RSS Feed     Twitter     Facebook

Air dari Pengolah Tinja DKI tak bisa diminum

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 23 views    Font size:
Air dari Pengolah Tinja DKI tak bisa diminum

(tirto.id; Oleh: Naufal Mamduh – 29/5/18)-Wagub mengklaim mesin baru PD Pal Jaya bisa bikin limbah tinja jadi air layak minum. Hal ini disanggah oleh pejabat instansi terkait.

 

Beberapa tahun lalu, Bill Gates, orang terkaya di dunia, mengenalkan mesin Omniprocessor. Fungsinya mengubah feses (kotoran manusia) jadi air segar yang bisa diminum langsung. Mesin semacam ini bakal segera ada di DKI setelah Perusahaan Daerah PAL Jaya memperkenalkan mesin pengolah limbah bernama PAL-Andrich Technical System. Mesin ini diresmikan di IPLT Duri Kosambi  (23/5/18).

Dalam akun Instagramnya, SU, cukup terkesima dengan mesin tersebut. Sandiaga melihat sendiri jika air limbah tinja yang pekat tiba2 jadi jernih setelah diolah hanya dalam waktu setengah jam. “Yang biasanya butuh 7 hari dan jadi air buangan, ini dalam waktu setengah jam bisa jadi air yang bisa diutilitas. Malah layak dimminum.

Seakan ingin meyakinkan yang melihat, dia tampak menadahkan air pada kedua tangannya dan sempat mengarahkan air itu ke dalam mulutnya. Ucapannya menimbulkan pertanyaan, apakah air limbah tinja olahan mesin Andrich bisa diminum?

 

Belum bisa diminum

Pihak PD Pal Jaya lalu menggelar konferensi pers di kantornya (28/5/18). Hal ini perlu mereka lakukan karena kabarnya banyak dibicarakan dan menimbulkan polemik. MUI misalnya, mengatakan bakal mengkaji “kesucian” olahan tinja ini.

Konferensi Pers ini dihadiri Dirut PD Pal Jaya Subekti, Direktur Teknik dan Usaha PD Pal Jaya Erwin Marphy Ali, dan Aris Supriyanto Menager Pengembangan Bisnis PD PAL dan jajarannya. Subekti memperjelas, air ini, tidak diperuntukkan sebagai air minum.

Menurut Subekti, tugas PD Pal Jaya pada dasarnya mengolah air limbah sampai ke baku mutu yang dipersyaratkan oleh aturan daerah. Baku mutu ini membuat limbah aman dibuang ke lingkungan. Mereka tidak bertugas mengelola atau menyediakan air bersih bagi masyarakat. “Tujuan kami memperbaiki kualitas olahan limbah. Jadi tidak untuk air minum”

Menurut Erwin Marphy Ali, ada perbedaan kualitas yang jauh antara air limbah yang layak dikembalikan ke lingkungan dengan air yang layak diminum. Pun demikian dengan parameternya.

Menurutnya, mengukur kualitas air limbah, parameter yang dipakai kadar aktivitas mikroorganisme dalam air (Biological Oxygen Demand/BOD), kadar jumlah oksigen yang dibutuhkan mengoksidasi bahan2 organik di air (Chemical Oxygen Demand/COD), kadar kotoran yang tampak (Total Suspended Solid/TSS), kadar minyak dan lemak, kadar amonia dan kadar total bakteri Coliform.

Untuk mengukur kualitas air layak minum, parameter yang digunakan kadar tingkat kejernihan dan tingkat kesadahan (kandungan mineral tertentu dalam air). “Jadi parameternya beda, dan kami konsennya pada air limbah,” ucap Erwin.

Mesin Andrich punya keunggulan. Mesin ini berhasil membuat kadar BOD dan COD air limbah jadi rendah dibanding air yang diolah secara konvensional (dengan cara biologis). Merujuk pada Permen LHK No.68 / 2016 Tentang Bahan Baku Mutu Air Limbah Domestik, kadar BOD dalam 1 lt air limbah tak boleh lebih dari 30 mg/lt. Air olahan dari mesin Andrich jauh lebih rendah dari itu.

“Si [mesin] Andrich itu BOD-nya tiga [miligram per liter]. Bagi kami dapat angka tiga itu adalah advantage,” ucap Erwin. Pada konferensi pers ini Erwin memaparkan data terkait perubahan jumlah kadar sebelum dan sesudah air limbah diproses oleh mesin Andrich.

Sebelum diolah, air limbah memiliki kadar Ph 7,41, Kadar BOD 224 miligram per liter, kadar COD 587 miligram per liter, TSS 262 miligram per liter, minyak dan lemak 1,3 miligram per liter, kadar amonia 0,0040 miligram per liter dan total Coliform 2.400.000 MPN per 100 mililiter.

Ketika diolah mesin Andrich, hasil penghitungan menunjukkan seluruh komponen di atas jadi lebih rendah. Kadar Ph jadi 7,89, kadar BOD jadi 3,14 mg/lt, kadar COD jadi 7,24 mg/lt, Kadar TSS jadi 5 mg/lt, kadar minyak dan lemak jadi 0,10 mg/lt, kadar amonia jadi 1,66 mg/lt dan total Coliform menjadi 900mpn per 100ml. Warna airnya pun tampak jernih.

Erwin menduga munculnya anggapan air ini layak minum tak lebih euforia yang tak berbasis kajian ilmiah. “Biasalah. Dari air hitam dan berbau jadi bening dan tidak berbau,” ucap Erwin.

 

Bagaimana Mesin Andrich bisa dipakai PD PAL

PAL-Andrich Technical System ini inovasi dari 2 orang yang dulu kerja di bidang industri perminyakan. Mereka Andri dan Chariunnas (nama mesin Andrich diambil dari nama keduanya). Pada November 2016, Andri dan Chairunnas ke kantor PD Pal Jaya, mempresentasikan alatnya. PD PAL terkesan. Subekti memerintahkan Aris Supriyanto, Manajer Pengembangan Bisnis PD PAL, meninjau ke Pekanbaru, Riau.

“Kabarnya di sana ada pabrik minyak yang menggunakannya. Kami kirim tim ke sana mengecek,” ucap Subekti. Kajian dilakukan hingga akhirnya PD PAL Jaya resmi bekerja sama dengan PT MJH Lestari International, perusahaan rintisan milik Andri dan Chairunnas. Uji coba pertama di IPLT Duri Kosambi, Cengkareng.

“Pas dicoba bisa dilakukan buat limbah domestik. Tapi ini tahap pengembangan”. Dalam sehari mesin Andrich bisa mengolah lumpur tinja 80 m3 dan menghasilkan air 46 m3. Waktu pengolahan 30 menit. Ada 3 tahap pemurnian limbah dimesin ini. Pertama Divolved Air Floatation (DAF). Pada tahap pertama ini mesin, lewat bantuan senyawa kimia, memisahkan antara air dan tanah serta unsur-unsur lainnya.

Tahap selanjutnya Andrich (sama seperti nama mesin). Tahap ini gelombang elektromagnetik memecah molekul2 yang banyak terkandung di lumpur tinja. Terakhir, mesin melakukan post treatment. Pada tahap ini limbah disaring lagi dengan pasir serta ultrafiltrasi. “[Proses ini membuat] mikroorganisme jadi lebih sedikit dan dikembalikan [dibuang] ke sungai,” kata Erwin.

Sayangnya, alat berharga Rp1,5M ini belum bisa digunakan massal. Mesin ini perlu dapat sertifikasi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim) Kemen-PUPR, serta sertifikasi dari Kemen-LHK yang belum bisa keluar dalam waktu dekat.

(Reporter: Naufal Mamduh; Penulis: Naufal Mamduh; Editor: Rio Apinino; Bahan dari :   https://tirto.id/air-dari-mesin-pengolah-tinja-dki-jakarta-ternyata-tak-bisa-diminum-cLj4)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code