Pengalaman Anggota

The Rule of Four

Yang namanya daun muda, menurut orang2 tua Jawa ya empat daun pertama yang membentuk pucuk tanaman. Daun ke-lima, apapun alasannya tidak berhak masuk ke wajan penggorengan saya. Tapi daun ke tiga pun saya apkir kalau sudah mengeras. Jadi tidak mutlak lah.

Rule of four ini berlaku untuk hampir semua daun sayuran, kangkung, daun ubi rambat maupun ubi jalar, daun papaya, daun tangkil (melinjo) dan seterus-terusnya. Rule of four ini juga efektif untuk mengajari cucu yang membantu eyang putrinya didapur. Setiap tangkai bayam ia bertanya,

“Yang ini dipetik, Uti?”. Begitu terus. Nah, menganggu kan?
“Hitung saja dari atas nDuk, satu, dua, tiga, empat. Lainnya di buang”, kata eyang kakungnya. Si Cucu kegirangan memiliki pedoman baru, ia dengan mantap menghitung, satu, dua, tiga empat …. tes daun kelima dibuang.

Kali ini saya membahas daun waluh jipang yang merambat diatas garasi saya, yang saya pasang ram kawat diatas plastiknya. Semula ram, ini untuk merambat pohon anggur. Namun apa daya pohon anggur saya tetap kerdil, tidak sampai 40 cm tingginya. Bertahun-tahun saya tunggu, mati tidak, namun suburpun tidak. Jadi bonsai mungkin.

Pucuk daun waluh Jipang ini saya masak tumis biasa, bumbunya hanya bawang putih empat biji saya geprek. Saya taburkan sejumput ebi kering (optional), siram dengan seperempat air dan ungkep dengan tutup gerabah yang berat. Menjelang diangkat saya bubuhkan garam.

Rasanya lumayan, memang tidak selezat Kailan Cah, namun tidak kalah dengan Kangkung Cah restoran. Apalagi pentil labu muda yang masih sebesar ibu jari saya iris dan saya ikutkan dimasak. Rasanya mak-kres …. kres…. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close