Psikologi

Berbagi rejeki dengan caranya sendiri

Beberapa hari yang lalu saya ketemu wong sugih, jaaan …benar2 kaya. Sayang beliau tidak mau disebutkan namanya. Tapi saya tahulah, kalau gak salah inisialnya SSA.

 

Bicara dunia, beliau ini sudah sangat cukup. Bahkan untuk seluruh keturunannya pun, insyaallah terjamin. Yang selalu menarik bagi saya ketika bertemu dengan orang yang begini ini, ingin cari tahu pribadinya. Rupanya beliau punya satu kebiasaan sejak tempo doeloe waktu masih di Kebumen, yaitu mau beli dagangan dari pedagang kecil, meski ia sendiri tidak membutuhkannya.

 

Bahkan, ketika sudah dadi wong sugih (maklum pensiunan Telkom), beliau punya karyawan yang khusus untuk keliling, nyari pedagang sapu lidi, pedagang tembikar, pedagang caping, pedagang kipas anyam, dsb. Biasanya jualannya jalan kaki atau naik sepeda. Penjualnya sudah tua. Beliau berniat membagi rezekinya melalui cara seperti itu.

 

Saya tanya, kenapa tidak diberi sedekah saja kepada mereka ?

Jawaban beliau: “Mereka itu kan sedang ikhtiar, saya tidak ingin merendahkan ikhtiar mereka. Biarlah mereka mendapat 2 kesenangan. Pertama, dagangannya laku; Kedua, mereka tidak putus asa, karena di jaman Now yang banyak mall/toko modern, ada orang yang beli dagangan mereka.” Subhanallah.

 

Dan setelah dibeli, barang itu akan dibagikan kembali oleh beliau ke siapa saja. Mendengar kebiasaan ini, saya yakin. Amalan ini jadi kunci kekayaannya. Karena sebenarnya, entah beliau sadar atau tidak, beliau tengah melakukan 3 amalan sekaligus.

1-Sedekah; 2-Membantu kesulitan saudara sesama muslim. 3-Membahagiakan hati orang lain.

 

Pantaslah kalau kekayaannya luar biasa. Karena Allah telah melihat bahwa beliau ini pantas mengelola harta yang banyak. Ini sekaligus menjadi renungan bagi kita semua, khususnya saya. Apakah sudah ada niat di dalam hati, atas setiap rezeki yang nantinya kita dapatkan akan kita salurkan untuk orang lain?

 

Atau kita hanya berniat mengumpulkan harta, karena ingin nampak kaya raya sendirian saja?

Mungkin kita patut bertanya serius ke hati kita. Jangan sampai semakin kaya, hati ini semakin serakah. Padahal sifatnya harta,  ia akan memberi kepuasan hanya jika ia dibagikan. Dan akan semakin memberikan rasa kurang, jika ia disimpan. (Muchtar AF; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close