Iptek dan Lingk. Hidup

IMT-2010 sempurnakan Standar 5G

Perkembangan 5G makin gencar, padahal setahun lalu masih banyak yang meragukan apakah 5G akan bisa beroperasi tahun 2020. (IMT-2020 makes progress in developing 5G standard / http://www.itu.int/net/pressoffice/press_releases/2016/07.aspx#.Vu9UDuJ94dU)

Suatu teknologi baru ramai bila mendekati penyelesaian standar dan para produsen sudah yakin dia menguasai atau akan memiliki bagian dalam pasar. Kita tahu untuk menguasainya harus berebut dan berkeringat, tidak ada yang mau menyodorkan gratis kemampuan teknologinya kecuali kebagian membelinya, menjadi pasar saja.

Oleh karena dalam ulasan saya tgl 17 Desember 2015 terkait kirman IEEE yang dapat memberikan inspirasi sekaligus peringatan kepada kita mengenai mendesaknya jaringan TIK bagi IMT-2020 atau 5 G.. agar kita dengan rajin mengikuti Study Group ITU-T dan ITU-R.

Dalam ulasan yang diperoleh dari tautan di atas, kita bisa merasakan bila kita tidak ikut berpacu, aktif, dan inovatif cari jalan keluar mengatasi kekurangan2 kita, dan puas dengan hasil penelitian, pengembangan, dan produksi dalam negeri yang ada misal tentang 4G, maka Indonesia jadi pasar besar saja, atau paling2 menjadi kepanjangan tangan assembling produk negara industri.

Indonesia yang penduduknya nomor 4 dunia, kok hanya jadi pasar. Apakah kita merasakan hal ini atau hanya tahu dan setuju untuk Industri Dalam Negeri. Berbagai Peraturan Menteri yang mengharuskan konten lokal dan IDN, direkayasa sedemikian sehingga yang untung bukan kita. Dan apabila kita berani menetapkan prosentase IDN akan diprotes dan dituntut WTO.

Negara2 industri bisa menekan kita di bidang lain, misal pemboikotan hasil pertanian atau industri konsumen lain. Jadi proteksi perlu diusahakan terus, di sisi lain harus didukung kekuatan konkrit seperti R&D yang tidak tanggung2 dan cepat puas dengan hasil. Ambisi kita harus makin tinggi, misalnya sasarannya adalah juga produksi untuk negara berkembang lain, baik di Asia Pasifik maupun Afrika.

Jadi sekali lagi dorongan dan kemampuan untuk mengetahui apa yang dapat diraih dalam teknologi, harus disertai keikutsertaan dalam Studay Groups ITU-T dan ITU-R. Baru setelah itu kita bisa merasakan, memilah-milah kapan kita mulai, dan apa yang dapat diusahakan dari awal untuk Penelitian dan Pengembangan.

Baiknya pemerintah mengikut sertakan dengan konsisten sumber daya keahlian yang ada di Universitas maupun perusahaan IDN yang ada, secara berkesinambungan dan dengan target ukur waktu dan hasil nyata.

Bukan untuk mendengarkan dan mengerti saja, melainkan untuk ikut aktif dalam penyusunan standar ditinjau dari kepentingan Indonesia sebagai negara berkembang yang akan berbeda dengan negara maju.

Saya kutipkan sekali lagi inti dari ulasan sebelumnya seperti di bawah ini.
Pada saat teknologi 5G diperkenalkan maka pitalebar harus tersedia, yaitu 1Gbps (hingga 10 Gbps) ke setiap pelanggan, apabila kita ingin memperoleh layanan benda-ke-benda (Internet of Things, IoT) atau komunikasi tipe mesin (machine type communication, MTM).

Andaikatapun kita mau menjadi pasar saja dan membeli lagi terus menerus, bukan merupakan penyelesaian, karena jaringan pitalebar harus kita sediakan sendiri, tidak mungkin dibeli.

Memang belum kita bayangkan bahwa kecepatan harus demikian tinggi. Ini sama saja saat kita belum mengalami peran dari jalan tol karena kita hanya tahu jalan bukan tol antara Bandung – Jakarta saat itu.

Demikian juga saat kita belum memiliki SKSD Palapa (bagi generasi yang mengalaminya) harus berbicara berteriak2 dari kantor telepon ke kantor telepon (bukan dari rumah) bila mau bicara dg kota di luar Jawa. Tidak terbayang menggunakan SKSD Palapa seperti berbicara dengan teman di sebelah kamar.

Access Now.
Apabila kita puas dengan jaringan 5G di Jakarta dan kota2 besar saja, itupun tidak menyelesaikan, karena basis pelanggan kita akan terbatas, di samping akan menimbulkan kesenjangan fasilitas, sosial, ekonomi, dan politik, yang tidak terbayangkan.

Sebaiknya kita segera sadar dan percaya, bahwa “Kekuatan suatu rantai (Bangsa dan Negara) ditentukan oleh kekuatan matarantai terlemah (Desa, Daerah terpencil, dan Pulau Terluar)”.

Keadaan saat ini juga keadaan yang banci, kita sudah bangga menggunakan teknolog 4G, di sisi lain jaringannya tidak memenuhi sama sekali, walaupun perangkat terminalnya memang 4G.

Jaringan nasional keseluruhan kita akan menentukan dapat tidaknya menggunakan 4G yang benar, bukan jaringan kota, bukan asal rumah kita tersambung dengan serat optik (SO), yang akan mubazir.
Bahkan jaringan ke luar negeri ikut menentukan kecepatan Internet kita. Dan akses ke LN mahal apabila membeli secara eceran.

Oleh karena itu sebaiknya dana daya dari setiap operator TIK disinergikan untuk memperoleh akses ke LN bersama yang besar, dan tidak bangga memiliki akses ke LN sendiri2. Oleh karena dengan berkas besar kita memiliki kekuatan negosiasi lebih besar sehingga bisa lebih murah. Bandingkan naik bis atau taksi.

Saat atau menjelang 5G diluncurkan, kita punya kabel laut dengan negara besar seperti AS, Jepang, Eropa, dsb. Ya, negara lain boleh saja nebeng. Atau dengan adanya MEA (masyarakat ekonomi ASEAN) kita bersama2 memiliki kapasitas yang amat besar puluhan atau ratusan Tbps (1 Tbps= 1000 Gbps).

Jangan tertawa dahulu. Apabila ada 100 juta pelanggan pakai akses 1 Gbps, walaupun dipakai tidak bersamaan, (1-2% bersamaan, dan 1-2% perlu Internet atau ke LN) maka diperlukan 10-40 Tbps kapasitas ke LN.

Ini baru teori kuno berjenjang, yang akan tidak berlaku lagi saat pitalebar tersedia, dengan trafik akan melejit, sama seperti kita bandingkan trafik sebelum ada dan setelah ada jalan tol.

Kemampuan Akhli Dalam Negeri dan UKM-Manufaktur
Hahaha, akhirnya saya himbau agar kita mulai percaya akan kemampuan akhli dan konsultan dalam negeri, dan percaya akan kemampuan UKM-Manufaktur dalam negeri yang memang kucel pakainnya dibandingkan akhli dan perusahaan multi-nasional yang wangi dan memberikan segala fasilitas.

Informasi yang diberikan perusahaan multi-nasional tentunya tidak terlepas dari kepentingan industri mereka. Misalnya contoh informasi yang diberikan salah satu perusahaan multinasional kepada Menkominfo tentang peluncuran 5G baru 10 tahun lagi, th 2025.

Saya katakan kepada beliau th 2020. Ini tentu bukan salah Menteri, tetapi info yang diberikan perusahaan tsb menjebak kita, agar jangan repot dan agar kita berleha-leha. Padahal ITU-R sudah membicarakannya sejak tahun 2012.

Dan bisa dipastikan, sebelum dibahas di ITU-R, akhli2 industri terkait menyiapkannya minimal 5 tahun sebelumnya. Bayangkan! Perusahaan multi-nasional ini pasti tahu karena juga anggota dari 3GPP. Jadi pada saat IMT-2000 baru dicanangkan, para akhli industri multi-nasional sudah menggagas IMT-2020 (5G).

Jaringan 3G Merata Hingga Pelosok
Loh, mengapa kok 3G, bukankah sekarang sudah ada perangkat 4G buatan dalam negeri? Begini ya.
Kita sebaiknya transparan dan jujur saja. Jangan besar pasak dari tiang, nanti bisa roboh.

Apabila 4G benar dijalankan maka akses ke setiap pelanggan itu 100 Mbps! Mana ada kecepatan ke pelanggan begitu di Republik kita ini.. Yang sekarang ada itu adalah pesawat yang kita beli itu misalnya 4G, tetapi kinerjanya (performance) syukur apabila bisa 3G (2 Mbps). Teknologi IMT-2000 itu adalah 3G.

Sesuai makalah pak Basuki ke Global Forum – “National Strategy Development for 5G, Adoption”, pada th 2014 ada sekitar 340 sambungan selular, dengan komposisi BTS 3G (41%) dan 2G (59%).

Oleh karena yang paling urgen dan paling rasional adalah memeratakan jaringan nasional bergerak hingga pelosok dengan 3G dahulu, sambil menyiapkan diri dengan Penelitian oleh semua pemangku kepentingan untuk 5G.

Baiklah produk dalam negeri 4G dipakai sejauh mungkin sehingga tidak merugikan pelanggan, walaupun tidak bisa memberikan pelayanan penuh 4G.

Penelitian dan Pengembangan (R&D) 5G
Yang dimaksud penelitian dan pengembangan (R&D) 5G ini bukan beli chip lalu assembling, ya.
Hal ini terus terjadi dengan teknologi2 bergerak kita sebelumnya. Riset ini menyangkut membuat rancangan (design) dari awal sehingga konten lokal menjadi 70an%. Chipnya bisa dibuat di LN dg nilai hanya sekitar 10% saja!

[Sebagai bandingan, perangkat Sentral dan Terminal NGN (Next Generation Network) hampir 10 tahun lalu dibuat oleh TKD, suatu perusahan UKM dengan konten lokal 90%]

Sebaiknya kita juga siap dengan berbagai tekanan dari luar (vendor, pejabat, asosiasi, dll) seperti dialami saat WiMax 802.16d ditetapkan. Pada saat itu pemerintah (Dirjen Postel, pak Basuki) menyediakan dana 100 Milyar untuk penelitian oleh ITB, UI, dan ITS.

Hanya Telkom yang taat menggunakannya (sudah beroperasi terbatas), seraya perusahaan bukan BUMN sengaja mengulur waktu penggelaran karena menunggu diizinkannya WiMax 802.16e.

Tolong diingat ya, bahwa tujuannya bukan untuk membuat perangkat bergerak (mobile), melainkan menggantikan kabel fisik ke rumah atau gedung, dengan sambungan radio. Dan memang WiMax 16d itulah yang paling tepat saat diputuskan bersama, termasuk para operator saat itu!

Tetapi oleh karena iming2 vendor (mereka tidak salah karena jual barang) maka buyarlah semuanya. Akhirnya apa? WiMax 802.16e buyar juga karena disiap oleh WiMax 802.16m dst, bukan? Dan WiMax pun sudah diganti LTE dsb, bukan?

Andaikata industri dalam negeri yang membuat WiMax 802.16e benar mempunyai tenaga dan hasil yang mampu membuat rancangan (design) dalam negeri, tentu akan berbeda. Mereka bisa segera menyesuaikan diri, tetapi apabila harus beli chip atau design dari chip dengan lisensi industri luar negeri, ya tentu beda, bukan?

Akhirul kata, saya hanya menyarankan agar para peneliti teknologi 4G yang di Batam tersebut, dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan 5G saja, karena bagaimanapun mereka sedikit banyak sudah ada modal, walapun rancangan tidak sepenuhnya mereka buat sendiri atau tidak memperoleh dari lisensi. Apabila salah tolong dikoreksi. (Salam, AphD; dari grup FB-ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close