Psikologi

Pernikahan adat Jawa

Sejak th 1965 kami hidup di Bumi Parahyangan. Tanggal 08/06/13,  kami menghadiri undangan pernikahan salah satu putra teman di daerah Pada Suka Bandung (Ngunduh manten) dgn menyuguhkan acara yg menarik buat kami, namun belum tentu menarik buat Orang lain.

Sudah 48 th. menginjak Kota Bandung,  baru kali ini melihat Upacara pernikahan dengan suguhan Papag/Jemput penganten dengan Upacara Adat Jawa. Penganten bagaikan seorang Raja, dikawal beberapa Ponggawa Kerajaan.

 

Selesai Upacara, dilanjutkan acara “Pagelaran Wayang Kulit” dgn lakon “Pendowo Sesuci”, dibawakan sekaligus oleh 3 orang dalang dari Surakarta.(Di Bumi Jateng & Jatim, mungkin sudah biasa, namun di Jabar memang kelihatan agak asing).

 

Sambil menonton, kami merenungkan Sikon saat itu. Yg hadir usia rata2 diatas 50 th. Generasi muda sangat minim dan kelihatan mereka menggrombol berbincang di dunianya sendiri, kurang memperhatikan jalannya Acara.

 

Dua generasi yad; akankah Budaya semacam ini luntur ditelan masa ?? Bila dibandingkan Acara Consert dan pagelaran Musik lainnya yang ke-barat2an….waahh…penonton generasi muda membludak, meskipun tarip sangat  tinggi untuk ukuran Pensiunan.

 

Hebatnya PR Asing/Barat memasukkan Budaya Barat ke Nagari RI. Demikian juga hal lain,  aktivitas…..Ziarah kubur…. ke para Leluhur…kayanya Generasi muda sudah kurang menarik.

Sangat memprihatinkan.(+Tjt+)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close