RSS Feed     Twitter     Facebook

Kesalahan Umum Pemakaian Antibiotik

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 1 views    Font size:

 (cnnindonesia.com)-Jakarta,  Kesalahan pemakaian antibiotik menyebabkan resistensi atau kondisi di mana obat tak ampuh lagi ‘membunuh’ bakteri. Ini merupakan kesalahan yang sering kali tak disadari, namun berakibat fatal bagi kesehatan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan resistensi antibiotik sebagai ancaman global karena dapat menyebabkan keparahan penyakit, kecacatan, hingga kematian. Berikut sejumlah kesalahan pemakaian antibiotik yang banyak dilakukan masyarakat.

 

1-Beli tanpa resep dokter

Perwakilan WHO Indonesia, Benjamin Sihombing mengungkapkan, beli antibiotik tanpa resep dokter itu kesalahan yang terjadi di negara berkembang. Dia jelaskan, antibiotik hanya dapat digunakan berdasar resep dokter yang sudah menentukan diagnosis bahwa penyakit yang diderita disebabkan  bakteri.

“Di negara miskin dan berkembang, pengawasan pada farmasi lemah sehingga antibiotik bisa dijual bebas dan untuk berbagai penyakit,” kata Benjamin dalam konferensi pers Peringatan Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia atau World Antibiotic Awareness Week di RS UI, Depok, (21/11). Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia diperingati pada 18-24/11/2019.

 

2-Beli Online

Perkembangan digital membuat peredaran antibiotik ikut berpengaruh. Banyak orang mendiagnosis diri sendiri berdasar keterangan di media dan internet lalu beli obat antibiotik seperti amoxcillin secara daring.

 

3-Beli Antibiotik yang berbeda

Banyak masyarakat negara berkembang seperti Indonesia beli obat antibiotik yang tidak sesuai resep dokter. Salah satunya dosis tidak sesuai. “Banyak masyarakat beli obat setengah saja. Atau, kalau kemahalan, cari yang mirip-mirip,” katanya. Hal ini,  terjadi karena kondisi ekonomi yang lemah.

 

4-Menggunakan pada penyakit yang tidak perlu

Antibiotik sering dianggap penyembuh segala penyakit. Padahal, antibiotik hanya boleh untuk penyakit yang disebabkan bakteri dan terbukti melalui uji lab. “Sebanyak 80% penyakit tidak perlu antibiotik,” ujar Ketua Komite Pencegahan Resistensi Antimikroba Nasional, Hari Paraton, dalam saat yang sama.

Umumnya, penyakit ini bersifat infeksi berat seperti infeksi kandung kemih, usus buntu, tipes, radang otak, radang paru-paru, dan TBC. Penyakit yang disebabkan virus, parasit, dan jamur seperti batuk, pilek, flu, radang tenggorokan, campak, cacar air, bisul, dan diare tidak perlu menggunakan antibiotik.

 

(Bahan dari :  https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191121190711-255-450433/kesalahan-kesalahan-umum-dalam-pemakaian-antibiotik)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code