Opini dan sukses bisnis

Limbah Kertas Jadi Bisnis Berkelas(2/3)

(ekonomi.kompas.com)- Modal kecil

Mempelajari pembuatan produk, kita bisa cari info di internet. “Kalau belajar langsung juga bisa. Kini banyak yang menawarkan pelatihan proses pembuatan kertas daur ulang dan produksinya. Saya dulu ikut pelatihan” ujarnya. Tiap pelaku usaha ini harus memperhatikan selera pasar. Selain itu, kudu mencoba berinovasi karena produk sejenis banyak di pasaran. Misalnya, warna atau hiasannya.

 

Contoh, dari hiasan, si pembuat bermain kombinasi dengan benda2 unik dan berkesan etnik seperti rempah2, bunga, atau daun kering. Pilihan lain dikombinasikan dengan kain2 tradisional, seperti batik atau ulos.

 

Pewarnaan kertas bisa gunakan warna alam seperti pandan, daun rambutan, atau kunyit. Serat2 kertas supaya unik bisa dicampur serat nanas atau serat pelepah pisang. Produk2 semacam ini rawan penjiplakan. Jadi, Anda mesti rutin atau sering2 berinovasi.

 

Untuk menjajal usaha ini, tidak banyak, antara Rp 1 – 3 juta. Uang itu untuk beli peralatan seperti blender, papan bak kayu, penggaris, ember, cutter, filter, dan alat tulis. Tempat produksi, Anda bisa memanfaatkan ruangan di rumah Anda sehingga bisa hemat ongkos sewa lokasi usaha.

 

Di Jakarta Selatan, sewa tempat ukuran 35m2 berkisar Rp 10 – Rp 35 juta/tahun. Bila ingin merenovasi lokasi produksi, perlu disiapkan uang Rp 3 jutaan. “Biaya itu termasuk beli rak2 untuk memajang produk” kata Dicka. Untuk melengkapinya, paling tidak, Anda juga harus memiliki alat transportasi seperti sepeda motor untuk memperlancar usaha.

 

Menekan biaya sebaiknya, mendaur ulang kertas sendiri. “Keuntungan yang didapat bisa lebih besar dibanding kita beli kertas daur ulang di pasaran” ujarnya. Harga kertas daur ulang ukuran A3 di pasaran Rp 1.500 – Rp 2.800 / lembar. Bila sebulan butuh 1.000 lb, uang yang harus disiapkan Rp 1,5 juta.

 

Kalau buat sendiri, dengan Rp 200.000–Rp 300.000, Anda bisa hasilkan kertas sebanyak itu. Harga bahan baku, yakni kertas2 bekas atau koran murah. Per kg bisa Rp 1.000. Asumsinya, untuk membuat 1.000 lb kertas butuh 100 kg kertas bekas, sehingga Anda perlu biaya Rp 100.000. Sisa uang bisa digunakan untuk beli pewarna dan bahan serat lain untuk menghasilkan kertas bertekstur.

 

“Selain irit, kita bisa ciptakan tekstur kertas yang kita inginkan sehingga produk kita berciri khas kertas beda dari yang lain” jelas Diana. Dalam sebulan, pengeluaran yang harus Anda perhitungkan : Beli karton sebagai bahan dasar aneka produk. Sedikitnya, Anda harus merogoh Rp 2 juta untuk beli karton dan lem. Untuk beli bahan tambahan hiasan produk Rp 500.000.

 

(Artikel ini tayang di Kompas.com; berjudul “Mengemas Limbah Kertas Jadi Bisnis Berkelas”, Fransiska Firlan/Kontan; Erlangga Djumena; Bahan dari : https://ekonomi.kompas.com/read/2011/07/15/09003278/Mengemas.Limbah.Kertas.Jadi.Bisnis.Berkelas)-FatchurR * Bersambung……..

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close