Islam

Yakin Pada Pertolongan Allah

Sebagai seorang muslim selayaknya memegang teguh rukun islam dan rukun iman. Iman kepada Allah swt adalah rukun iman pertama. Rukun pertama ini penting dan memiliki kedudukan tertinggi dalam Islam. Lantas mengapa masih banyak muslim yang tak yakin pada pertolongan Allah?

 

Secara etimologi iman (إيمان) diambil dari kata kerja ‘aamana’ (أمن) — yukminu’ (يؤمن) yang berarti ‘percaya’ atau ‘membenarkan’. Iman secara terminologi diartikan sebagai  pembenaran  terhadap  ajaran  Nabi Muhammad Saw, yakni beriman pada Allah Swt, Malaikat2, Nabi2, Rasul2,  hari  Kiamat,  Qadha  dan  Qadar.

 

Meneladani para Nabi dan Rasul dalam menjalankan amanah dakwah adalah bentuk keyakinan yang utuh dan menyeluruh bahwa dirinya akan ditolong Allah Ta’ala. Sebagai bukti kita bisa belajar misalnya dari apa yang dialami oleh Nabi Yusuf AS.

 

Sejak kecil beliau menghadapi cobaan hidup luar biasa. Beliau didengki saudaranya sendiri, dibuang ke dalam sumur hingga akhirnya dijual ke Mesir, difitnah hingga dipenjara. Pada waktu itu Nabi Yusuf tidak pernah mengalami masa hidup bahagia, kecuali selalu dalam kesulitan demi kesulitan.

 

Tapi, Nabi Yusuf memiliki keyakinan bahwa Allah pasti akan menolongnya. Keyakinan yang kuat dalam kebenaran ini jadi pilihan hidup yang tak pernah tergoyahkan. Komitmen ini tetap dijalankan Yusuf meski harus dihadapkan dengan berbagai  penderitaan.

 

Allah berfirman, yang artinya : “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku” (QS. Yusuf [12]: 33).

Tafsir Ibnu Katsir bahwa : Nabi Yusuf lebih memilih dipenjara daripada melakukan perbuatan keji (kemesuman). Dan, pilihan itu tak mungkin terucap kecuali oleh jiwa yang seutuhnya pertolongan Allah.

 

Riwayat lain menjelaskan mengenai keyakinan pertolongan Allah itu kisah Nabi Nuh AS pada kaumnya. “… bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata pada kaumnya:

 

“Hai kaumku, jika berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (padamu) dengan ayat2 Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkan keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu2 mu (untuk membinasakanku). Janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukan pada diriku, dan jangan kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS Yunus [11]: 71).

 

Pertanyaannya, apa yang membuat mereka memiliki yakin seutuhnya pada pertolongan Allah? Ada hal penting yang bisa kita ambil hikmah dari kisah Nabi Yusuf dan Nabi Nuh AS. Tak ada ketergantungan diri melainkan hanya kepada Allah SWT semata.

 

Dengan demikian, selama niat hidup kita suci murni, ikhlas mengharap ridha Allah, kita tidak pikirkan melainkan hanya maslahat kehidupan umat manusia, yang justru semua kesempitan, kesulitan dan ketidaknyamanan hidup terasa terus menghampiri, dan jangan pernah bingung apalagi putus asa.

 

Insya Allah akan tiba pertolongan-Nya. Dan, bagaimana keyakinan akan pertolongan-Nya akan Allah abaikan sementara terhadap prasangka baik saja Allah langsung jawab. “Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba Ku pada-Ku.” (HR Bukhari Muslim). ***(opch)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close