Psikologi

Berbagi dan mengasihi

Aku berada dipuncak karir, rasanya apapun bisa kuperoleh dengan uang dan jabatan yang kumiliki. Dunia telah berada dalam genggamanku. Tidak lagi dihinakan, kini aku dipuja dan sangat dihormati.

Banyak orang beranggapan bahwa kekayaan dan materi akan menyelesaikan segalanya. Tetapi hati kecilku tidak bisa berdusta. Ada noktah kekosongan disana. Hatiku galau dan risau memikirkan untuk apa semua pencapaian, prestasi dan kekayaan yang kuperoleh. Aku mengalami kekosongan hati.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, begitu seterusnya, Aku menjalani hari-hari dengan hambar. Tidak ada yang dilakukannya selain bekerja dan bekerja. Sampai suatu ketika di Bulan Ramadhan seorang rekan mengajakku ke suatu tempat.

“ikut sama gua, yuk ” seorang rekan mengajak, tampaknya dia sudah lama mengetahui kegalauan hatiku.
“kemana? Emang mau ngapain” begitu jawabku
“adalah, ikut aja… ngga ada ruginya ikut ama gua” begitu sang rekan mencoba meyakinkan.
Akhirnya Aku bersedia di ajak, toh aku memiliki waktu luang, tak ada ruginya mengikuti ajakannya.

Ternyata dia mengajakku ke sebuah pengajian di Panti Anak Yatim. Sepertinya dia telah terbiasa mengikuti pengajian seperti ini, mungkin sudah lama menjadi salah satu pengurus panti. Akupun larut mengikuti acara pengajian yang diselenggarakan. Pada dasarnya pengajian seperti itu sering aku ikuti kala masih di kampung dulu.

 

Ramai sekali suasana pengajian, namun Aku seperti tidak merasakan kehangatan suasana. Kuperhatikan anak-anak yang duduk bersalawat, mereka adalah anak-anak yang sudah tidak lagi memiliki orang tua. Suara takbir, tahlil dan tasbih sahut menyahut, sementara aku beku di tengah keramaian. Hatiku hampa dan gelisah.

Pengajian selesai tapi acara belum usai, kutinggalkan ruangan. Aku berjalan keluar, masih diseputaran gedung panti. Di tengah temaram bulan yang sedikit bersinar, kulihat sinarnya tersembul sedikit diantara pintalan awan, Aku melangkah perlahan. Kutendangi kerikil-kerikil kecil, mencoba mengatasi kegundahan. Beberapa anak yatim bermain berlarian di halaman panti, kuamati mereka semua.

Tiba-tiba semungil panggilan menyeruak.
“Om, Om.. Om kan yang tadi di dalam ya, tadi ikut pengajian kan?”
Ternyata seorang anak perempuan memanggilku .
“iya nak” “siapa namamu sayang?” Aku balik bertanya
“Aku Nina om”
“cantik sekali Nina, Nina sedang apa ?” Aku membungkukkan badan, berusaha menyamai tinggi anak itu. “Nina sudah sekolah, sekolah dimana?”
“Sudah om, sekolah Nina dekat kok disini”
“pintar-pintar belajar ya nak disekolah,”
“Sini nak, temanin om lihat-lihat panti ya”
Aku pun berkeliling bersama Nina melihat lihat keadaan panti, kami mengobrol penuh canda, kampun pun semakin akrab .

Tiba-tiba Nina menyampaikan sesuatu yang tidak pernah diduga.
“Om hmm om”, suara Nina tercekat.
“ada apa Nina, kok kamu terlihat gelisah? Apa om bisa bantu?
“ini om… Nina boleh minta sesuatu ga, tapi om jangan marah yaaa”
“tentu Nina, om gak akan marah, Nina emang perlu apa?” Aku berjongkok mensejajarkan dengan Nina.
Lama Nina terdiam, wajahnya pucat menahan sekat ditenggorokan. Aku mengelus-elus kepalanya. “ada apa Nina… bilang sama Om, pasti om bantu”

“Om bolehkah Nina memanggil Ayah kepada Om?”

“Om ngga marah kan?”
“Om mau kan jadi ayah Nina?”
Bercecaran Nina mengeluarkan isi hatinya.

Aku terdiam dalam keheningan. Seketika kupeluk Nina, sebuah permintaan yang tidak pernah kuduga.
“tentu anakku, tentu” “Nina boleh memanggil ayah”
Dipeluknya erat-erat Nina, tak terasa airmata telah mengalir, mengisi setiap relung kekosongan hatinya. Inikah petunjukmu ya Rabb, ucapku syukur dalam hati.

Malam semakin larut, saat semesta telah mempertemukan ayah dan anak.
“Nina, ini sudah malam, Ayah pulang dulu, besok ayah kembali, Nina istirahat kan besok harus sekolah”
“Besok mau dibawakan apa Nak sama Ayah?” aku mencoba berpamitan
“Ngga usah ayah, Nina sudah senaaang sekali udah punya ayah”

“Ninaaa, kalau nina tidak minta, ayah tidak mau pulang”
“lihat ini uang ayah, banyaak sekali, Nina tinggal minta , pasti ayah belikan”
“tidak ayah , Nina tidak ingin apa-apa”
“kalau Nina tidak mau , nanti ayah tidak kesini lho besok” Aku sedikit mengancam
Nina terdiam cukup lama, “tapi ayah jangan marah ya”
“iya nak, pasti ayah membawakan”
“Ayah, selama ini Nina ingin memiliki sesuatu”
“apa itu nak?”
“Nina ingin punya foto”
“foto apa nak, ayah bisa bawakan kamera buat Nina, Nina mau kamera?”
“bukan ayah, bukan itu” , ”Nina ingin foto ayah dan ibu”
“loh untuk apa nak”
“buat diperlihatkan disekolah yah, Nina ingin memperlihatkan foto ayah dan ibu, kalau Nina sekarang punya ayah dan ibu”

Aku menangis tersedu, dadaku sesak, pintu langit seperti terbuka, Tuhan telah membukakan mata hati, mengisi setiap relung-relung yang selama ini kosong. Ternyata materi bukan segalanya, kesuksesan bukan akhir dari sebuah kehidupan. Selama ini Aku telah melupakan satu hal yaitu berbagi dan mengasihi. (Suhirto M)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close