Iptek dan Lingk. Hidup

China yang Luar biasa

Dulu ketika bicara tentang China, maka yang muncul adalah: penduduknya banyak (lebih dari 1,3 milyar), kumuh, miskin, dan lebih miskin dari Indonesia. Kalau ada orang Indonesia butuh ginjal : mudah. Nyawa tidak ada harganya. Cari yang ukurannya sama, ditembak juga nggak apa2.

Saat pertengahan bulan lalu menginjak China pertama kali, saya kaget. Cerita yang tersisa hanya bahwa penduduk China memang besar. Tapi ceritera tentang kekumuhan tidak saya lihat. Paling tidak di dua kota yang sudah saya kunjungi, yaitu Guangzhou dan ShenZhen.

Saya pernah mengunjungi USA-Kanada-Eropa-Australia tetapi setelah menginjak kota Guangzhou, kota itu, saat ini tidak kalah dengan kota-kota di barat itu. Juga kota di dekatnya, ShenZhen. Dari sisi keindahan, kebersihan, ketertiban kota, kelengkapan infrastruktur, cara pengelolaan kota.

Luar biasanya China ini mulai masa Deng Xiao Ping. Tahun 1978 bisa dibilang China “merdeka”, dan membangun, dilihat dari sisi keterbukaan. Indonesia, konon baru mulai membangun 1967, saat pak Harto mulai memerintah. Indonesia lebih dulu 11 tahun “mulai membangun”.

Guangzhou berpenduduk 12,7 juta dan Jakarta yang 9,1 juta di malam hari, (12,6 juta di siang hari). Artinya, antara Jakarta dan Guangzhou setara. Jakarta mulai dibangun pada tahun 1967 (jaman Ali Sadikin), dan Guangzhou baru mulai tahun 1978 (setelah Deng Xiao Ping).

Guangzhou, fasilitas dan infrastrukturnya jauh melebihi Jakarta. Macet terjadi saat jam berangkat dan pulang kantor, di lampu2 merah. Pembangunan infrastruktur jalan dan fasilitas angkutan umum, angkutan umum massal luar biasa. Jumlah bis, frekuensi keberangkatan, trayeknya memadai, dan terintegrasi dengan semua moda transportasi lainnya, termasuk kereta..

Fasilitas jalan lebar. Trotoir rapi-bersih. Hanya di beberapa jalan ada pedagang k5. Guangzhou punya semacam “Malioboro” (di Beijing Lu-atau jalan Beijing), tempat pertokoan dan orang berjalan, tetapi bebas dari pedagang k5 sehingga nyaman. Persis “Malioboro”nya kota2 di Barat, bebas dari lalu lalang mobil, nyaman untuk shopping..

Di Guangzhou tidak ada “kampung” atau gang di belakang jalan. Semua rumah naik ke atas.. Rumah susun, apartemen. Setelah saya perhatikan tidak ada sepeda motor yang hanya diijinkan di kota2 kecil. Karena kalau jumlahnya mendominasi jalan, maka itu menjadi sumber kemacetan dan permasalahan tingginya kecelakaan, kematian, parkir. Kebutuhan transportasi dipenuhi bis dan kereta yang memadai.

 

Juga disiplin semua pihak, tidak adanya bis jalan pelan cari penumpang, ngetem, parkir seenaknya. Semua bis berjalan sesuai jadwal dan berhenti di halte yang ditentukan. Kebijakan ini mempengaruhi urusan lainnya, misalnya kebutuhan lahan parkir. Karena harus berjalan, dari halte ke halte atau stasiun (yang naik angkutan umum) atau dari tempat parkir, maka semua warga harus “berolahraga”. Sehingga pasien obesitas relatif kecil.

 

Jaman Belanda, (politik devide et impera), orang China di Indonesia “ditempatkan” di Pecinan, dijadikan warga negara kelas 2 setelah orang Eropa tapi di atas orang pribumi. Hanya boleh bisnis tidak boleh duduk di pemerintahan. Ini adalah urusan orang Eropa, dibantu untuk tingkat rendahnya adalah orang pribumi sebagai ambtenar.

 

Pembangunan Guangzhou sejak 1978,  saat ini jauh lebih unggul dibanding Jakarta. Artinya, kalau diberi kesempatan, orang China lebih unggul dalam “mengelola pemerintahan dan pembangunan”, karena pembangunan lebih komprehensif dan antar sektor lebih terintegrasi. (Agus Suryono)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close