ibumu, sampai 3x, baru berbakti pada bapakmu. Wanita menurut Islam, diistimewakan karena pintu surga terbuka untuk istri yang menurut pada suami.

 

Wanita diangkat derajatnya, karena surga berada di telapak kaki ibu. Wanita dimudahkan, hanya punya 2 tugas, menurut suami dan memenuhi kebutuhannya. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close