RSS Feed     Twitter     Facebook

Bung Karno di Sukamiskin berbanding terbalik dengan Napi Koruptor

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 3 views    Font size:
Bung Karno di Sukamiskin berbanding terbalik dengan Napi Koruptor

(seword.com)-Kita pasti terluka melihat keangkuhan aparat dan napi korupsi di Lapas Sukamiskin, mereka hidup mewah bergemilang harta. Hal itu dibuka oleh OTT KPK.

 

Cerita menderitanya hidup di Lapas Sukamiskin diceritakan Bung Karno  (BK) dalam suratnya yang kini jadi cerita sejarah, kesengsaraan BK kontradiksi dengan kemewahan yang dipertontonkan Napi Korupsi  Betapa sakit dan perihnya dibalik jeruji besi, berikut isi surat BK yang menyayat hati anak negeri.

 

Dalam buku “Dibawah Bendera Revolusi” surat itu dengan judul “Surat Bung Karno dari Pendjara Sukamiskin”.

 

Sukamiskin, 17 Mei 1931; Saudara!

Barulah sekarang ada sepucuk surat dari Sukamiskin kepada Saudara. Lebih baik saya katakan daripada tidak sama sekali saya berkirim surat kepada Saudara. Karena orang tangkapan seperti macamku ini hanyalah sekali dalam dua minggu boleh ber­kirim surat.

 

Dua pekan lalu ada jugalah kesempatan bagiku untuk mengirimkan surat. Tetapi kesempatan itu saya pakai untuk memberi kabar kepada isteriku, saya sudah dipindahkan ke Sukamiskin, dan dia boleh datang melihat dan berbicara dengan saja 2x dalam sebulan, serta tidak boleh membawa apa2 sebagai tanda kasih atau oleh2 untukku.

 

Berapakah lamanya? 10 menit. Menerima su­rat bolehlah saya tiap hari: tentu saja diperiksa baik2. Tidak berapa lamanya sesudah masuk ke rumah kurungan, maka saya lalu bertukar pakaian dengan pakaian orang kurungan warna biru, rambutku dipotong hampir jadi gundul, “dimilimeter” bahasa Belandanya.

 

Hampir segala yang saya bawa dari rumah tahanan (di kota Bandung) – itu semuanya diambil. Besok harinya hari besar Islam; jadi saya tak perlu bekerja.

 

Sehari sesudah itu saya mesti pergi berbaris ketempat…… membuat kitab tulisan: disanalah saya sampai sekarang meladeni satu daripada mesin garis dan me­sin potong yang besar2; tiap hari saya kerjakan ber-puluh2 rim kertas: memedat barang, memuat dan membongkarnya.

 

Pada malam hari kalau pekerjaan selesai dan sesu­dah mandi lamanya ditentukan 6 menit, ya, 6 menit, dan membersihkan badan karena kotor oleh minyak mesin yang melekat pada tangan kaki dan pipi, kalau saya sudah makan, makan nasi merah dengan sambal sederhana, maka besarlah hati saya karena kembali ke bilik kecil yang besar 1,50 x 2,50 m, sehingga dapat melepaskan Ielah pekerjaan se-hari2.

 

Badanku letih lesu, dan otakku se-olah2 tertidur (lethargie), sehingga kitab yang terbuka, di hadapanku tidak terbaca lagi, dan beladjarpun tak ada hasilnya.  Sebentar lagi pukul sembilan cahaya mesti digelapkan dengan tidak dapat disangkal lagi; baiklah begitu, karena hari ini sudah bekerja keras, dan besoknya bekerja keras lagi, dan ke-dua2nya memaksa saya mesti lekas pergi tidur.

 

Boleh juga pergi ke bilik tempat ber-main2, ke recreatiezaal. Di sana boleh bermain dan bermain catur; dapat membaca kitab perkara sport, pemandangan dan kitab yang berdasarkan agama, membaca di tengah2 saudara2ku yang sedang bersuara; dapat juga berkata-kata.

 

Tetapi hati dan badan yang haus tiadalah dapat dipenuhinya; itu menurut perasaanku. Itu sebabnya, maka saya hanya se-kali2 saja pergi ke sana; biasanya malam hari saya berkurung dalam bilikku. Saya coba2 mengusahakan supaya waktu dalam bilik kecil ini besar hasilnya. Sampai sekarang percobaan itu tak ada manfaatnya. Karena tadi saya katakan: saya tak dapat belajar dengan baik, karena badan payah.

 

Otak se-olah2 dapat penyakit kekurangan darah (anemia) sehingga tak banyak yang dapat diterima dan dipikirkan; otakku lekas benar penuh isinya, lekas payah. Alangkah baiknya, sekiranya ada surat kabar. Tetapi  surat-kabar2 ditahan, begitu juga surat berkala; sedangkan “d’Orient” tak boleh saya terima.

 

Bibliotik rumah kurungan ini lebih dimaksudkan sebagai pelepas lelah dan mempertebal perasaan agama daripada belajar. Kitab pengetahuan hanya sedikit; untuk keperluanku, yaitu perkara sosial dan sosiologis tidak ada sama sekali. Memasukkan buku sendiri hanya diizinkan dengan pemeriksaan keras.

 

Dahulu dalam rumah kurungan di Ban­dung, dapat juga saya meneruskan pelajaranku perkara pergaulan hidup dan sejarah, walau dengan beberapa perjanjian yang berat2. Tetapi sekarang pelajaran ini, yaitu untuk mengetahui pergerakan pergaulan hidup, syarat2 pergerakan dan per­gaulan orang Timur, semua terpaksalah saya hentikan, tak dapat diluaskan lagi.

 

Bagaimana jadinya? Hanyalah ini Sukamiskin ialah tak lebih daripada suatu rumah kurungan dan saya ini tak lebih daripada seorang orang hukuman; seorang manusia yang mesti menyembah larangan dan suruhan, seorang manusia yang mesti melupakan kemanusiaannya.

 

Dahulu dalam rumah tahanan hidupku dibatasi, se­karang batasnya bertambah sempit lagi. Segalanya di sini dikerjakan dengan suruhan komando: makan, pulang balik ke tempat bekerja, makan, mandi, menghisap udara, keluar masuk bilik kecil, semua dikerjakan seperti serdadu berbaris; semua se-olah2 disamakan dengan suatu derajat, tempat kemauan merdeka mesti dihilangkan.

 

Orang hukum­an tiada lain dari seekor binatang ternak ; orang hukuman menurut kata pengarang D’erman ‘Nietzsche, ialah manusia yang dijadikan manusia yang tiada mempunyai kemauan sendiri, seperti binatang ternak.

 

Sayang benar hati kita kepada Nietzsche! Kalau dicoba menghidupkan seorang “Uber-Mensch”, dalam suatu rumah kurungan, yaitu orang yang lepas dari segala kebaikan dan keburukan, tentu sia2 belaka.

 

Alangkah heran hatinya, setelah dibacanya kembali kitabnya, “Zarathustra”! Seperti saya ini tinggal dalam bi­lik kecil pada malam hari dipandangnya sebagai keburukan yang terkecil; tinggal dalam kandang sempit, tempat manusia dapat insyaf akan dirinya, tempat manusia dapat mengemudikan sedikit2, walau dibatasi betul2.

 

Saya akan dibenarkan, kalau saya lebih suka dibuang 3 tahun daripada dihukum 2½ tahun dalam rumah kurungan. Tetapi entah dimana ada tertulis kalimat ini: “Walau dimana sekalipun, patutlah kemajuan diusahakan!” Hatiku tinggal tetap: selalu insyaf akan diriku; tak pernah saja me­lupakan suara hatiku.

 

Dan selalu mengusahakan kemajuan2 itu, dulu atau sekarang. Barang siapa yang tidak berusaha menuju derajat Uber-Mensch, itu tandanya ia tak tahu  suruhan kemaju­an. Korban yang se-benar2nya dilakukan tidak akan terbuang saja; bukanlah Sir Oliver Lodge mengajar “no sacrifice is wasted” (bahasa Jawa “Jer basuki mawa bea)”

 

Kesimpulan dan Penutup

Dirjen Kemenkum-HAM HAM Sri Puguh BU minta maaf ke rakyat atas kejadian di Lapas Sukamiskin. Tapi Maaf bukan solusi, karena kejadian semacam ini sudah ber-kali2, artinya Kemenkumham tidak belajar dari kesalahan selama ini. Semoga untuk selanjutnya ada solusi yang dapat mencegah kekeliruan2 itu

 

(Yolis Syalala; Bahan dari :   https://seword.com/umum/kesengsaraan-bung-karno-dalam-surat-di-sukamiskin-berbanding-terbalik-dengan-napi-korupsi-SJ3WL5QE7)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code