Pengalaman Anggota

Soto Minimalis Kok Bisa Ya?

Tahun 1960 sekian merupakan masa sulit. Hitungannya begini : Saat itu pendapatan perkapita rakyat Indonesia masih 1/6 pendapatan sekarang. Jadi kalau ada orang berpendapatan 6 juta sebulan sekarang, itu setara dengan hanya 1 juta saja (dengan nilai uang sekarang).

 

Kalau jaman kini ada kepala rumah tangga berpendapatan 3 juta sebulan dengan anak 3, kalau hidup di jaman itu setara berpenghasilan 500 ribu (nilai uang sekarang). Bayangkan bagaimana bisa cukup. Makanya saat itu jangankan sepeda motor, sepeda bekas saja mayoritas rakyat tidak kuat membeli.

Alkisah, Pak Johar punya kakak bernama Mawar yang mempunyai anak bernama Melati berumur dua tahun. Sebagai anak kecil terkadang sulit makan. Waktu itu dia lagi seneng makan dengan kuah, tentunya kuah yang tidak pedas, seperti masakan untuk orang dewasa. Maka ‘terpaksa’ dia dibelikan soto ayam di warung yang berjarak 500 meter dari rumah dengan berjalan kaki.

 

Setiap hari Pak Johar yang masih sekolah SMP membeli soto untuk kemenakannya itu. Soto gaya Jawa Tengah yang manis dan tanpa merica (tidak ada rasa pedas). Kadang Pak Johar kecil malas dan capek juga, apalagi kalau hari hujan.

Pada suatu hari si Melati maunya makan dengan kuah, sementara Pak Johar kecil tidak bisa membelikan di warung yang 500 meter dari rumahnya itu. Ya sudah, oleh kakak Pak Johar, dibuat soto sendiri saja dengan bahan seadanya. Minimalis kata orang sekarang.

 

Soto itu dibuat dari so-on yang disiram dengan air panas, lalu ditambah dengan daun seledri, kecap manis dan bawang merah goreng. Eh, ternyata enak dan berbau sedap juga. Maka si Melati mau makan dengan soto minimalis itu. KBY. Kok bisa ya ? (Widartoks 2015)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close