Iptek dan Lingk. Hidup

Penipuan di Singapore

Pham Van Thoai (28), hanyalah seorang buruh pabrik di Vietnam dengan upah 200 dollar Singapura (Rp. 1,9 juta) per bulan, tetapi moral yang dimilikinya jauh lebih tinggi daripada Jover Chew, seorang pengusaha pemilik beberapa toko gadget di Singapura.

 

Kalau Chew yang seorang pengusaha demi memperoleh beberapa ratus dollar Singapura tega memanfaatkan ketidaktahuan turis-turis yang membeli gadget di tokonya, — seperti Pham –, dengan menipu mereka, tidak demikian dengan Pham.

 

Meski kesempatan memperoleh gratis satu unit iPhone 6 baru, seharga 15.000 dollar Singapura (Rp. 138 juta) dari donatur para netizen yang simpatik padanya terbuka lebar, dia tidak tergoda menerimanya. Pham hanya mau menerima 550 dollar dari seluruh donasi itu, atau persis jumlah uang yang hilang dimakan Chew dalam aksi penipuannya terhadap Pham yang mengguncang dunia maya itu.

 

“Saya menerima 550 dollar (Singapura) dari pebisnis dan juga telah membeli iPhone 6 tersebut.Saya sangat berterima kasih terhadap kebaikan Anda semua, tetapi saya tidak ingin menerima lebih dari yang saya perlukan,” ujar Pham Van Thoai, Jumat (7/11/2014), sebelum meninggalkan Singapura.

 

Pemrakarsa pengumpul dana untuk disumbangke Pham Vam Thoai itu pengusaha Singapura (Gabriel).  Gabriel marah ketika pertama berita itu, lalu muncul inisiatifnya menggalang dana dari pengguna internet untuk membantu Pham. Penggalangan dana itu tanggal 5 – 7/11/2014, terkumpul lebih dari 15.000 dollar Singapura.

 

Dari danaitu sebagian dipakai membeli iPhone 6 untuk diberikan kepada Pham, sedang seluruh uang sisanya hendak diberikan kepada Pham oleh Gabriel. Ternyata Pham hanya mau menerima 550 dollar itu.Tidak lebih dari itu.

 

Ditambah 400 dollar yang dikembalikan Mobile Air (toko milik Jover Chew yang menipu Pham) setelah ada campur tangan dari Asosiasi Konsumen Singapura (Case), Pham sudah membeli sebuah iPhone 6, yang diberikan kepada pacarnya sebagai hadiah ulang tahunnya itu.

 

Dia menolak iPhone 6 lagi yang hendak diberi Gabriel.Dari jumlah uang donasi kepadanya itu, Pham hanya mau menerima 550 dollar itu.”Pham dan pacarnya adalah orang baik, mereka mengundang saya ke Vietnam dan berterima kasih saya merintis gerakan ini.Mereka terkejut netizen tulus menolong orang asing yang tidak dikenal,” ujar Gabriel kepada Channel News Asia.

 

Namun, Pham mau menerima bingkisan makanan khas Singapura seharga 200 dollar Singapura, (Rp 1,8 juta. Gabriel dapat memahami penolakan Pham menerima iPhone 6 itu. Chew harusnya malu terhadap Pham, dan dengan ikhlas meminta maaf kepadanya, serta mau memetik pelajaran dan pesan moral yang telah diberikan kepadanya. Juga kepada kita semua.

 

Kekayaan tidak menjamin seseorang itu kaya moralnya, malah bisa mematikan nuraninya jika ia telah diperhamba uang. Hati Chew dan pegawainya telah dikeraskan oleh hawa nafsu mendapat uang sebanyaknya dengan menghalalkan segala cara.

 

Karena dengan matinya nurani saja, seseorang tidak akan tersentuh perasaan, sisi humanisnya, meskipun korbannya adalah orang kurang punya, yang relah bersujud, berlutut dan menyembah-nyembah kepada mereka.

 

Orang yang lemah secara ekonomi (miskin), malah kaya moralnya, sehingga nuraninya senantiasa hidup mengontrol perbuatannya.Uang-harta kekayaan penting, tetapi baginya bukan segalanya.Dia tidak mau mengambil lebih dari yang seharusnya.Keserakahan, ketamakan tak ada pada hati Pham yang mulia.

 

Latar belakang Pham dan sikapnya yang polos-tulus mengundang simpatik netizen. Jover Chew, yang sedikitpun tidak memperlihatkan rasa bersalah dan penyesalannya.  Setelah kasus Pham, pihak berwenang juga menerima belasan laporan serupa dari para korban penipuan Mobile Air itu.

 

Dari kasus Pham itu, Jover Chew  harus menerima hukuman moral dari netizen itu; dia di-bully dan dicerca habis di berbagai media sosial, seperti Twitter dan FB.Berbagai informasi pribadi Chew disebarkan : Alamat rumah, alamat toko yang dimiliki, nomor telepon, dan gambarnya yang diparodikan dalam pose setengah telanjang sedang menggunakan alat simulator masturbasi.

 

Misalnya, di FB yang diparodikan sebagai Face-Book-nya Chew, selain foto-fotonya yang diparodikan, juga tercantum keterangan seperti ini:

 

“The official Jover Chew Feedback Page. Warranty for that another 1.5k Thanks you!”

“See I got many shop. Need to get suppliers to scam more!”

Exile Jover chew and his wife out of Singapore, or we can expose his dirty deeds.

Do we want such scammers be in Singapore? NO! STOP THEM FROM SCAMMING AND REAPING BENEFITS !

 

“Disclaimer: By visiting this page, you agree to understand this is a parody page and that we have no relations with any mentioned names or entities. If you read this until here, you are now required to pay me another 1k for warranty. You’re welcome.

 

Tidak tahan, Chew menutup sementara toko Mobile Air-nya itu.Bukan hanya dia, bahkan istrinya ikut terkena getahnya.Dia juga ikut diserang di dunia maya. Yang disebarkan netizen itu, selain Mobile Air, Chew juga memiliki jaringan toko J2 Mobile yang dikelola atas nama istrinya. Namun pada akun Face Book-nya, istri Jover menulis pembelaan diri dan menyebut bahwa tokonya, J2 Mobile tidak terlibat dengan bisnis Mobile Air.

 

Istri Chew melaporkan para pelaku serangan kepadanya itu ke polisi.Jover Chew boleh bebas secara hukum , meski diduga melakukan penipuan dengan modus yang sama terhadap belasan korbannya, tetapi tidak demikian dengan hukuman moral. Itu sudah dijatuhkan dengan sangat keras kepadanya di dunia maya.Sampai istrinya pun harus menanggung dampaknya.

 

Dunia maya, terbukti sering keras kepada mereka yang mempunyai perilaku tak terpuji secara moral, seperti yang terjadi pada Jover Chew ini. *** (Daniel H.t. ; Sumber: Pham Van Thoai; Kompas.com dan http://m.kompasiana.com/post/read/685438/3/pesan-moral-dari-kasus-penipuan-di-singapura.html)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close