Iptek dan Lingk. Hidup

Penjelasan Kemenag Soal Viral Al Quran Palsu

(suara.com)-Sebenarnya berikut ini adalah sajian lama Namun masih relevan kita muat lagi mengingat Hoax ini masih ada saja di pesan singkat grup WA. Monggo kisahnya :

 

Minggu (23/10/2016) dan diawal tahun bawu 2020 medsos dihebohkan viral yang menyebutkan ada Al Quran palsu. Dalam viral mempermasalahkan soal terjemaah surat Al Maidah ayat 51 tentang arti kata awliya. Di viral itu awliya diartikan teman setia. Sementara terjemahan Al Quran yang lain diartikan pemimpin

 

Kemenag, di situs resmi mejelaskan masalahnya. Pgs Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag, Muchlis M Hanafi memaparkan lengkap. Berikut penjelasan Hanafi:

 

Pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar, kata awliya pada QS Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai teman setia. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag, menjelaskan terjemahan Al-Quran ini merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al Quran Kemenag yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.

 

Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di medsos, terjemahan kata awliyapada QS Al-Maidah: 51 disebutkan berganti dari ‘pemimpin’ jadi ‘teman setia’. Postingan itu menyertakan foto halaman terjemah QS Al-Maidah: 51 dengan keterangan yang menyebutnya sebagai ‘Al-Quran palsu’.

 

“Tidak benar kabar yang menyatakan terjadi pengeditan terjemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan pengeditan dilakukan atas instruksi Kemenag juga tidak berdasar,” tegas Muchlis di Jakarta.

 

Kata awliyadi di Al-Quran disebutkan 42x dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kemenag edisi revisi 1998 – 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata awliya diterjemahkan dengan pemimpin. Pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan teman setia.

 

Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai pelindung, dan pada QS. Al-Nisa/4: 89 diterjemahkan teman-teman. Terjemahan Al-Quran Kemenag, pertama terbit tahun 1965. Terjemahan ini mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan ulama dan ahli di bidangnya, Kemenag sebagai fasilitator.

 

Penyempurnaan dan perbaikan ini meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi, terangnya.

 

Pada terjemahan Kemenag edisi perdana (1965), kata awliyapada QS. Ali Imran/3: 28 dan QS. Al-Nisa/4: 144 tidak diterjemahkan. Terjemahan QS. Al-Nisa/4: 144, berbunyi: Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.

 

Pada kata wali diberi catatan kaki: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki kata wali pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya awliya, berarti teman akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong, jelas Muchlis.

 

Terkait penyebutan ‘Al-Quran palsu’ yang beredar di medsos, Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini mengatakan, terjemahan Al-Quran bukan Al-Quran. Terjemahan, hasil pemahaman penerjemah terhadap Al-Quran. Karenanya, sebagian ulama keberatan istilah terjemahan Al-Quran. Mereka lebih senang menyebutnya dengan terjemahan makna Al-Quran.

 

Tidak seluruh makna Al-Quran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Al-Quran dikenal kaya kosa kata dan makna. Sering, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Karena itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya, paparnya.

 

Terkait kata atau kalimat di Al-Quran yang menyedot perhatian dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan ke para ulama Al-Quran untuk kembali membahas dan mendiskusikan. Kini, tim yang terdiri dari ulama Al-Quran dan ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, menelaah terjemahan Al-Quran dari berbagai aspeknya.

 

Mereka itu : Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Huzaimah T Yanggo, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Dr. KH. A. Malik Madani, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Dr. Muchlis M Hanafi, Prof. Dr. Rosehan Anwar, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Dr. Amir Faesal Fath, Dr. Abbas Mansur Tamam, Dr. Umi Husnul Khotimah, Dr. Abdul Ghaffar Ruskhan, Dr. Dora Amalia, Dr. Sriyanto, dan lainnya.

 

Teks Al-Quran, seperti kata Sayyiduna Ali, hammalun dzu wujuh, mengandung aneka ragam penafsiran. Karena itu, Kemenag berharap umat Islam menghormati keragaman pemahaman keagamaan, urainya.

 

Menurut Muchlis, terbitan terjemah Al-Quran jadi sarana bagi masyarakat untuk memahami isi kandungan ayat suci. Namun, ia ingatkan, dalam memahami ayat Al-Quran, hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya.

 

(Pebriansyah Ariefana; Bahan dari : https://www.suara.com/news/2016/10/23/154902/ini-penjelasan-lengkap-kemenag-soal-viral-al-quran-palsu)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close