Psikologi

Kalau sempat

Seorang laki-laki tua duduk di teras rumahnya. Rumah yang besar, mewah dan megah…
Namun sepi penghuni. Istri sudah meninggal. Tangan menggigil karena lemah. Penyakit menggerogoti sejak lama. Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu.

Tiga anak, semuanya sukses. Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri…
» Ada yang sekarang berkarir di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi…
» dan ada pula yang jadi pengusaha., Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol. Semuanya kaya raya…..

Namun…. Saat tua seperti ini dia ‘Merasa Hampa’, ada ‘Pilu Mendesak’ disudut hatinya……
Tidur tak nyaman. Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yang penuh kenangan. Foto laki-laki gagah dengan keluarganya berlatar belakang Great Wall, Eiffel Tower, Big Ben, Sydney Opera House dan berbagai belahan bumi lainnya yang telah dijelajahinya..

Diabadikan dengan foto dibingkai bagus yang tak mampu lagi dilihat karena ‘Pandangannya Sudah Mengabur’. Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur. Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya….

Dari sudut mata ada air menetes. Rindu dikunjungi anak2nya. Tapi anak2nya sibuk dan tinggal jauh di kota / negara lain. Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan, terlanjur melemah. Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak … Sepanjang waktu ….

• Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya. • Atau barangkali Anda suatu saat nanti……
• Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti…
• Yang pasti hanyalah… ‘KEMATIAN’

» ‘Rumah Besar’ tak mampu lagi menyenangkan hatinya…
» ‘Anak Sukses’ tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC…
» Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang…
» Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa?
===Kira-kira jika malaikat ‘Datang Menjemput’, akan seperti apakah kematiannya nanti?===

» Siapa yang akan memandikan ? » Dimana akan dikuburkan ??
» Sempatkah anak kesayangan dan kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?
» Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? » Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula.

• Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ?
• Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan?
• Apa lagi jika dulu anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama? • Ilmu agama hanya sebagai sisipan.

‘Kalau lah Sempat’ menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat2 di Jalan Allah yang lainnya…
‘Kalau lah Sempat’ dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang……

‘Kalau lah Sempat’ memberi sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai orang yg perlu.
‘Kalau lah Sempat’ membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat dan handai taulan.
Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi ‘Amal Penolong’ nya ……
Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi ‘Orang yang Shaleh’, dan ‘Ilmu Agama’ nya lebih diutamakan.

Ibadah dan sedekahnya di bimbing / diajarkan dan diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan ‘Terbangun Malam’, ‘Meneteskan Air Mata’ medoakan orang tuanya. Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama …. (Mas Tris BRS; dari grup WA-72)-FR
————-
Sajian lainnya : Pagi yang sangat indah
Janganlah menunggu hari istimewa, Baru memakai barang yg bagus.
Kepala Rumah Sakit LinBingWen meninggal dunia karena infeksi pada usia 61tahun. Kematiannya yg tiba2 mengagetkan rekan2 medis, dia boleh dibilang masih cukup muda.

Kehidupan sungguh amat rentan, hidup mati itu kehendak yg diatas tidak bisa dicegah. SteveJob (Apple) menghadapi sakit dan mati juga tidak berdaya. Bbrp tahun yg lalu, seorang istri teman baru saja meninggal. Dia bilang: “Ketika aku sedang beres2 barang2 istriku, kutemukan scharf sutera, yg kami beli di toko mewah di NewYork dalam suatu tour kami.”

Itu adalah sebuah scarf yg cantik, anggun dan bermerk. Bahkan harganya msh tertera di sana, istrinya terlalu sayang utk memakainya, dia selalu menunggu suatu hari yg istimewa utk memakainya.”
Sampai disini, dia diam, dan sebentar melanjutkan: “Sudahlah. Jangan menunggu hari yg istimewa, baru memakai barangmu yg bagus. Setiap hari dalam kehidupanmu adalah istimewa”

Kini, setiap teringat akan kata2 itu, aku akan meletakkan tugas2ku, cari bacaan ringan atau memutar musik2 indah, berbaring santai di sofa, menikmati waktu yg benar2 milikku. Aku akan menikmati air sungai yg tampak dari jendela rumahku, tanpa peduli adanya debu di kaca jendela, aku akan mengajak orang2 di rumah makan diluar.

Kehidupan seharusnya adalah perjalanan pengalaman2 yg mesti disayang/dinikmati, dan bukannya hari2 yg pahit/susah hanya utk mempertahankan hari2 yg telah lewat. Aku pernah berbagi perbincangan ini dgn seorang wanita. Dan ketika bertemu lagi dgn dia, dia bilang bahwa skrg dia sdh tdk spt dulu lagi, menyimpan gelas2 keramiknya didalam lemari anggurnya.

Dulu dia mengira akan menggunakannya pada hari yg istimewa, akhirnya dia menyadari hari itu tidak pernah datang. “Kelak/nanti”, “Suatu saat nanti” sdh tidak ada lagi di kamusnya.
Kalau ada hal yg menggembirakan, kalau ada hal yg memuaskan, dia akan berusaha mengalaminya sekarang dan mendengarkannya segera.

Kita sering ingin berkumpul dgn  teman2, tapi selalu berdalih “cari kesempatan”. Kita sering ingin memeluk anak2 yg mulai besar, tapi selalu menunggu kesempatan yg tepat. Kita mungkin ingin menulis sesuatu buat belahan jiwa, betapa kita menyayanginya, betapa kita mengaguminya, tetapi selalu bilang dgn diri sendiri tidak buru2.

Setiap pagi kita buka mata, ini adalah hari yg istimewa. Setiap hari, setiap menit adalah sangat berharga.
1. Janganlah selalu bekerja dalam kondisi tertekan, akan merusak/melelahkan diri !
2. Jangan lupa bahwa tubuh kita adalah segalanya, bila tidak sehat, tidak akan bisa menikmati semua kenikmatan dan keindahan kehidupan ini.

3. Jangan berpikir bahwa yg bisa menolong hidupmu adalah dokter, sebetulnya adalah dirimu sendiri, menjaga kesehatan adalah lebih penting daripada menyelamatkan nyawa.
4. Jangan berpikir bahwa setiap pemberian selalu harus ada imbalannya; sebenarnya hanya karena tidak mengharapkan imbalan, maka akan beroleh imbalan yg baik.

5. Jangan meremehkan orang2 yg berjodoh denganmu, karena ketika masa2 itu lewat, barulah menyadari betapa kesempatan itu sulit sekali dijumpai.
Bekerjalah dgn wajar dan alamiah !
Pelan2 menikmati perjalanan kehidupan, nikmati setiap hari dari kehidupan ini dgn gembira. Mungkin kamu bisa mengubah banyak orang !! (M. Budhi; dari grup WA-72)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close