Opini dan sukses bisnis

Alimudin rintis kampung Angklung di Ciamis

(news.detik.com)-Melimpahnya sumber daya alam (SDA) di Kabupaten Ciamis, Jabar, dimanfaatkan  untuk menjalani usaha. Juga Alimudin (51). Pria biasa dipanggil Mumu Angklung ini jadi perajin alat musik tradisional. Dia turut memberdayakan masyarakat setempat.

Mumu perintis berdirinya Kampung Angklung di Ciamis. Kiprah Mumu awalnya buruh pembuatan angklung di Banjar, Jabar (1975). Saat itu Banjar bersatu dengan Ciamis. Lulus STM (1986), Mumu mulai menguasai pembuatan alat musik bambu yang digoyang ini. Termasuk menyinkronkan nada.

 

“Dulu itu oleh pemilik pabrik angklung pegawai itu tidak diberi ilmu pembuatan angklung. Tapi saya kerja di sana sambil belajar sampai bisa, terlebih di Ciamis ini banyak bahan baku bambu,” ujar Mumu saat ditemui di kediamannya, Dusun Linggamanik, RT 02 RW 07, Desa Panyingkiran, Kec-Ciamis (8/3/18).

Pada 1992, setelah menguasai teknik membuat angklung, Mumu hijrah ke Ciamis, di Desa Panyingkiran. Ia rintis usaha produksi angklung. Semula skala kecil, lalu angklung buatan Mumu dilirik pasar domestik. Order pesanan angklung mulai meningkat. Mumu mengajak masyarakat ikut bersama memproduksi Angklung, hingga pesanan yang meningkat itu bisa terpenuhi.

“Kalau yang lain mungkin tidak mengajarkan, karena khawatir tidak ada orderan. Tapi bagi saya memberi ilmu itu mengalir. Buktinya sampai kini saya tak kekurangan order, malah bertambah”. Di kampungnya ada 100an perajin angklung, yang hampir semua binaan Mumu. Sehingga mayoritas mata pencaharian di RW 07 Dusun Linggamanik perajin angklung.

Banyaknya perajin Angklung, membuat Mumu berinisiatif merintis daerahnya jadi Kampung Angklung (2014). Setelah mengajukan ke Pemkab Ciamis dengan perjuangan, pada (2016), RW 07 Dusun Linggamanik resmi menyandang Kampung Angklung. Pada 2016, Mumu dapat penghargaan dari Gubernur Jabar Heryawan sebagai pelopor pemberdayaan masyarakat.

Angklung produksi Kampung Angklung ini merambah ke seluruh Indonesia, terutama pasar wisata : Bali, Lombok, Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Tiap hari Mumu bisa memproduksi 20 set angklung. Harga satu setnya Rp 60 ribu dan termahal seperti angklung arumba jutaan rupiah per set.

“Saat ada Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, di sini dapat pesanan 20 ribu angklung”. Mumu mengungkapkan angklung hasil produksinya pernah menembus pasar Asia, meski tidak mengekspor  langsung. Ia bekerja sama dengan pihak perusahaan dan yayasan, untuk ekspor ke Jepang (2004).

“Umumnya angklung standarnya nada, tapi Angklung milik saya ada ciri khasnya lukisan batik, serta mutu bahan bambu kering”. Menurut Mumu, setelah dinobatkan jadi Kampung Angklung, ia dan perajin lain mengklaim tak sepi pesanan. Kampung Angklung kerap dikunjungi mahasiswa dari luar daerah untuk belajar membuat angklung.

Namun di kampung ini belum memiliki galeri. Selain itu fasilitas sarana dan prasarana masih kurang seperti sanggar dan tempat pertunjukan.

“Harapannya Pemkab Ciamis lebih proaktif mengembangkan Kampung Angklung ini. Kedepan mudah2 an jadi salah satu destinasi wisata budaya” tutur Mumu. (bbn/bbn; Dadang Hermansyah;  Bahan dari :  (https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3906166/kiprah-alimudin-rintis-kampung-angklung-di-ciamis)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close