Psikologi

Oleh2 berlebaran Idul Fitri-Secangkir Kopi

(endangcahyapermana.wordpress.com)-Di acara silaturahmi, beberapa cucu dari 8 anak menjumpai eyangnya di desa. Mereka ceritakan kisah sukses masing2. Ada yang jadi direktur BUMN, ada direktur Bank, ada yg menjadi pengusaha sukses, dokter, arsitek, pengacara, konsultan, dll.

 

Melihat para cucu2 itu ramai2  dan sibuk bicara kesuksesannya, eyang tsb segera ke dapur dan ambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda2. ‎Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik.

 

“Sudah2, Ngobrolnya berhenti dulu. Ini Eyang siapkan kopi buat kalian,” seru eyang memecah keasyikan obrolan mereka. Hampir serempak, mereka berebut cangkir terbaik yang bisa mereka dapat. Akhirnya, di meja tersisa satu buah cangkir plastik yang terjelek. Setelah semua mendapat cangkirnya, sang eyang mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya.

 

“Mari, diminum,” ajak eyang, yang ikut mengisi kopi dan meminum dari cangkir terakhir yang terjelek.

“Bagaimana rasanya? Nikmat kan? Ini dari kopi hasil kebun eyang.”

“Enak sekali.. Ini kopi tersedap yang pernah saya minum,” timpal satu cucu yang diiyakan oleh yang lain.

 

“Nah, kopinya enak ya? Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan. Kalian hampir berebut memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir terjelek ini?” tanya sang eyang.

Cucu2nya dari 8 anaknya yang menyebar di berbagai kota itu saling berpandangan.

 

“Perhatikanlah, kalian semua memilih cangkir yg bagus dan kini yg tersisa hanya cangkir yg murah dan tidak menarik. Memilih hal yg terbaik itu wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapat cangkir yg bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian otomatis melihat cangkir yg dipegang orang lain dan mulai membandingkannya.

 

Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yg kalian nikmati bukan cangkirnya tapi kopinya.‎ Hidup kita, kehidupan dunia dan kehidupan ibadah, seperti kopi dalam analogi itu, sedang cangkirnya adalah sarana, pekerjaan, jabatan, atau harta benda yg kita miliki.” Semua cucunya tertegun mendengarnya. Penjelasan dari eyang menyentak kesadaran mereka.

 

“Cucu2ku, “Jangan biarkan cangkir mempengaruhi kopi yg kita nikmati. Cangkir bukan utama, kualitas kopi yg terpenting. Jangan berpikir kekayaan melimpah, sarana mewah, karier bagus dan pekerjaan yg mapan itu jaminan kebahagian hidup dan kenikmatan dlm beribadah. Itu konsep keliru. Kualitas hidup dan ibadah kita ditentukan oleh  “yg ada di dalam” bukan “Apa yg kelihatan dari luar.*”

Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kekayaan, kesuksesan, popularitas, adalah predikat yang disandang. Tak salah jika kita mengejarnya. Tak salah pula bila kita ingin memilikinya. Namun, semua itu hanya sarana. Sarana hanya bermanfaat apabila bisa mengantarkan kita pada tujuan.

 

Apa gunanya  memiliki segala sarana, namun tidak pernah merasakan kedamaian, ketenteraman, ketenangan, dan kebahagian sejati di dalam kehidupan kita? Itu menyedihkan. Karena hal itu sama seperti kita menikmati kopi kualitas buruk yg disajikan di sebuah cangkir kristal yg mewah dan mahal…”

 

Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya…”

Selamat menikmati secangkir kopi kehidupan. (Chuzaini; dari grup WA-VN; sumber : Endang Cahya Permana; https://endangcahyapermana.wordpress.com/2018/06/24/oleh-oleh-silaturahmi/)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close