Psikologi

Disesaki Sampah kehidupan

Suatu hari saya numpang taxi konvensional ke rumah. Kebetulan jalanan macet. Semua mobil berlomba  saling mendahului tidak beraturan. Tiba2 mobil sport bernopol cantik, menikung dan mengambil jalur yang kami lalui. Bagian depan mobil sport itu menyerempet bumper taxi.

Supir mobil sport turun dan mulai mendatangi supir taxi. Dengan angkuh, pemuda berpakaian rapi mendatangi supir taxi : “Dimana mata kamu? Mengapa kamu menyerempet mobilku? Ini mahal, tau…?”
Supir taxi keluar dari mobil : “Maafkan saya jika sampai mobil mahal milik bapak jadi lecet. Saya tidak menyerempet, bapak yang potong lajur jalan mobil saya”

Pemuda : “Mengapa kamu tidak menginjak rem?”
Supir taxi : “Saya sudah berusaha menginjak pedal rem sehingga menimbulkan suara gesekan kuat dengan aspal, namun bapak terlalu condong memotong jalan saya”
Pemuda : “Itu alasanmu. Saya mau tanya,  masalah ini diselesaikan di kantor polisi atau damai di sini?”

Supir taxi : “Kalau bisa damai, mengapa harus memperpanjang kasus sepele ini?”
Pemuda : “Oke, baiklah kalau begitu… Saya pergi dulu…”
Supir taxi setuju, melambaikan tangan dan : “Hati2 di jalan Pak. Semoga Tuhan memberkati dirimu.”

Dari awal saya mengamati peristiwa ini. Saya tertegun dan takjub perilaku supir taxi yang sabar ditengah hujatan fitnah dari sopir mobil sport. Belum lagi himpitan setoran harian yang makin sulit dicapai
Saya tanya : “Mengapa Bapak tidak marah dan malah mendoakan keselamatan pemuda sombong itu. Bapak tidak salah, yang salah pemuda yang membawa mobil mewahnya ugal2an.”

Supir taxi : “Gak papa, Jangan membesarkan masalah sepele. Jangan pikir saya takut. Saya tahu dia hanya menggertak dan ketakutan jika saya menuntutnya mengganti rugi kerusakan taxi ini. Saya tidak mau kehabisan waktu sia2 untuk mencari nafkah gara2 meladeni pemuda tadi.”
Saya tercekat penuturan supir taxi, pria paruh baya, yang terdengar bijaksana dan penuh kearifan.

Supir taxi : “Dalam kehidupan ini, banyak orang berjalan menenteng tas sampah, melangkah mendorong gerobak sampah dan yang terbanyak berperan layaknya truk sampah. Mereka berjalan kemana saja dengan membawa setumpuk sampah kehidupan.”
Saya : “Sampah kehidupan? Mengapa tidak membuangnya ke tempat sampah?”

Supir taxi : “Sampah kehidupan itu : Kegelisahan, amarah, kekecewaan, frustasi, dendam, permusuhan dsb. Makin lama sampah itu makin menumpuk dan mereka butuh tempat membuangnya. Kitalah yang sering menjadi sasaran pembuangan sampahnya”
Saya : “Apakah cuma kita satu2nya tempat buangan sampah mereka? Apa tidak ada tempat yang lain?”

Supir taxi : “Tentu ada. Mereka cuma malas membuangnya ke tempat yang benar. Dengan mendekatkan diri ke Tuhan, sampah itu sebagian akan terbuang. Kalau lebih khusyuk berdoa, maka sampah kehidupan akan terbuang.”
Saya : “Sesederhana itu saja?”

Supir taxi : “Tuhan itu maha bijak dan bersedia menerima keluh kesah kita dan menampung sampah kehidupan yang terkumpul. Dia memberikan petunjuk yang benar ke mereka yang tulus memohon”
Saya terdiam sejenak, berusaha memahami ucapan dan pemikiran bapak yang rambutnya beruban.

Supir taxi : “Jika seseorang hendak membuang sampah ke kita, berupa amarah atau perlakuan buruk, jangan terima atau sampai disimpan di hati. Berikan senyum dan lambaikan tangan seraya mendoakan keselamatannya. Lanjutkan kehidupan kita. Jangan ambil sampah mereka dan membuang ke orang lain yang kita temui, baik di tempat kerja, di rumah, di dalam perjalanan atau di mana saja…”

Saya bersyukur ketemu supir taxi, yang mngajari kehidupan bermanfaat ini. Tiap hari kita disesaki sampah kehidupan yang berasal dari diri sendiri maupun dari orang lain. Jika ingin menjalani hidup yang bahagia, jangan biarkan sampah kehidupan menumpuk dalam batin kita. Selain menimbulkan bau yang tidak sedap, bobot sampah ini akan membuat langkah kita menjadi semakin berat.

Jangan isi hidup ini dengan hal2 tidak berguna. Cintailah yang telah memperlakukan kita dengan baik dan doakanlah orang yang telah memperlakukan kita dengan buruk. Jangan menghakimi yang menghina kekurangan mereka. Berusahalah menjadi pribadi bijak dan mencoba belajar mengerti orang lain.

Hidup ini, bukan bagaimana menunggu badai berlalu, namun bagaimana belajar menari dalam hujan. Jangan Lupa Bahagia….. *Titin Lystiatin; dari grup WA-VN; Sumber dari Firman Bossini; https://obrolanbeken.wordpress.com/2017/01/05/sampah-kehidupan/)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close