Selingan

Abimanyu gugur-(2)

Episode kedua, merupakan kelanjutan dari email (yang dikirimkan ± sebulan sebelum almarhum Kushariyanto wafat) yang juga penulis dan pemain wayang. Berikut dalam upaya mengenang salah sau kelebihan yang bersangkutan :

Pasukan Gatotkaca-pun sudah mulai menjauh dari Abimanyu. Ksatria itu didesak oleh pasukan Adipati Karna . Kemanapun Gatotkaca bergerak selalu di ikuti oleh Karna dari atas keretanya, dengan Panah Konta Wijayandanu yang siap dilepaskan.

 

Bukannya Gatotkaca jerih menghadapi Karna , namun ia merasa bahwa bukan saatnya dirinya bertarung “one on one” dengan Raja Awangga itu. Gatotkaca masih punya kewajiban membinasakan jagoan Kurawa sebanyaknya, sehingga tanpa terasa pasukannya mulai tergeser dibawah tekanan prajurit Adipati Karna.

 

Begitu pula pasukan Arjuna yang terhalang oleh rapatnya barisan prajurit pilihan Kurawa. Mereka membentengi diri dengan tameng waja yang kuat, namun disela2 tameng itu, beribu-ribu anak panah telah diluncurkan.

 

Melihat pasukan Abimanyu yang telah lepas dari barisan pendampingnya , Jayadrata tersenyum. Niatnya untuk membuat sakit hati Arjuna bakal terlaksana. Segera gelar Cakrabyuha berputar lebih cepat , sehingga Abimanyu dan pasukannya seperti terhisap pusaran air. Hanya Abimanyu yang mampu berputar mengikuti arah Cakrabyuha, sambil busurnya tanpa henti menembakkan anak panah.

 

Pasukan Abimanyu hancur , pasukan Jayadrata tinggal separuh.

Namun ditengah kepungan itu tinggal Abimanyu sendirian yang berdiri dengan gagahnya. Ia dikelilingi para Ksatria Kurawa yang telah siap meranjab tubuhnya dengan berbagai senjata. Busur Abimanyu telah patah , dan anak panahnya tak tersisa.

 

Jayadrata, Kertawarma, Burisrawa, Kertipeya, Durmuka, Durmagati, Citraksa, Citraksi telah mengepung Abimanyu. Tak ketinggalan putra mahkota Hastinapura, Raden Lesmana Mandrakumara yang berada di induk pasukan telah bergabung dan siap mengroyok Sang Abimanyu. Dendam, akibat kalah bersaing memperebutkan Dewi Siti Sendari putra Kresna, meenyebabkan ia kehilangan kendali.

 

“ Binasalah kau, anak Arjuna …mati kau….“ teriak Lesmana Mandrakumara , anak kesayangan Prabu Duryudana , panahnya menembus bahu kiri Abimanyu. Belum selesai teriakan Lesmana , ia segera terkapar berkelojotan terkena lemparan Keris Kyai Pulanggeni , senjata terakhir Abimanyu.

 

Melihat Putra Mahkota Hastinapura gugur , para Panglima Kurawa murka, mereka berteriak-teriak sambil melepaskan panah, tombak, limpung, candrasa ketubuh Abimanyu. Ribuan senjata mengenai kusir, kereta perang Nagabanda, kuda, remuk. Ratusan panah meranjab tubuh, lengan, muka, hingga ke kaki Sang Partaatmaja.

 

Namun Abimanyu  hanya tertawa……….

Ia tak menyerah dan malah bersemangat, dan ia mengambil apa saja yang ada didekatnya untuk menyerang balik para Kurawa. Roda kereta , potongan pedang , bahkan ia mulai mencabuti tombak yang menancap ditubuhnya sendiri untuk melawan.

 

Yang terakhir , Jayadrata melemparkan senjatanya Kyai Glinggang menerpa kepala Abimanyu dan remuk seketika. Raganya mulai sempoyongan, darah bagaikan terkuras dari tubuhnya. Akhirnya ia roboh dengan luka “ arang kranjang “ di rancap senjata musuh. Panah dan tombak bagaikan duri landak menancap di tubuh ksatria muda belia.

 

Jazadnya ditinggalkan dipadang Kurusetra begitu saja oleh Kurawa yang mabuk kemenangan.

Duh dewa batara…….kemana perginya sukma meninggalkan raga.

 

Dan inilah nukilan dari Kakawin Baratayuda :

“ Ri pati Sang Abhimanyu ring ranānggana. Tənyuh araras kadi çéwaling tahang mas. Hanana ngaraga kālaning pajang lèk. Çinaçah alindi sahantimun ginintən “

 

“ Ketika Abimanyu terbunuh dalam pertempuran, badannya hancur. Indah untuk dilihat bagaikan lumut dalam periuk emas. Mayatnya terlihat dalam sinar bulan dan telah tercabik-cabik, sehingga menjadi halus seperti mentimun yang dicacah “.

 

Senja mulai temaram, langit semburat kemerahan di ufuk barat. Mega-mega berarak dihembus oleh angin dan sekumpulan burung bangau terbang ke utara menuju ke sarangnya masing-masing.

Sangkakala tanda perang berakhir telah berbunyi, panjang dan terasa ngelangut. Seolah mengantarkan ribuan nyawa yang pulang ke keabadian.

 

Burung kedasih dan emprit ganthil berbunyi tanpa henti , pertanda terjadi rajapati. Arawah Sang Abimanyu.mengambang di udara, dijemput para Bidadari surga, menuju kahyangan Nusarukmi……surganya para Ksatria. (TANCEP KAYON. salam ; yanto;)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close