Psikologi

Bukan Keluarga Biasa(4/6)

(duniaarie.blogspot.com)- 4-Lingkungan Kondusif

Lingkungan kondusif seperti itu diakui Omar S. Anwar, Presdir PT Rio Tinto, yang saudaranya juga sukses di lembaga negara dan dunia bisnis. Kondisi sosial (lingkungan keluarga dan sekolah) menentukan perkembangan dirinya. “Kita terekspos, Sehari-hari menyesuaikan diri dengan kondisi itu” kata putra Chairul Anwar (alm), Atase Perindustrian RI di Washington DC 1972-82.

Selain menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan anak, keluarga sukses sangat kuat dalam menanamkan nilai-nilai positif dasar seperti disiplin, tidak malas, berusaha keras, sadar waktu, dan beretika dalam pergaulan bermasyarakat.

 

Soal kedisiplinan, Joyce mengakui ayahnya memberlakukan aturan keras. Sejak kecil diajari berdisiplin. Bila jam pulang sekolah, tiba di rumah tepat waktu. Dalam pergaulan juga. Joyce tak seperti remaja lain yang bebas bergerak ke mana saja. “Kalau teman lain bisa  nonton bareng, saya tak diizinkan. Papa tidak memberi kebebasan pergi. terutama saat SMP,” ujar Joyce yang setelah SMA tetap dikontrol ortunya.

Nilai senada ditanamkan ayahanda Mirta Kartohadiprodjo, Sutan Takdir Alisjahbana. Mirta setelah ujian SMA seminggu dia santai karena kelelahan. Dia bermalas-malasan, tapi dipergoki ayahnya lalu menyuruh bangun. “Kenapa enggak ngapalin vocab Inggris? Kalau bisa 4-5 kata sehari dalam seminggu, dapat 40 kata baru. Perbendaharaan kata akan banyak!’” kata Mirta yang kadang sebal dengan sikap ayahnya yang keras dalam mendidik.

Didikan ketekunan dan kesadaran waktu dirasakan Hendarman Supandji (Jaksa Agung RI) bersaudara yang jadi orang mapan. Diceritakan Hendardji, “Ayah saya tak suka pemalas. Kalau pukul 5 pagi belum bangun dan anak ngolat-ngolet, ayah saya pasti tidak suka. Langsung disuruh bangun, mandi dan shalat!” Hendardji teringat, pernah ada saudara sepupunya dari Tuban yang datang ke rumahnya.

 

Melihat saudara itu hanya duduk, mengopi dan merokok ketika pagi, bapak langsung membentaknya sehingga ia tidak berani datang lagi. “Ijih enom kok keset, mat-matan,” seru ayahnya kala itu berbahasa Jawa yang artinya, masih muda kok malas, enak-enakan.

Selain menanamkan nilai sportivitas, keluarga sukses umumnya membiasakan anaknya meraih prestasi sedari kecil. Mereka didorong jadi terbaik di tempat masing-masing, dan bukan jadi orang rata-rata. Arwin Rasyid, Presdir CIMB-Niaga yang juga mantan Presdir Bank Danamon dan Telkom, mengisahkan ayahnya yang menekankan agar anak berprestasi.

Ayah sering mengingatkan, “Di mana pun, carilah prestasi karena membawa ke kemakmuran. Kalau jadi bankir, jadilah bankir yang baik! Kalau sukses jadi bankir yang baik, pasti dapat rumah dan mobil bagus. Jangan berpikir sebaliknya, bekerja di bank untuk mengejar rumah bagus dan mobil bagus. Yang kita kejar prestasi dulu!” demikian pesan ayah Arwin.

 

(Arie Fiantisca; Bahan dari : http://duniaarie.blogspot.com/2009/08/mereka-bukan-keluarga-biasa.html; Dikutip dari situs http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=8629-FatchurR * Bersambung ………

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close