Kesehatan

Lupa Divaksin Covid-19 Kedua-Berbahayakah

(lifestyle.bisnis.com)-JAKARTA; Pemberian suntikan vaksin Covid umumnya 2x dengan jeda 2 minggu atau lebih tergantung jenis vaksin. Pemerintah melalui Kemenkes menegaskan jarak pemberian suntikan pertama vaksin Covid-19 ke suntikan kedua vaksin Sinovac memiliki waktu 14 hari.

 

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PP Peralmuni) Iris Rengganis mengatakan suntikan vaksin Covid-19 buatan Sinovac harus dilakukan dua kali agar dapat memastikan vaksin itu efektif membentuk antibodi.

 

Vaksin Covid-19 ini bersifat inactivated atau mati sehingga tak dapat berkembang biak. Bukan berarti jika sudah disuntik 1x, maka tidak tertular virus Corona. Pada jeda antara vaksin pertama dan kedua, kata Iris, penerima vaksin harus disiplin menerapkan protokol kesehatan karena antibodi belum penuh terbentuk.

 

“Jangan berpikir orang sekali vaksin lalu sudah aman, lalu tidak menerapkan 3M lagi. Belum vaksin kedua, dia sudah tertular,” kata Iris dalam konferensi pers, (11/1/2021). Banyak masyarakat bertanya jika mereka terlewat suntikan kedua. Apakah menimbulkan masalah bagi tubuh mereka? Berikut ini, penjelasan yang dirangkum Bisnis.

 

Profesor Imunologi Universitas Surrey Deborah Dunn-Walters mengatakan uji coba praklinis terhadap penerima vaksin menunjukkan sekali suntikan tak cukup membangun kekebalan. “Jadi, masyarakat memilih keduanya,” kata Dunn-Walters, dikutip dari BBC.

 

Selama uji coba fase-3 untuk sejumlah vaksin, telah terdeteksi ada lebih banyak antibodi dan sel T dalam darah setelah 2 dosis daripada setelah satu dosis. Kepala Eksekutif Pfizer Albert Bourla pada bulan Desember menegaskan ‘kesalahan besar’ jika yang ikut vaksinasi melewatkan dosis kedua, karena suntikan ini dapat menggandakan jumlah perlindungan yang dapat diperoleh.

 

Pfizer dan BioNTech menegaskan agar kita hati-hati. “Tidak ada data bahwa ada perlindungan setelah dosis pertama dipertahankan setelah 21 hari,” ungkap 2 produsen vaksin. Selain itu, kemungkinan perlindungan yang tampaknya dimiliki orang akan tiba-tiba turun setelahdi vaksin. Tidak mengherankan karena hal itu didasari cara kerja sistem kekebalan penerima vaksin.

 

Memperkirakan andal berapa lama perlindungan dari satu dosis dapat bertahan makin diperumit oleh fakta semua vaksin Covid-19 yang kini disetujui menggunakan teknologi baru. Vaksin Oxford-AstraZeneca dan Sputnik-V sama-sama melibatkan versi modifikasi dari adenovirus – kelompok yang diduga memecah jadi berbagai jenis sel dan menyebabkan penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan.

 

Menurut BBC, vaksin versi Oxford dan AstraZeneca menggunakan adenovirus dari simpanse, sementara versi Rusia menyertakan campuran dua tipe manusia.

 

Virus itu telah diubah untuk vaksin sehingga aman dan tak dapat membuat lebih banyak salinan virusnya ketika di dalam sel. Virus itu mampu mengajari tubuh untuk mengenali virus Corona dengan menyandikan instruksi membuat protein spike, seperti yang ditemukan di permukaan virus Corona.

 

Meski adenovirus telah digunakan dalam vaksin kanker dan terapi gen selama bertahun-tahun. Namun, adenovirus hanya pernah digunakan sekali sebelumnya untuk mencegah infeksi virus, yakni pada vaksin Ebola setelah disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat pada bulan Desember 2019.

 

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

 

(Reporter/Editor : Hadijah Alaydrus; Bahan dari  : https://lifestyle.bisnis.com/read/20210117/106/1343978/lupa-disuntik-vaksin-covid-19-dosis-kedua-bahayakah?utm_source=Desktop&utm_medium=Artikel&utm_campaign=BacaJuga_2)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close