Selingan

Wayang Antaraje(10)-Pusaka Napakawaca

Perang antara Sukma Wicara dan Sukma Langgeng terjadi seru. Perang tanding mula2 di luar kayangan, lalu turun ke angkasa bumi. Karena pengaruh grafitasi bumi, makin lama keduanya ke bawah. Ya, makin ke bawah, mendekati bumi. Akhirnya sampai ke bumi.

 

Ketika sampai bumi itu, Sukma Wicara masuk ke badan Kresna karena dia badan halus atau sukma dari Kresna. Sukma Langgeng masuk ke badan Arjuna, karena Sukma Langgeng, badan halus Arjuna. Maka saat itu Kresna terbangun dari tidurnya dan Arjuna juga bangun dari “kematiannya”. Sejenak Kresna yang titisan Batara Wisnu menghampiri Arjuna.

“Apa kabar adikku Arjuna?”, sapa Kresna.
“Hamba baik2 Kakanda. Syukurlah Kakanda dapat kitab Jitabsraya”, jawab Arjuna.
Ya, atas doa seluruh keluarga pandawa dan semua yang senang perdamaian.
” Kamu ke Kayangan juga ya? Ada apa?”, kata Kresna.

“ Hamba ke kayangan, mohon ke dewa2 agar jika perang Baratayuda terjadi, pandawa-5, perangnya unggul dan utuh tidak satupun ada yang mati. Syukur permohonan hamba dikabulkan dewa2”, jawab Arjuna. Ternyata Arjuna yang titisan Batara Indra juga ke kayangan.

 

Saat selesai keperluan dengan dewa, ketika mau pulang dia lihat Sukma Wicara membawa Kitab Jitabsraya dan ingin minta copynya. Dan terjadi perang itu. “Syukur kalau begitu”, Kresna berhenti sejenak berkata. ” Apa yang kamu mintakan ke dewa tadi?”
“ Hamba ke kayangan, mohon  pandawa unggul di Perang, utuh tidak ada yang gugur”, jawab Arjuna.

“Adikku di .. adikku”, Kresna mengambil nafas dalam2.
“Kenapa yang kau minta hanya pandawa lima? Bagaimana istri2 dan anak2 pandawa?”, kata Kresna.
“Aduh Kakanda ……. kenapa hamba bisa lupa begini”, sesal Arjuna yang titisan Batara Indra itu. Dia merasa sangat bersalah, sangat sedih dan hampir menangis karenanya.

“Sudahlah, mungkin ini kehendak dewa”, kata Kresna menteteramkan.
Saat Kresna dan Arjuna bangun dari tidur-matinya, saat itu Antareja tidak berada di ruangan. Maka Antareja tidak tahu pembicaraan antara Kresna-Arjuna.

Kresna dan Arjuna keluar ruangan. Wajah mereka sedih, sebab perang besar darah Barata akan terjadi. Kresna beruntung sebab tahu skenario perang besar itu. Hanya dia kehilangan pusaka yang bisa menghidupkan orang mati. Kembang Wijaya Kusuma. Di teras pendapa, mereka bertemu Antareja yang ber-bincang2 dengan beberapa orang prajurit pengawal istana Dwarawati.

Begitu liaht Kresna dan Arjuna, dia menhaturkan sembah.

” Uwa Kresna, hamba haturkan sembah”, katanya.
” Antareja, kuterima sembahmu. Semoga puja-pujiku menyertaimu ya”, jawab Kresna.
” Paman Arjuna, hamba haturkan sembah”, kata Antareja ke Arjuna.
” Antareja, kiterima sembahmu. Doaku selalu menyertaimu”, jawab Arjuna.

Beberapa saat Kresna bertanya kepada Antareja. ” Antareja, kok tumben kamu berada di Dwarawati. Tentu ada hal penting. Apa yang membawa langkahmu ke sini?”.
” Hamba sengaja menghadap Uwa Kresna. Ketika sampai di sini, Uwa Kresna dan Paman Arjuna telah meninggal, begitu kata para abdi”, jawab Antareja.

Antareja menceritakan yang terjadi sejak dia dating. Kedatangan kerabat kurawa sampai datangnya macan putih yang besar dan berhasil mengusir kerabat kurawa. ” Hm, rupanya kurawa2 berusaha membangunkan aku dari tidur. Sudah kuduga sebelumnya”, kata Kresna.

Kresna juga tahu telah ada wangsit dewa, siapa yang bisa membangunkan dia dari tidurnya, akan unggul di perang Baratayuda. Rupanya kurawa tahu juga dan berusaha membangunkannya.  Namun  Arjuna yang secara tidak langsung telah membangunkannya.

 

Itu artinya para pandawa yang akan unggul di perang besar itu. Mengenai unggulnya pandawa2, Kresna tidak boleh dan tidak bisa menceritakan kepada siapapun, sebab itu rahasia dewa, sekalipun dia tahu skenario para dewa itu.

Arjuna termenung dengar kedatangan kurawa yang berusaha membangunkan Kresna, bahkan berbuat tidak sopan dengan memukul, menendang dan berusaha melukai badan Kresna. Dia sudah bayangkan, peperangan antara pandawa.

 

Termasuk dirinya dengan kurawa yang masih saudaranya, gurunya, ortunya akan terjadi. Sungguh sedih membayangkan apa yang akan terjadi. Namun dia adalah kesatria yang harus membela kebenaran dan negaranya. Antareja yang tidak tahu apa yang terjadi dan dialami Kresna dan Arjuna jadi teringat macan putih besar itu.

” Uwa Kresna, setelah kejadian menyerang kurawa, macan putih besar itu menghilang. Hamba cari kesana kemari tidak ketemu”. Masih membayang di pelupuk mata Antareja, dia meng-endap2 dengan hati2 masuk ke pendapa untuk mencari macan itu dan tidak dijumpai. Para pengawal ikut mencari, juga tidak menemukan. Kresna hanya tersenyum, lalu katanya.

” Begini Antareja, sebelum tidur, untuk ber-jaga2, aku menaruh pusaka senjata cakra di bawah alas tidurku. Ketika badanku diperlakukan tidak pantas, senjata cakra marah, lalu berubah jadi macan putih dan mengusir kerabat kurawa itu.

 

Ketika semua kerabat kurawa pergi, dia kembali jadi pusaka dan ke tempatnya. Maka ketika kamu cari, tidak menemukannya. Ini Antareja jadi senjata kembali”, kata Kresna menjelaskan, lalu mengambil dan menunjukkan senjata cakra miliknya itu. Antareja mengangguk-angguk, takjub.
” Oh ya, jadi ada keperluan apa kamu datang ke sini Antareja?”, tanya Kresna.

” Uwa Kresna, akhir2 ini hamba resah, sebab katanya perang Baratayuda segera dimulai” kata Antareja.
” Apa yang membuatmu resah Antareja?”, tanya Kresna lagi.
” Uwa Kresna, hamba ini anak pandawa, ingin berbakti ke ortu, nusa dan bangsa. Jadi ingin ikut perang Baratayuda, jadi senapati pandawa. Sekaligus mohon restu dan petunjuk Uwa Kresna”, jawab antareja.

” Bagus Antareja. Ya begitu harusnya anak muda, berbakti ke ortu, nusa dan bangsa”, kata Kresna.
” Tapi ini perang besar Antareja. Di pihak kurawa akan banyak tokoh sakti yang berpihak di sana. Perang ini juga perang pamungkas, bukan main2. Artinya satu babak perang, baru akan berhenti jika salah satu senapati ada yang mati”, lanjutnya.

” Hamba tidak takut Uwa Kresna”, jawab Antareja mantab.
” Hm, ya”, kata Kresna, seperti kepada dirinya
” Apa benar kamu siap berkorban untuk orang tua, bangsa dan negara?”, tanyanya lagi.
” Hamba siap Uwa Kresna”, jawab Antareja mantab.

” Ya ya, bagus sekali. Lalu apa yang kamu andalkan untuk ikut perang besar ini”, tanya Kresna selanjutnya.

” Hamba mampu berperang, mengerti strategi, punya kekuatan dan kesaktian andalan”, jawab Antareja.
” Oh, begitu. Apa kesaktian andalanmu itu Antareja?”, tanya Kresna.
” Hamba punya kesaktian andalan pusaka ilmu : Napakawaca, yang membuat ludah hamba berbisa. Jika musuh hamba jilat akan tewas keracunan. Jangankan hamba jilat tubuhnya, bekas telapak kaki saja jika hamba jilat orangnya seketika mati”, jawab Antareja mantap.

” Oh begitu? Kalau begitu, aku ingin tahu seberapa hebat kesaktianmu itu. Coba itu ada bekas telapak kaki, jilatlah Antareja”, kata Kresna sambil menunjuk bekas telapak kaki tidak jauh dari posisi Antareja.
Antareja menuju ke bekas telapak kaki yang ditunjuk Kresna. Dia berjongkok, merunduk dan menjilat bekas telapak kaki itu. Apa yang terjadi? Seketika Antareja mengaduh dan mati.

Arjuna yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan antara Kresna dengan Antareja jadi kaget. Dia berlutut, memeluk Antareja dan menoleh ke Kresna. ” Apa yang kanda Kresna lalukan ke kemenakan hamba ini?”.

Belum sempat Kresna jawab, tiba2 rombongan Kerajaan Amarta datang. Mereka Puntadewa sebagai raja, diserati adik2nya, Bima, Nakula dan Sadewa. Juga hadir Gatutkaca putra Bima yang adik Antareja.
Melihat Antareja dipeluk Arjuna, ayahnya, yaitu Bima menghampirinya. Yang lain menghampirinya juga dan berjongkok mengelilinginya. ” Apa yang terjadi Arjuna?”, tanya Bima kepada Arjuna.

” Tadi Antereja minta izin, restu dan petunjuk kepada Kanda Kresna untuk ikut dalam perang Baratayuda yang akan segera dimulai”, jawab Arjuna. ” Apa yang terjadi selanjutnya?”, tanya Bima lagi.
” Oleh Kanda Kresna ditanya apa punya kesaktian. Dia jawab punya, yaitu Napakawaca yang jika dipakai menjilat, walau hanya bekas telapak kaki saja, akan menyebabkan kematian pemiliknya.

 

Lalu Kanda Kresna minta dia jilat satu bekas telapak kaki dan ketika Antareja menjilatnya, Antareja meninggal”, jawab Arjuna.
” Hmm, kurang ajar” kata Bima geram. Dia lalu menghampiri Kresna.
” Kakang Kresna, kenapa kau jerusmuskan dan membunuh anakku?”, tanyanya memegang leher Kresna.
” Sabar2 Dinda Bima. Aku akan berikan penjelasan” jawab Kresna. Bima melepaskan cengkeramannya.
” Dinda Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan Gatutkaca” jawab Kresna. Semua yang hadir mendengarkan penjelasan Kresna yang merupakan penasehat pandawa itu.

” Perlu diketahui, Antareja ini sakti. Jika dia ikut dalam perang Baratayuda, tidak ada seorang lawanpun bisa menandinginya. Perang jadi tidak adil. Sudah jadi kehendak dewa, Antareja tidak boleh ikut perang Baratayuda. Dia tidak boleh menyaksikan peperangan itu. Antareja harus mati sebelum perang terjadi. Begitulah. Aku hanya menjalankan perintah dewa”, jawab Kresna.

Akhirnya keluarga pandawa, bisa menerima penjelasan Kresna. Juga Bima, walau hatinya dongkol, sebab perang belum terjadi sudah kehilangan putra yang disayangi. Arjuna kini merasa bersalah, sebab ketika menghadap dewa, dia hanya minta agar pandawa unggul di peperangan, semua tidak ada yang mati. Pandawa 5 utuh. Dia lupa minta keselamatan istri2 dan putra-putri pandawa.

Ketika di hadapannya ada Gatutkaca dia bertambah sedih. Dia mengerti Gatutkaca dekat dengan putranya, yaitu Abimanyu,. Gatutkaca adalah pelindung Abimanyu sejak kanak2. Baratayuda tidak lama lagi terjadi dan dia tahu pasti, Gatutkaca, Abimanyu dan putra2 lain tidak akan selamat dalam perang itu. Termasuk istri2 pandawa.

Langit tiba2 mendung. Awan berarak mengiringi kepergian Antareja ke swargaloka, sorganya wayang. Mendung kian menggelap, segelap pikiran yang hadir. Perang besar Baratayuda akan terjadi. Perang antara kebajikan dan kebatilan. Namun perang besar melawan nafsu, kecenderungan keinginan untuk berbuat kebatilan, kejelekan, seperti :

 

Mencuri, curang, malas, acuh pada lingkungan, sombong, mau menang sendiri, melanggar yang dilarang, enggan melalukan kewajiban, perang seperti itu akan selalu ada di dalam diri setiap manusia. Tinggal seberapa kuat iman di dalam dirinya untuk mampu berperang melawan keinginan berbuat batil itu. Tamat…. (Widartoks 2016; dari grup FB-MKPB Telkom)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close