Islam

Meraih ridlo dari Allah SWT

Beribadah, insyaa Allah, memperoleh ridlo dari Allah SWT dan Rosul, maka seorang muslim harus memenuhi Empat persyaratan dalam melakukan amal-ibadahnya, yaitu :

1. Aqidah
Aqidah bersemayam pada jiwa, sedang jiwa terdiri dari bathin dan jasad/ phisik, karena itu seseorang yang menganut Aqidah, tidak akan dapat berubah, kecuali hanya oleh hidayah dari Allah SWT. Aqidah itu pondasi awal ke-iman-an seseorang dalam mengambil pegangan hidup.

 

Semua nilai ajaran pada tiap agama dan atau aliran kepercayaan pada dasarnya sama yaitu melakukan Keadilan, Kebajikan dan Kebenaran, bedanya adalah Aqidah. Agama Islam yang membawa risalah kehidupan terdiri dari 3 inti ajaran yaitu 1) Aqidah, 2) Rukun dan 3) Syari’at.

 

Guna meraih ridlo dari Allah SWT dalam melakukan amal ibadah harus ber-Aqidah Tauhid, yakni Menegakkan (meyakini dan mengamalkan) “Laa Ilaaha Illaallaah Muhammadur Rosuulullaah” artinya “Tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, Muhammad adalah Rosuul Allah”, menukil :
1) Surat-3 Aali Imroon ayat- 132 : “Taatilah Allah dan Rosuul, supaya kamu diberi rahmat”.
2) Surat-47 Muhammad ayat-33 : “Orang2 beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul dan jangan merusak (pahala) amal-amalmu”.

2. Niat.
Niat ada di hati, yang diselaraskan  pikiran dan perbuatan, adapun melakukan Niat dalam segala perbuatan dianjurkan oleh Rosul agar memperoleh ridlo dan rahmat dari Allah SWT. Hukum Niat adalah wajib dalam semua amal ibadah, tempat Niat dalam hati.

 

Adapun yang ber-Niat mengucapkan, hal itu lebih baik baginya, karena Niat akan bertambah mantap dengan bantuan lisan. Ucapannya boleh bersuara, yang utamanya nyaman dan khusu (thumaninah), asalkan tidak berteriak. Tujuan utama Niat ialah membedakan ber-macam2 ibadah antara yang satu dengan yang lainnya, mengutip :
1) HR. Imam Ahmad No.163 & 283, Imam Bukhori No.4682, Imam Muslim No.3530, Imam Ibnu Majah No.4217, Imam Tirmidzi No.1571 dan Imam Nasa’i No.3734, Nabi SAW bersabda: “Tiap amal itu tergantung niatnya. Bagi seseorang yang ia niatkan Hijrahnya ke Allah dan Rosul, dan yang hijrahnya lantaran dunia yang dikejar atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada yang ia inginkan”.
2) HR. Imam Bukhori No.715 dan Imam Muslim No.602 : Rosul masuk ke masjid, juga seorang laki-laki masuk Masjid dan langsung sholaat kemudian memberi salam kepada Nabi. Beliau menjawab dan berkata kepadanya, “Kembalilah dan ulangi sholaatmu karena kamu belum sholaat”.

 

Orang itu mengulangi sholatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi lalu menghadap ke Nabi dan memberi salam. Namun Beliau kembali berkata: “Kembalilah dan ulangi sholatmu karena kamu belum sholaat”. Beliau memerintahkan orang ini sampai 3x hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata,

 

“Demi Dzat yang mengutus Tuan dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu, maka ajarkkan aku” Beliau lantas berkata: “Jika kamu berdiri sholat maka mulailah dengan Niat lalu Takbir, kemudian bacalah apa yang mudah buatmu dari Al-Qur’aan. Lanjut ruku’lah sampai benar2 ruku’ dengan thuma’ninah (tenang).

 

Lalu bangkitlah (dari ruku’) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma’ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh sholaat (roka’at) mu”.

3. Hati yang ikhlas.
Hati yang ikhlas adanya di qolbu, semua amal ibadah dilakukan dari lubuk hati yang ikhlas untuk ditujukan hanyalah kepada Allah SWT semata, menukil :
1) Surat-2 Al-Baqoroh ayat-139 : “Katakanlah: “Apakah kamu mendebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia Tuhan kami dan Tuhan kamu, bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati”.
2) Surat-7 Al-A’roof ayat-29 : “Katakanlah: “Tuhan-ku menyuruh menjalankan keadilan” dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sholaat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya, sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)”.

  1. Sesuai dengan Syari’at.
    Sayari’at adanya pada akal, pada dasarnya Syari’at agama Islam : “Kitabullaah dan Sunnah Nabi-Nya”, mengutip HR. Imam Malik No.1395 dan Imam Ahmad No.26072 : Rosul bersabda telah aku tinggalkan Dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang keduanya yaitu “Kitabullaah dan Sunnah-ku”.

Setelah Nabi SAW wafat, maka Sahabat2 Nabi dan Ulama Pewarisnya menetapkan Syari’at Islam dalam ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Al-Qur’aan, Al-Hadits, Ijma dan Qiyas. Karena itu semua amal ibadah yang berpedoman kepada ke-Empat Syari’at tersebut, insyaa Allah, adalah ma’ruf (adil dan benar). (M. Suffron Chaffas; dari grup FB-ILP)-FB

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close