Iptek dan Lingk. Hidup

Penjelasan Pakar Sejarah Bagaimana Pandemi Akan Berakhir(2/4)

(merdeka.com)- Wabah Pes dan  Kenangan Gelap

Wabah pes melanda beberapa kali dalam 2.000 tahun terakhir, membunuh jutaan orang dan mengubah arah sejarah. Setiap epidemi memperkuat ketakutan yang datang dengan wabah berikutnya.

 

Penyakit ini disebabkan sejenis bakteri, Yersinia pestis, yang hidup pada kutu tikus. Tetapi penyakit pes, yang dikenal sebagai Maut Hitam (Black Death) juga dapat ditularkan dari orang yang terinfeksi ke orang lain melalui cairan pernapasan, sehingga tak dapat diberantas hanya dengan membunuh tikus.

 

Sejarawan Universitas John Hopkins, Mary Fissell mengatakan, sejarawan menggambarkan tiga gelombang wabah besar: Wabah Justinian, pada abad ke-6; epidemi abad pertengahan, pada abad ke-14; dan pandemi yang melanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

 

Pandemi abad pertengahan dimulai 1331 di China. Penyakit itu, dan perang saudara berkecamuk pada saat itu, menewaskan separuh penduduk China. Dari sana, wabah menyebar ke sepanjang rute perdagangan ke Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Antara 1347 dan 1351, pandemi menewaskan setidaknya 1/3a dari populasi Eropa. Setengah dari populasi Siena, Italia, meninggal.

 

”Tidak mungkin bagi lidah manusia menceritakan kebenaran yang mengerikan ini,” tulis penulis sejarah abad ke-14 Agnolo di Tura.  “Orang yang tidak melihat kekejaman seperti itu bisa disebut diberkati.” Yang terinfeksi, “membengkak di bawah ketiak dan di pangkal paha, dan jatuh saat berbicara.” Orang mati dikubur dalam lubang, ditumpuk.

 

Di Florence, tulis Giovanni Boccaccio, tak ada bentuk penghormatan dipersembahkan pada yang wafat, bahkan perlakuannya jauh lebih buruk daripada perlakuan terhadap kambing yang mati di era sekarang.

 

Beberapa orang bersembunyi di rumah. Yang lain ketakutan dengan ancaman wabah ini. Cara mengatasinya, tulis Boccaccio, “minum banyak, menikmati hidup, menari, menyanyi dan bergembira, dan memuaskan keinginan saat ada kesempatan, dan mengabaikan semua sebagai satu lelucon besar.”

 

Pandemi itu berakhir, tapi wabah itu muncul lagi. Salah satu wabah terburuk dimulai di China (1855) dan menyebar di dunia, menewaskan lebih dari 12 juta orang di India. Otoritas kesehatan di Bombay (Mumbai saat ini) membakar seluruh lingkungan untuk menyelamatkan mereka dari wabah itu. “Tidak ada yang tahu apakah itu berhasil,” kata sejarawan Yale, Frank Snowden.

 

Penyebab Wabah Pes Mereda

Dr Snowden mengatakan, tak jelas apa yang membuat wabah pes mereda. Para ahli berpendapat, cuaca dingin membunuh kutu pembawa penyakit, tapi tak menghalangi penyebaran via saluran pernapasan. Atau mungkin karena perubahan pada tikus. Abad ke-19, wabah itu tidak dibawa tikus hitam melainkan tikus coklat, yang lebih kuat dan lebih ganas dan cenderung hidup terpisah dari manusia.

 

Hipotesis lain, bakteri berevolusi jadi kurang mematikan. Atau karena tindakan manusia, seperti membakar desa untuk membantu menghentikan epidemi. Penyakit itu tak pernah hilang. Di AS, muncul endemik pada anjing padang rumput di wilayah Barat Daya dan dapat menular ke manusia.

 

Snowden mengatakan, temannya terinfeksi setelah tinggal di hotel di New Mexico. Penghuni kamarnya sebelumnya memiliki seekor anjing, yang berkutu membawa mikroba.

 

Kasus seperti itu jarang terjadi, dan kini berhasil diobati dengan antibiotik, tetapi setiap laporan dari kasus wabah menimbulkan ketakutan.

 

(pan; Hari Ariyanti;  Bahan dari : https://www.merdeka.com/dunia/penjelasan-pakar-sejarah-tentang-bagaimana-pandemi-akan-berakhir.html)-FatchurR * Bersambung…….

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close