Pengalaman Anggota

Bermenung-Merampas kehidupan anak cucu sendiri

Ada beberpa orang anak kecil bersaudara asyik memakan makanan kecil. Tiba2 orang tuanya datang dan merampas makanan itu, kemudian dimakan sendiri. Apa yang terjadi? Tentu si anak tidak jadi makan dan mungkin menjadi lapar.

Adakah ortu yang tega berbuat seperti itu? Ya mungkin tidak ada. Lha kenapa menulis seperti itu? Itu hanya perumpamaan, ortu yang berbuat dan akhirnya menyengsarakan anak-anaknya. Adakah ? Banyak kejadian orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya, misalnya menguasai dan atau menjual :

 

Rumah atau kendaraan dinas, tanah orang, tanah negara untuk kepentingan diri sendiri dan dia sadar dengan apa yang dilakukan itu. Bisa juga yang diambil, dikuasai atau direbut itu barang “non fisik” seperti jabatan, pekerjaan atau malah bahkan barang pusaka sakti dan semacamnya.

 

Masih lumayan kalau yang kelak hidupnya tidak nyaman atau bahkan sengsara hanya dia saja. Namun banyak kejadian orang seperti ini akan menyengsarakan anak-anaknya bahkan turunannya lagi. Anak-anaknya kelak hidupnya tidak terlampau baik, bahkan sengsara.

 

Ada yang terlibat narkoba, sulit kerja, rumah tangganya berantakan dan sebagainya. Kasihan kalau anak bahkan cucu menanggung akibat perbuatan orang tua yang bahkan mungkin sama sekali tidak diketahui dan atau ikut merasakannya.

Khusus tentang pusaka sakti ada cerita, seseorang dipinjami sebuah pusaka untuk suatu keperluan, agar menang dalam sebuah pemilihan pejabat. Nah, ternyata dia menang dan sukses dengan jabatan itu. Namun dia malah tidak mengembalikan pusaka itu.

 

Alhasil sebagian besar anak2nya lahir dengan mata tidak normal, tidak tahan melihat cahaya di siang hari, kalau malam hari matanya normal. Tentu hidupnya tidak normal juga, harus sekolah di sekolah khusus dan seterusnya.

 

Bahkan setelah orang tua meninggal, akhirnya rumah tinggal yang besar mangkrak dan lama-lama rusak tanpa ada yang menempati. Kata orang (lagi), itu karena orang tuanya “buta” dengan kekuasaan, tidak mengembalikan barang orang lain yang dipinjamnya. Apa benar begitu? Hanya Allah Yang Maha Tahu.

Seyogyanyalah jika kita digoda atau tergoda mengambil, mengakuisisi atau mengangkangi yang bukan haknya. Berfikirlah seribu kali, sadarlah, bisa jadi hal itu kelak akan membuat sengsara. Masih mending kalau yang sengsara dia, kalau anak cucu ikut menanggung juga dan ikut sengsara kan kasih mereka . . . . (Widartoks 2016; dari grup FB-MKPB Telkom)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close