Psikologi

Menyayangi Ibu

Aku mempunyai  pasangan hidup dan Aku mempunyai ibu…
Saat senang aku cari pasanganku. Saat sedih aku cari ibuku…
Saat sukses aku ceritakan pada pasanganku. Saat gagal aku ceritakan pada ibuku…
Saat bahagia aku peluk erat pasanganku. Saat sedih aku peluk erat ibuku…

Saat liburan aku bawa pasanganku. Saat aku kesal aku mampir ke rumah ibuku…
Saat sambut hari ibu aku cuma dapat ucapkan “Selamat Hari Ibu”…
Selalu aku ingat pasanganku. Selalu ibuku yang ingat aku…

Setiap saat  aku akan telpon pasanganku. Kalau lagi inget  aku akan telpon ibuku…
Selalu aku belikan hadiah untuk pasanganku. Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk ibuku…
“Kalau kau sudah habis belajar dan berkerja, bolehkah kau kirim uang untuk ibu ?? Ibu tidak minta banyak, beri semampumu pun cukuplah.”

Berderai air mata jika kita mendengarnya…
Tapi kalau ibu sudah tiada…
IBU…
AKU RINDU…
AKU RIIINDDUU…
SANGAT RINDUUUUU…

Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya…
Berapa banyak yang sanggup melap  muntah ibunya…
Berapa banyak yang sanggup mengganti lampin ibunya…
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya…
Berapa banyak yang sanggup berhenti bekerja untuk menjaga ibunya…
Dan akhir sekali, berapa banyak yang mendoakan JENAZAH ibunya …
Surga di telapak kaki IBU… Ingat, Ibu adalah pintu surga bagimu !!!.

Tidak ada kata terlambat.. * Yuuk kita sayangi ibu kita.. * Yuuk kita sayangi ibu kita..
* Yuuk kita sayangi ibu kita.
Dan juga kita sayangi ayah kita…. baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal (Mahmur S-72; dari grup sebelah)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close