Psikologi

Bermenung puasa dan waskat

Puasa secara umum menghindari makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan). Kalau bagi umat Islam di Indonesia waktunya sejak Subuh hingga Maghrib (sekitar 14 jam) dan selama sebulan.

Ada hal menarik dari orang yang berpuasa. Sekalipun orangnya bandel, kalau niat puasa, dia tak makan, minum dan hal yang dilarang, maka dia tidak akan makan, minum dan hal terlarang lainnya. Padahal bisa saja dengan bersembunyi.

 

Kalau orang pergi ke tempat kerja lalu makan dan minum, orang di rumah dan tetangga tidak akan ada yang tahu. Kalau di siang terik minum air mineral sebotol juga tidak ada yang tahu. Namun hal itu tidak dilakukan oleh orang yang berpuasa.

 

Kalau anak kecil atau orang tua yang gagal (istilahnya batal) dalam berpuasa di suatu hari, dia akan mengatakan terus terang kepada orang lain bahwa dia batal puasanya. Sekalipun batalnya sudah jam 5 sore. Tidak ada yang berbohong dan mengatakan bahwa masih puasa.

Maka salah satu hikmah atau kebaikan yang diperoleh dalam berpuasa adalah orang terlatih berkata jujur. Ya, kejujuran itu merupakan buah dari berpuasa. Apalagi kalau dilatih dalam waktu yang lama (umat Islam berpuasa selama sebulan).

Saat berpuasa, orang merasa hidupnya diawasi Tuhan. Makanya dia tidak mau makan- atau minum sekalipun tak seorangpun tahu. Di sini sudah ada pengawasan dalam dirinya, pengawasan melekat, istilah kantorannya. Pengawasan bukan oleh dirinya saja, namun dirinya merasa diawasi Tuhan.

Jika pengawasan melekat, kejujuran itu bisa dipertahankan di hari lain waktu tidak berpuasa, wah alangkah indahnya. Makan, minum yang halal (boleh) saja orang tidak memakannya, apalagi barang haram (yang tidak boleh).

 

Makanan minuman punya sendiri saja orang bisa menahan untuk tidak memakannya, apalagi makanan, minuman orang lain, apalagi milik orang banyak. Orang tidak akan berbohong di semua hal, di semua bidang, di pekerjaannya, di profesinya dan di dalam hidupnya.

Berbahagialah kita para pangsiunan ini yang tidak ada lagi kemungkinan godaan untuk berbohong seperti pada saat masih bekerja.

Semoga bagi yang berpuasa, pengawasan melekat dan kejujuran ini akan melekat terus sepanjang hayat dikandung badan. (Widartoks 2016; dari grup FB-ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close