Iptek dan Lingk. Hidup

Embun Pagi-Lingkungan

Cucuku, Kung ingat saat menyewa perahu pasir dari bawah jembatan lama Citarum di hilir Saguling, menuju ke arah Cirata. Perahu klotok perlahan menyusuri sungai, melewati busur jembatan Rajamandala yang lebih baru yg lengkungannya jauh tinggi diatas kepala.

 

Jembatan tanpa tiang ini hanya bisa dinikmati kecantikannya dari muka air dibawahnya. Dipinggir sungai tampak orang menebar jala dan kilatan ikan menggelepar nampak terperangkap pada cincin besi di ujungnya. Ada pula yg menarik serok bambu dengan tali panjang, menggerus dasar sungai dan segera menangkapi udang kecil yg berloncatan dan memasukan ke dalam kepu bambu di pinggangnya.

 

Perahu kemudian melewati bawah jembatan kereta api, rute Bandung Sukabumi. Bila sedang beruntung, Kung bisa mendengar sayup2 suara lengkingan lokomotifnya sebelum menderu melewati jembatan dan berhenti di setasiun Rajamandala.

 

Perahu pelahan melewati tiang jembatan buatan jaman Belanda yg kokoh, Kung melihat petugas membersihkan dahan dan ranting kering yang nyangkut di pilar jembatan. Kiri kanan sungai kini sudah berganti pemandangan. Tebing curam setinggi sekitar dua puluh meter, di kedua sisi sungai, membuat penumpang perahu sejenak tercekam udara dingin.

 

Pada dinding batu yg basah nampak, garis-garis bekas sendimen, patahan, yang tercetak pada dinding batu, mungkin sejak jutaan tahun yang lalu. Warna setiap garis sendimen terkadang ber-ubah2 hitam, hijau tua, merah tua kadang putih menyolok.

 

Yang nampak jelas, garis lurus sejajar muka air, menandakan sungai ini kadang pasang naik, kadang turun, dengan beda ketinggian lebih dari 1 meter. Di sebelah kanan, perahu melewati air terjun dari sungai kecil yang menumpahkan airnya ke Citarum. Selain burung2 sriti yg terbang sambar-menyambar mengais buih sungai, ada juga burung hitam dengan bulu bawah sayap berwarna biru menyolok.

 

Panjang dua dinding batu itu hanya sekitar dua ratus meter, kembali tepi sungai agak landai. Kedua sisi terdapat hutan jati yg rimbun, kadang diseling oleh pohon2 mahoni, atau sejenis pohon tinggi bercabang dengan warna daun hijau tua dan kulit batangnya berwarna putih cerah. Sayup-sayup terdengar suara kera dengan nada yg khas, berteriak bersautan.

 

Kadang Kung melihat di atas awan, sepasang elang terbang dengan anggun di sekitar puncak bukit, tentu sarangnya ada di sana. Kelompok bebek nampak berenang dipinggiran sungai, paruhnya nampak dengan rajin menyeruput air dan menemukan udang, ikan kecil atau siput. Perahu menepi dan kami meloncat turun, Kung minta di jemput sekitar dua jam lagi.

 

Itu kisah lebih dari 20 tahun yang lalu. Kini Citarum sedang lara, merintih tanpa sempat berdoa, menjadi tempat sampah raksasa, terkenal sebagai sungai yg paling tercemar sedunia. Hutannya gersang, kayu jati milik Perhutani habis dicuri. Pemda dan ulamanya  kewalahan.

 

Padahal masyarakat Jawa Barat sangat agamis. Tidak kurang 8 ayat tentang pengelolaan lingkungan dalam Kitab Suci, sudah cukup banyak petunjuk Allah, namun tidak cukup juga untuk menyadarkan kita. (Sadhono Hadi EP 024; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close