Iptek dan Lingk. Hidup

Stephen Hawking (TA 252)

Ilmuwan paling terkemuka saat ini minggu lalu wafat. Panggilan Tuhan yang tak diakuinya, tiba juga, tanpa ia bisa menolaknya. Tuhan yang tidak diakuinya, memberi kesempatan ia hidup lebih panjang dari hanya 2-5 tahun bagi penderita ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) hingga lebih dari setengah abad.

 

Hawkins mendapat waktu sangat panjang, namun hidayah tidak kunjung singgah di relung hatinya, terbentur tembok rasionalitas yang tebal. Sampai usia (76) saat ia wafat, ia meyakini tidak ada campur tangan Tuhan dalam teori Big Bang, tentang terbentuknya jagad raya ini. Adanya gravitasi yang menciptakan sendiri keseimbangan dalam terbentuknya jagad raya beserta segala isinya.

 

Kita hormati pendapat Hawkins, tidak ada campur tangan Tuhan dalam keseimbangan gravitasi, namun tentang adanya keseimbangan itu sudah disebutkan dalam Al Qur’an, 14 abad silam, saat orang belum mengenal susunan dan garis edar tatasurya (matahari, planet, bintang, bulan, komet dan asteroid), galaksi dan klaster galaksi, seperti dalam surat Al Mulk (QS 67:3),

 

“… Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah sesuatu yang tidak seimbang?”. Perhatikan suasana ilmu astronomi saat itu, mungkinkah selain penciptanya yang mampu berfirman seperti itu ?

 

Melanjutkan temuan Edwin Powell Humble (1929), Hawkins menyelesaikan perhitungan matematika yang teramat rumit mengenai gerakan galaksi2 kearah merah (red-shift), membuktikan gerakan menjauh sesuai hukum fisika efek-Doppler sebagai penjelasan bahwa jagad raya ini makin mengembang.

 

Padahal firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat (QS 51:47), “….Langit Kami bangun dengan kekuasaan  (Kami), dan Kami benar2 mengembangkannya”. Dan firman itu tertulis jauh mendahului jamannya

 

Sementara para pengkritik Teori Big Bang, seperti Harun Yahya dan Fred Hoyle berpendapat, kalau benar nyata Dentuman dahsyat itu awal muasalnya jagad raya, tentu materi akan tersebar keseluruh penjuru dengan acak.

 

Namun tidak demikian, ketelitian dentuman dalam ukuran seper minus pangkat 32 detik dan bila pengembangan ini berselisih kurang atau lebih dari 10-18 detik saja, isi jagad raya ini akan saling bertubrukan dan bumi tidak akan pernah ada.

 

Fred Hoyle menggambarkan dentuman itu seolah ledakan di gudang gandum dan gandumnya muncrat ke-mana2 sudah dalam karung dan kemudian tersusun rapih ke arah barisan truk yang berjajar, karung2 itu berisi planet, bintang, galaksi, klaster, super klaster itu yang beredar dengan teratur. Lalu siapa yang mengatur ini semua?

 

Namun sebagai sosok ilmuwan handal yang mengalami kekurangan fisik yang luar biasa, kita mengenang betapa kesabarannya menghadapi keterbasannya, tentang itu, Ilmuwan itu menjawab bijak,

 

“Bagi saya, marah pada cacat yang saya derita hanya mem-buang2 waktu. Kita harus melanjutkan hidup ini dan saya berusaha tidak marah. Orang2 tidak akan mau menyisihkan waktu untuk Anda jika Anda selalu marah atau mengeluh.” Luar Biasa. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close