Islam

Umar bin Khaththab (TA 112)

Ketika Khalifah Abu Bakar yang belakangan sering sakit, ia sadar bila suatu saat dipanggil oleh-Nya, ia harus menyiapkan pengganti. Hatinya condong ke sahabat Umar bin Khaththab. Namun ia tetap minta pendapat sahabat2 disekelilingnya, agar kelak saat dipimpin oleh Umar, merasa ikut memilihnya.

 

Terhadap pendapat Umar terlalu keras, ia berkata,”Yang demikian itu karena ia melihat diriku terlalu lunak. Jika jabatan khalifah ini dipegangnya, niscaya ia tidak sekeras itu. Aku melihatnya, bila aku memarahi seseorang, ia justru lembut mendatangi orang itu. Bila aku terlalu lunak atas kesalahan seseorang, ia justru bersikap keras”.

Umar walau terkenal keras, kuat, tegas dan pemberani. Namun, dibalik sikapnya, hatinya yang lembut mudah tersentuh. Ia menangis, air matanya mengalir deras sampai menetes ke tanah, saat ia menerima utusan dari Aisyah membawa sedikit harta fa’i (harta rampasan perang) yang dipakai Khalifah Abu Bakar kepadanya sebagai khalifah pengganti. Ia terharu keluguan orang yang dihormatinya itu dan merasa akan segera ditinggalkannya.

Ia juga menangis saat, wafatnya Khalid bin Walid, pahlawan perang terbesar pada jamannya. Ia menyesal belum sempat mengangkat kembali Khalid menjadi Panglima perang setelah ia sendiri yang mencopotnya dari jabatan itu. Berulang kali para sahabat melihat ia tidak mampu menahan dirinya dan menangis tersedu-sedu.

Ia-pun menangis, saat melihat punggung Rasul bilur2 bekas jalur2 alas tidur Nabi yang terbuat dari pelepah kurma. Ia terharu melihat kesederhanaan junjungannya itu, padahal sebagai pemimpin besar umat Islam ia mampu dan layak mendapat tempat tidur lebih nyaman / lebih mewah seperti yang dipakai oleh raja2 Persia atau Abbisinia yang lain.

Tapi Rasul menghibur tangisan Umar ini dengan mengatakan beliau lebih memilih surga daripada kenikmatan dan kemewahan dunia. Allah kemudian mengabadikan peristiwa ini pada surat Al-Insan, “Bila kamu lihat di sana (surga), niscaya kamu melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan besar”. (QS Al Insan 76:20)

Umar bin Khaththab selalu ingat ketauladanan Nabi SAW yang sangat dicintainya itu dan ia terkenal zuhud, sederhana menjauhi kemewahan. Ia selalu khawatir atas sesuatu yang bukan haknya. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close