Iptek dan Lingk. Hidup

5G Untuk Keselamatan Berkendara Operasi Jarak Jauh

(teknologi.bisnis.com)-JAKARTA; Selama ini pemangku kepentingan gamang saat memperhitungkan investasi yang harus dikucurkan menerapkan 5G. Toh, kehebatan latensi teknologi generasi kelima, ini ada banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

 

Dalam acara 5G Open Mindset di Jakarta, Jumat (11/10), Huawei memaparkan latensi yang rendah, 5G dapat menghadirkan banyak solusi keselamatan, salah satunya saat diimplementasikan dalam automasi mobil.

 

Technical Trainer of Huawei SP Muhammad Johan Arshad mengatakan 5G jadi teknologi yang dapat diandalkan mendukung automasi mobil lantaran tingkat latensinya rendah. Teknologi 5G memiliki latensi 1 milidetik, jauh dibanding 4G yang memiliki latensi 50 milidetik dan 3G yang 100 milidetik.

 

Latensi adalah jeda waktu yang dibutuhkan dalam pengantaran data dari pengirim ke penerima. Makin tinggi jeda, makin lambat penerima merespons perintah dari pengirim.

 

Johan membandingkan ketika masing-masing teknologi diimplementasikan di automasi mobil. Teknologi 3G dengan tingkat latensi 100 milidetik tidak dapat mendukung automasi mobil dan dipastikan akan menabrak benda yang ada di depannya ketika diperintahkan untuk berhenti oleh sensor mobil.

 

Sebab, dengan latensi 100 milidetik, mobil baru merespons perintah ketika sudah berjalan sepanjang 330 cm dari saat mobil mendapat perintah. Artinya, ketika mobil mendapat perintah berhenti di jarak 1.000 meter, mobil baru akan merespons 330 cm kemudian.

 

Demikian pula, karakteristik latensi 50 milidetik dari 4G masih berisiko diterapkan dalam automasi mobil. Berdasarkan perhitungan Johan, dengan 4G, mobil baru menaati perintah setelah berjalan 167 cm dari jarak mobil tersebut mendapat perintah berhenti.

 

Adapun, 5G jadi teknologi paling tepat untuk mendukung operasional automobile.  Dengan latensi 1 milidetik, kendaraan langsung menjalakan perintah dari sensor.  “Dengan 5G, angka kecelakaan dapat ditekan,” kata Johan kepada Bisnis.

 

Johan menceritakan teknologi 5G yang terpasang di base transceiver station (BTS) akan menghubungkan kendaraan dengan kendaraan, kendaraan dengan manusia, dan kendaraan dengan bangunan, sehingga ketiga benda tersebut akan ditolak oleh mobil ketika berada di jarak tertentu.

 

Dua sensor yang masing-masing terpasang di depan, samping dan belakang mobil, akan terus menjaga jarak aman mobil sehingga ketika ada benda yang berdekatan, mobil akan langsung mengelak seperti 2 kutub magnet serupa yang didekatkan.

 

Dalam bayangannya, ketika 5G diterapkan secara efektif, fungsi lampu lalu lintas akan berkurang drastis, karena setiap kendaraan telah berjalan dengan sistem jaringan 5G. “Kendaraan di dunia akan terlihat sopan nantinya karena tidak ada yang ugal-ugalan,” kata Johan.

 

Latensi itu kekuatan 5G, juga membantu operasi jarak jauh lintas pulau bahkan benua. China Unicom, perusahaan telekomunikasi China, telah menguji coba 5G untuk industri kesehatan. Latensi rendah 5G dimanfaatkan untuk mendukung jalannya operasi lambung pada seekor babi di Fuzhou, Provinsi Fujian.

 

Dalam proses operasi itu, lobulus hati babi dikeluarkan oleh dokter yang mengendalikan lengan bedah robotik. Dengan latensi 0,1 detik dari koneksi 5G milik Huawei Technologies, operasi tersebut terbilang sukses, hanya meninggalkan luka bedah kecil.

 

Teknologi 5G memberi lantesi hingga 20x lipat dibanding 4G. Berhasilnya operasi ini membuka kemungkinan pada masa depan operasi dapat dilakukan dari  jarak jauh, khususnya di daerah rawan bencana atau di daerah perbatasan, sehingga tim medis tidak perlu lagi hadir ke lokasi.

 

Hadirnya 5G diharapkan memudahkan dokter di RS pusat berkordinasi dengan RS di kawasan terpencil. Di Hamburg Port Authority (HPA), Jerman, kekuatan latensi 5G juga diandalkan untuk mengendarai pesawat nirawak dalam pemantauan kerja di pelabuhan.

 

HPA, pelabuhan terbesar di Jerman, pakai 5G sejak 2018. Di sana ada belasan drone yang digerakkan dari jarak jauh guna memantau proses peletakan peti kemas. Drone ini berputar puluhan kali seputar pelabuhan untuk memberi informasi kondisi terkini posisi peti kemas, sehingga pusat kendali dapat mengarahkan kapal peti kemas ke tempat berlabuh yang tepat, yaitu tempat penumpukan peti kosong.

 

Pengelola HPA mempertahankan waktu delay di bawah 2 milidetik mengendarai drone. Rata-rata drone di HPA berkecepatan di atas 5 km/jam sehingga butuh latensi rendah mengendalikannya. Pemanfaatan drone di HPA mengedepankan aspek keselamatan. Selama pakai drone sebagai alat pemantau, tingkat kecelakaan di HPA diklaim menurun karena tidak ada lagi manusia yang turun ke lapangan.

 

Penetrasi Pasar

Pada waktu berbeda, laporan yang berjudul 5G in ASEAN: Reigniting Growth in Enterprise and Consumer Markets yang diselanggarakan Cisco dan A.T Kearney Analysis menyebutkan pada 2025 penetrasi 5G diperkirakan bisa 25 – 40% di negara Asean. Adapun, penetrasi 5G di Indonesia diperkirakan 27%.

 

Total pelanggan layanan 5G di ASEAN diperkirakan lebih dari 200 juta, dan mayoritas pelanggan berasal dari Indonesia  yaitu lebih dari 100 juta pelanggan. Dengan tingkat penetrasi dan jumlah pelanggan 5G di Asia Tenggara, diperkirakan operator telekomunikasi di Asean akan berinvestasi US$10 miliar untuk pembangunan infrastruktur 5G pada 2025.

 

Jika nilai investasi yang digelontorkan, apakah Indonesia bisa menerapkan 5G? Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro ITB Ian Yosef M. Edward mengatakan implementasi 5G beberapa kasus mungkin dapat diterapkan setelah kepastian frekuensi rampung. Namun, automasi mobil, lalu lintas di Indonesia, khususnya Jakarta, menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki.

 

“Kalau di Indonesia lalu lintasnya kacau, harus diperbaiki dahulu, karena kalau kendaraan sudah menyalip, tidak ada yang tahu [arahnya] termasuk latensi 5G,” kata Ian.

 

(Leo Dwi Jatmiko;  Wike Dita Herlinda; Bahan dari : https://teknologi.bisnis.com/read/20191014/84/1158808/teknologi-5g-untuk-keselamatan-berkendara-operasi-jarak-jauh)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close