RSS Feed     Twitter     Facebook

Embun Pagi-Ilmu

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 20 views    Font size:
Embun Pagi-Ilmu

(Re-written tulisan lama)-Kajian Sabtu pagi setelah libur lebaran kemarin, KH Slamet Rahardjo, kembali mengulas amalan menuntut ilmu yang nilainya lebih tinggi dari ibadah shalat sunnah. Bukankah ayat yang pertama turun itu perintah baca? (Iqra), sedang surat yang kedua turun itu pena, alat tulis? (Al Qalam).

 

Baca tulis, populer dikalangan muslim Madinah, setelah perang Badr. Tawanan Quraisy yang bisa baca tulis masing2 dikenakan kewajiban mengajar menulis ke 10 anak kecil bagai tebusan kebebasannya. Suatu cara yang brilyan yang diterapkan Rasulullah dalam mengelola tawanan. Dengan demikian, biaya menghidupi tawanan terbayar oleh jasanya mencerdaskan umat muslim saat itu.

 

Nabi SAW seorang yang buta huruf. Dan itu bukanlah hal yang aneh di kalangan bangsawan Arab pada zaman itu. Umumnya seperti Muhammad, mereka juga buta-huruf. Bisa membaca dan menulis, bukanlah tugas kaum bangsawan. Mereka menyerahkan pekerjaan itu kepada para ahli tulis. Namun demikian kesusastraan Arab justru sangat berkembang dan disukai oleh semua kalangan.

 

Mereka senang berkumpul dan mendengarkan para penyair bertutur. Al Quran dengan bahasa yang diturunkan dengan untaian kalimat yang puitis menjadi sebuah keajaiban yang mau tak mau diakui juga oleh kaum yang membenci Islam.

 

Untaian kata2 yang dirangkai indah itu mampu menyejukan hati yang keras dari pemuda gagah perkasa dan cepat naik darah, Umar bin Khattab. Alih2 akan menghajar saudara dan iparnya yang ikut agamanya Muhammad, ia bergetar baca ayat2 suci Al Qur’an. Ada yang mulia yang mengetuk relung paling dalam dari nurani Umar, hingga ia tunduk kepada Islam. Nur-hidayah telah menerangi calon panglima Islam itu.

 

Rangkaian ayat2 dari surat Maryam (QS 19:1-33) yang dibacakan oleh Ja’far bin Abi Thalib kepada raja Najasyi, sehingga raja dan para pemuka istana Abisinia terkejut. Itulah sumber yang sama dari kata-kata Musa dan Isa. Ayat-ayat itulah yang menarik simpati raja Najashi dan melindungi kaum muslimin dari jangkauan tangan-tangan kaum Quraisy yang hendak menyeret mereka kembali ke Mekah.

 

Allah seolah menjungkirkan logika ketika perintah pertama kepada Nabi SAW yang buta huruf itu, “Bacalah!”. Muhammad terkejut dan menjawab,

“Saya tak dapat membaca”. Kemudian Muhammad merasa malaikat mencekiknya dan perintahnya lagi,

“Bacalah!”, dengan gemetar ketakutan Muhammad menjawab,

 

“Apa yang akan saya baca?”. Selanjutnya malaikat itu berkata,

“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya …..” (QS 96:1-5)

 

Perintah baca kepada yang buta huruf, tentulah perintah yang sarat dengan makna dan relevan bahkan sampai batas akhir dunia. Walalhu a’lam bish shawab. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code