RSS Feed     Twitter     Facebook

Ramadhan di Negeri Viking Puasa 18-22 Jam

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 6 views    Font size:
Ramadhan di Negeri Viking Puasa 18-22 Jam

(republika.co.id)-Tahun-2019 jadi Ramadhan ke-10 kami jalani di Norwegia. Kali ini Ramadhan di musim panas. Musim siang begitu panjang, dan malam yang singkat. Ramadhan di kisaran 18 – 22 jam bagi muslim di negara2 yang dekat dengan Kutub Utara jadi terasa istimewa.

 

Saya pakai istilah “memborong siang dan memborong malam”. Ketika siang kami merasakan kenikmatan beribadah sepuasnya. Tadarrus, salat sunnah, mengajari anak mengaji, memperbaiki hafalan Alquran, hingga menyiapkan hidangan berbuka yang termasuk kategori ibadah.

 

Malam yang singkat, kami berpacu dengan waktu berbuka, salat Maghrib, salat isya, dan tarawih yang baru selesai lewat tengah malam. Kami hanya tidur 1-2 jam saja. Harus bangun lagi untuk sahur dan salat subuh. Itu sebulan penuh. Pertama berpuasa Ramadhan di musim panas beberapa tahun lalu, kami sekeluarga cemas. Khawatir, apakah kami sanggup berpuasa hingga 20 jam setiap hari.

 

Persiapan mental dan fisik kami lumayan. Latihan puasa sunnah sebelum Ramadhan, supaya tubuh tidak kaget. Mempersiapkan anak kami berpuasa selagi ia sekolah juga trik sendiri. Kami banyak tanya pada imam masjid Haugesund, juga banyak baca literatur dan fatwa ulama Norwegia dan Eropa tentang fikih puasa Ramadhan di negara dengan waktu siang yang ekstrem panjangnya.

 

Dari bacaan dan diskusi itu kami tahu, ada “rukhsakh” (keringanan2) bagi muslim saat Ramadhan di musim panas. Menurut fatwa “Islamsk Råd Norge” (IRN; Majelis Islam Norwegia) dan “The Islamic Council of Europe” (Majelis Islam Eropa), ada opsi berpuasa di musim panas untuk pegangan.

 

Ada 4 pilihan : Berpuasa sesuai matahari di tempat kami tinggal; atau membagi hari jadi tiga, 16 jam dianggap siang untuk berpuasa, dan 8 jam sisanya sebagai malam hari. Ada yang “membekukan” waktu siang di musim panas jadi 14 jam, berlaku Ramadhan. Pendapat terakhir membolehkan Muslim di Bumi Utara berpuasa ikut waktu Mekkah selama musim panas.

 

Ketika dihadapkan pilihan2 seperti itu, hati kami sejak awal yakin berpuasa sesuai pergerakan normal matahari. Selama Ramadhan di musim panas, waktu terlama kami berpuasa 20,5 jam. Subhanallah!

 

Kalau dibayangkan terasa berat. Awalnya terasa berat. Apalagi membandingkan dengan kebiasaan berpuasa di Indonesia yang durasinya selalu stabil sepanjang masa. Tantangan terberat bukan lagi rasa lapar, karena ketika kami berpuasa lebih dari 15 jam, rasa lapar itu secara ajaib hilang.

 

Yang kami rasakan lemas dan dehidrasi. Karena itu kami gunakan waktu menunggu saat berbuka dengan tidur. Yang tak kalah penting mengatur asupan nutrisi ketika sahur dan berbuka. Banyak minum air, makan sayur, buah, dan makanan berserat serta bergizi seimbang itu syarat mutlak agar puasa panjang kami lancar.

 

Tahun ini puasa masih di musim panas, tapi durasinya tidak selama puasa di tahun2 sebelumnya. Menurut jadwal salat lokal Masjid Falah-ul-Muslimeen di Haugesund, rata-rata durasi puasa kami tahun ini antara 17,5 – 19,5 jam.

 

Semakin mendekati Idul Fitri, puasa akan semakin panjang. Hal ini karena di akhir Ramadhan, kami semakin mendekati puncak musim panas (bulan Juni). InsyaAllah kami akan kuat menjalankannya, berkat tempaan di Ramadhan sebelumnya yang terhitung lebih berat.

 

Puasa kami di Haugesund dan Norwegia umumnya tergolong “singkat” dibanding saudara2 muslim di Finlandia, Alaska, Swedia, dan Rusia bagian utara. Mereka harus berpuasa 23 jam. Allah Musta’an!

 

Dari literatur, ada fatwa khusus bagi yang puasanya lebih dari 22 jam, dengan mengikuti jadwal puasa negara tetangga yang lebih singkat. Selalu ada kemudahan di balik kesulitan. Dan kita harus meyakini  Allah tidak akan memberi ujian dan beban kecuali sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.

 

Yang ingin saya ceritakan toleransi masyarakat Negeri Viking kepada sesamanya. Sebagai minoritas kami bersyukur, kami bisa menjalankan ibadah dan keyakinan dengan tenang, tanpa tatapan curiga atau pembatasan dari pemerintah.

 

Yang penting kami tetap taat aturan hukum di negara ini, dan kegiatan pekerjaan atau sekolah tetap jadi prioritas sebelum kita menjalankan ibadah ritual. Alhamdulillah. (Oleh : Savitry Khairunnisa, Muslim Indonesia di Norwegia; Muhammad Subarkah;  Bahan dari :  https://www.republika.co.id/berita/ramadhan/puasa-journey/pqvhb0385/ramadhan-di-negeri-viking-puasa-1822-jam)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code