Pengalaman Anggota

Reboan Februari 2018

Sore itu, tak seperti biasa, cuaca cerah dan hamparan sawah hijau menyelimuti sekitar Joglo Barat JVR. Menurut yang punya, saat padi umur 3-4 minggu, itu saat yang terhijau di JVR. Beberapa minggu lagi, bunga padi yang semburat cerah mulai muncul, lalu bulirnya tumbuh keputihan, warna sawah sudah mulai berubah lagi.

 

Semua indah, juga saat tandur, pantulan sinar matahari pada kubangan2 air, juga saat sawah siap panen dengan permadani keemasan dengan wajah-wajah ceria para pemiliknya. Begitulah siklus petani di pusatnya pulau Jawa yang sudah berjalan ribuan tahun,

 

Sore itu, burung2 bangau mulai terbang meninggalkan ladang pakan yang melimpah di Sleman, pulang beristirahat di kawasan Bantul di selatan Yogya. Nun di ufuk utara, samar-samar, puncak Merapi dengan lambaian awan tipis, seakan menyambut munculnya dewi Chandra.

 

Reboan di Joglo alit JVR mengupas kilas balik perjalanan Telkom mengikuti roda waktu yang sejak tahun 70an berputar makin lama makin kencang dan meninggalkan artifak2 bukti kenangan masa silam. Beruntung kami yang berdiskusi, jadi saksi hidup bagaimana Telegram, Telegrap, Telex, Pager, Flexi, ADSL satu demi satu berpulang dengan damai mendetikan denyut yang terakhir.

 

Kini, saat Telepon Kawat, yang lebih dari seabad jadi andalan perusahaan ini, mulai goyah, perusahaan gamang. Tidak ada permainan cantik, namun hujatan, cacian dan kekesalan yang tersembur dari mulut pelanggan. PSTN, wired line yang selama ini memberikan sumbangan pada kehidupan bangsa dan ratusan ribu karyawan, pensiunan dan keluarganya tidak mampu menyusun ending-game yang menyisakan kenangan agung yang manis.

 

Diseling kudapan tempe mendoan yang bersaput tepung dan daun bawang hangat serta goreng ketela yang legut, peserta diskusi mencoba menyusun sebuah tesis, “ Bagaimana mengakhiri PSTN dengan elegan”.

 

Bahasan akan mencakup, jasa telephony menjadi bisnis sampingan, masa depan routing dan numbering, akankah engineering mampu terus-menerus meng-upgrade teknologi telepon?, bagaimana dengan pandangan pemegang saham, pelanggan dan stake-holders lainnya?

 

Kupasan itu tentu perlu waktu untuk menyusunnya, mudah2an kami mampu menyelesaikannya. Anda bisa bantu ? (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

 

Tanggapan SSA

Pak Dhon ysh,

Saya membayangkan lokasinya kaya di kampung Leuit didalam  floating market lembang. Ada sawah  menguning, ada saung bergenting kumuh dan pagar  bata  berlumut  dipinggirnya. Pasti JVR lebih indah. Terima kasih telah membawa kenangan suasana  indah.

 

saya nggak tau bisa dan harus berbuat apa. Mungkin karena awam. Sebagai orang yg pernah dihidupi Telkom, melihat pelayanan atas telepon tetap sekarang, sedih bahkan penuh malu.

 

Dalam pandangan awam, saya melihat Telkom seperti perusahaan yang kehabisan akal, kabel udara semrawut, telepon  dua hari mati sehari hidup,  petugas lapangan yang kontemporer tak berseragam, dsb. Kayanya sekedar melaksanakan tugas ala kadar, seperti kehilangan  “ruh” dalam kerja.

 

Apa ini ada kaitan bagaimana perlakuan terhadap “mikul duwur” pensiunan yang dianggap bukan lagi kewajiban. ? Saya ingat kata p Arwin Rasyid, saya sedih atas keadaan ini. Wallohualam. (Sunarto SA)

 

Tanggapan Mur

Masing-2 insan Telkom punya kenangan yang indah-2 ataupun sebaliknya. Semua bisa disumbangkan guna melengkapi ramuan yang akan disuguhkan. Ramuan yang baik adalah ramuan yg bikin Telkom jadi lebih greng buat *pelanggannya* yang utama.

 

Semoga memberikan kebaikan pula buat stake holder lain. Kalaulah tidak, setidaknya stake holder masih bisa tenang karena almamaternya (Telkom) bisa diterima dengan baik oleh pelanggannya. Mungkin bukan berupa eskrim, namun obat atau jamu yg menyehatkan. Waallohua’alam… (Murjanto)

 

Berikut Catatan hasil Laporan Reboan 05 (24/1/18)

Rekan-rekan yang berbahagia,

Hasil diskusi 24 Jan 2018 yang lalu telah kami tindak lanjuti sbb.:

1) Perihal Sumbangan peneliti Pensiunan BUMN, kami kirimkan ke surat pembaca Kompas.

 

2) Perihal PT KAI ramah Lansia (usulan agar ticket Lansia bisa didapatkan via on-line) telah kami kirimkan sebagai surat pembaca Republika

3) Perihal penumpukan lost and found di setasiun Gubeng telah kami kirimkan ke Jawa Pos.

 

Reboan yad, tanggal 28 Pebruari 2018, membahas tentang : “TELKOM, besar karena belajar dari kesalahan”, ringkasan masalah akan segera kami kirimkan. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close