Psikologi

Konsultan pangsiunan

Dihari tuanya tetap saja dia jadi tumpuan orang lain termasuk curhat anaknya. Suatu saat seperti biasa dia sedang duduk santai diberanda, sebuah beca berhenti menurunkan perempuan muda lusuh raut muka. Dia kenal wajahnya karena itu adalah anak satu satunya yang sudah berumah tangga.

 

Dia memang dekat seperti sahabat, apapun masalah hidup rumah tangga anaknya hampir semua tau.

Kali ini setelah duduk dihadapannya, anaknya bicara:

 

“Pap, siabang kayanya lagi ada perhatian ke perempuan lain, mungkin teman kerjanya. Pulang telat dan sering marah2 dirumah,apapun yang kulakukan seperti masak tidak disentuhnya. Bahkan rasanya seperti ngajak berpisah. Gimana pap, aku juga capai ngurus anak, biar aku yang minta cerai ? ”

 

Mendengar kata yang terakhir, orang tua ini agak terkejut tapi dengan bijak tetap disembunyikannya. Setelah berpikir sejenak, disampaikanlah sebuah strategi bijak kepada anak perempuan semata wayangnya :”Cerai?, justru itu yang abangmu mau, jangan turuti dulu”

 

Dilanjutkanlah instruksinya, perbaiki suasana dirumah, seolah tidak ada masalah. Pakailah baju2 yang dulu sering dipakai pergi berdua. Hidangkan selalu makanan kesukaannya, dan yang penting sapalah selalu dengan tutur kata lembut sedikit berbau merayu, Nggak apa apa, lakukan, sampai muncul tanda tanda dia suka dan betah lagi dirumah.

 

Setidaknya kamu bisa berhasil mematahkan kemauannya. Begitulah, seminggu, sebulan,    anaknya dengan patuh melakukan saran tersebut sekalipun dengan hati terpaksa penuh emosi. (Soenarto SA; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close