Psikologi

Etika mengkritik

Sahabatku,
Ada pertanyaan menarik dari salah seorang melalui BB. Bagaimana perasaan Anda ketika ada orang yang mengomentari tulisan Anda seperti ini: “Alangkah indahnya hidup ini bila dalam setiap kalimat atau kata-kata mulia yang tersurat lewat tulisan, benar-benar tersirat dari lubuk hati yang mulia pula, dan dipadu dalam perbuatan nyata dalam kehidupan dunia. Sungguh indah dan mulia orang yang berbuat kebaikan dengan langkah nyata daripada sekadar berkata tanpa menjalankan apa yang dikatakannya. Jangan hanya bisa berkata-kata di dunia maya.”
Saya jawab, bahwa itu merupakan komentar yang sangat bagus. Alhamdulillah, orang yang mau mengomentari tulisan saya, walaupun bersifat kritikan atau sindaran, saya doakan mudah-mudahan mendapat kebaikan dari Allah Swt. Saya hanya berpesan, mengritik orang baik-baik saja, apalagi memberikan kritik yang sifatnya membangun.
Tetapi kalau kritikannya meledak-ledak dengan mengumbar emosi hanya karena “keinginannya” belum terpenuhi, apalagi jika kata-kata yang dilontarkan sudah “dinodai” dengan sumpah serapah sampai menyinggung perasaan orang lain, maka niat yang semula baik bisa menjadi sia-sia. Hanya akan menurunkan reputasi dirinya. Sayang kan? Karena itu, jangan berprasangka buruk kepada orang lain. Bisa jadi prasangka buruk tersebut akan kembali kepada pemiliknya.

Sahabatku yang baik,
Apa benar memberikan kritik kepada orang lain itu ada etikanya? Perlu kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tuhan telah melengkapi manusia dengan kemampuan berpikir dan berkomunikasi. Kepandaian dalam berkomunikasi seseorang, ternyata harus selalu diasah dan dikembangkan, dan perlu dilengkapi lagi dengan etika, terutama ketika komunikasi tersebut ditujukan untuk mengritik orang lain yang dianggap tidak sejalan dengan pikirannya.
Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki kekurangan atau kelemahan seseorang. Bukan untuk menjatuhkan atau mempermalukan orang yang memiliki kekurangan atau kesalahan. Kritik yang disampaikan di depan umum adalah termasuk tindakan yang mempermalukan.
Di era demokrasi ini, orang boleh menyampaikan kritik dan mengemukakan pendapat tentang apa saja dan di mana saja, atas ketidak puasannya, baik melalui media cetak dan elektronik, sms, milis atau situs seperti blog, website, twiter, dan facebook. Ada juga yang memanfaatkan massa untuk menyampaikan keinginan atau aspirasinya, yaitu melalui unjuk rasa. Semua orang memang berhak untuk menyampaikan apa yang mengganjal di hatinya, dan itu dilindungi undang-undang. Namun yang menjadi masalah, sering kali kita dihadapkan pada kritik yang liar dan tanpa etika.
Dalam sebuah organisasi, budaya kritik mengritik juga tumbuh dan berkembang berdasarkan tingkatannya. Bawahan mengritik atasan, atasan mengritik bawahan, dan sesama bawahan juga saling mengritik. Sayangnya, kebanyakan orang bukannya memberi ide untuk melengkapi dan menyempurnakannya, tetapi lebih senang mengangkat sisi negatifnya. Mengapa demikian?
Sadar atau tidak, kritik sudah menjadi bagian dari kesenangan seseorang. Kegiatan mengritik terkadang dianggap sebagai kegiatan yang membanggakan, dan hanya dimaknai sebagai kegiatan untuk menunjukkan kehebatan dirinya, atau untuk bisa menyalahkan orang lain. Sebenarnya, menemukan kekurangan orang lain bukanlah sesuatu yang sulit. Itu mudah dilakukan. Hanya saja, terkadang ibarat kuman di seberang lautan nampak jelas, sedangkan gajah di pelupuk mata tak terlihat.
Mengritik tidaklah dilarang, asal bertujuan baik, yaitu bersifat membangun, logis, beretika, berdasar, menjaga kesantunan, dan memberikan solusi yang lebih tepat. Solusi tentu hanya bersifat penawaran. Artinya, kita tidak berwenang untuk memaksa orang lain mengikuti keinginan kita, kecuali hanya mengingatkan. Dalam mengritik, harus memperhatikan situasi dan kondisi.

Sahabatku,
Agar kritik dapat produktif, menuju perbaikan, dan tidak memperburuk keadaan, maka dalam mengritik harus menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Jika Anda mau menyampaikan kritik kepada seseorang, pahamilah terlebih dahulu permasalahannya. Jangan mengritik tanpa menguasai permasalahan yang sebenarnya. Jika Anda tidak menguasainya, lebih baik diam. Kalau tidak, dikhawatirkan akan menimbulkan kesalahpahaman dan akan menambah masalah baru.
Berikan kritik dengan cara yang sehat, yaitu dengan menunjukkan bukti–bukti terjadinya kekurangan atau kesalahan, bukan hanya sekadar menyebutkan adanya kekurangan atau kesalahan yang tidak bisa dibuktikan, yang cenderung membawa kepada pertikaian. Sampaikan kritik dengan adil, yaitu memberikan solusi agar bisa keluar dari kondisi jelek menuju yang lebih baik, dan dari kondisi salah menuju yang benar.
Kritik mengritik sebenarnya bukanlah hal yang buruk, malah bisa menjadi penyemangat untuk berubah menjadi lebih baik bagi pihak yang dikritik. Kritik yang konstruktif dan berlandaskan etika, yaitu yang disampaikan dengan baik, tepat waktu, dan tepat sasaran, adalah kritik yang sangat bermanfaat. Jika kita mengritik orang lain tanpa memperhatikan etika, niscaya akan membuat diri kita tidak disukai orang. Orang akan berusaha menghindar dan tidak suka bertemu dengan orang-orang yang terlalu sering mengritik, apalagi jika kritik yang disampaikan tidak pada tempatnya.
Berhati-hatilah jika Anda termasuk tipe orang yang suka mengritik. Ingat bahwa satu kritikan yang dianggap sebagai kata-kata biasa oleh Anda, bisa menimbulkan luka, menyulut permusuhan, dan rasa dendam. Karena itu, tahanlah diri Anda dalam memberikan kritik dan komentar-komentar spontan yang negatif. Kritik yang didasari kedengkian hanya akan cenderung menyakiti, dan yang dikritik akan merasa terhina. Hasilnya, bukannya perubahan melainkan kebencian dan permusuhan.
Kritik yang baik harus diawali dengan niat yang baik, niat ingin membantu agar bisa memperbaiki kesalahan, atau kekeliruannya agar menjadi lebih sempurna. Kritik hendaknya disampaikan dengan bahasa yang santun, dan dengan cara yang lembut. Kritik yang disampaikan dengan kasar, cenderung mengakibatkan perdebatan panjang.
Jangan sekali-kali Anda menyampaikan kritik yang pedas di hadapan orang lain, apalagi di tempat umum seperti di Facebook ini. Selain membuat orang tersebut malu, juga kurang etis. Sampaikan kritik Anda ketika orang tersebut sedang sendirian, dan perhatikan suasana hati orang yang akan Anda kritik.
Sebetulnya, kritik sama sekali tidak berbahaya, bahkan bermanfaat. Yang berbahaya adalah sikap anti kritik dan marah kepada orang yang mengritisi, dan hanya sibuk membela diri. Simak dengan seksama, jangan tergesa-gesa ingin membantah, apalagi balas mengritik. Sikapi saja dengan rasa hormat dan ucapkan terimakasih, niscaya kritik yang kita terima akan bermanfaat dan menambah kemuliaan. Karena itu, jadikan kritik, saran, dan koreksi dari orang lain menjadi kebutuhan.

Bandung, 3 April 2013

Wassalam,
Muchtar A.F

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close