Pengalaman Anggota

Aku menyusuri Sungai Citarum

Hari iti saya menyisir sungai Citarum penggalan Kampung Mahmud-Dayeuhkolot. Satu jam perjalanan dari rumah (09.00-10.00) untuk sampai di kampung Mahmud, sekaligus sebagai pemanasan memilih jalan memutar.

Karena sudah diniatkan menyisir sungai Citarum, maka setelah meninggalkan kampung Mahmud saya tidak belok kanan naik ke jalan raya Soreang, melainkan langsung menerobos bawah jembatan melewati jalan sempit yang kondisinya kurang baik.

Djaka menyusur S-Citarum-2Di banyak tempat menghadang kubangan air besar bercampur lumpur yang memerlukan kehati-hatian. Jangan pula terlena mengikuti arus jalan besar yang kebetulan sedang bersinggungan dengan pinggir sungai karena kita akan terbawa menjauh dari sungai.

Ada pula anak sungai yang lebar yang bisa mengecoh kita karena menyangka masih menyisir sungai Citarum, padahal sudah beralih ke anak sungai. Memasuki daerah Kopo Ketapang, saya melihat geliat ekonomi penduduk yang beraneka-ragam.

Ada sejumlah gudang dan pengumpul bungkus plastik lebar. Pekerja mensortir dari tumpukan plastik, bungkus2 plastik lebar untuk dibersihkan dan dilipat lalu disimpan dalam susunan yang rapih. Di tempat lain saya melihat orang mengerjakan lahan pinggir sungai untuk ditanami bibit jagung.

Itu tanah negara namun daripada tidak terurus maka mereka kerjakan agar bisa menghasilkan. Selain jagung, terlihat juga ketela pohon, ubi jalar dan kacang panjang. Memasuki desa Sangkanhurip, tepian sungai tampak terawat bahkan ada taman dan trotoir jalan sempit untuk pejalan kaki. Sejumlah anak muda bermain gitar dan duduk-duduk santai pada bangku-bangku beton.

Di daerah Rancamanyar saya melihat seorang kakek duduk di atas tanah samping rumah dan tumpukan daun serai bertebaran di sekelilingnya. Dengan sabar dia membersikan daun2 serai itu untuk diikat. Dia menekuni pekerjaannya itu di sepanjang tahun karena tanaman serai tidak terkendala oleh musim.

Dijualnya daun serai itu ke Pasar Rancamanyar. Di seberang sungai di depan rumah petani serai ini, adalah lapangan latih

Djaka menyusur S-Citarum-3Memasuki daerah Dayeuhkolot, saya berhenti, berbincang dengan perajin sangkar burung. Beberapa motor sedang dipersiapkan untuk mengangkut setumpuk sangkar burung yang diikat rapih di belakang. Sangkar burung itu masih mentah, belum dipernis. Perajin itu juga mengirim sangkar2 burung produksi rumahannya ke Jakarta.

Menjelang lohor saya berhenti di sebuah masjid kecil untuk beristirahat sejenak, mengambil air wudhu dan berganti pakaian bersih. Hanya satu sof dengan jumlah jamaah tidak lebih dari 10 orang yang shalat lohor berjamaah.

Usai shalat saat bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan, imam masjid mengajak berbincang-bincang. Dia berasal dari Purworedjo, mengetahui banyak tentang Telkom walau bukan orang Telkom. Tentang Radio Palasari, menara antena yang tinggal satu untuk monumen, STT Telkom.

Banyak orang Radio yang tidak “selamat” (anggota SB Postel yang dipecat karena peristiwa G30S) bahkan kompleks perumahan Telkom di Kebon Kopi juga diketahuinya. Ternyata ada pensiunan Telkom di kampung dekat masjid, pak Soma namanya, yang pensiunan dari Bali. Rupanya dia tahu tentang Telkom dari pak Soma ini.

Setelah menyeberang sungai Citarum pada sebuah jembatan gantung, saya sampai ke jalan Dayeuhkolot menuju pulang melalui jalan-jalan kota yang padat kendaraan. Hujan deras membuat saya menepi bernaung di emper toko bersama banyak pengendara motor.

Setelah mengamankan kamera dan HP ke dalam kantong plastik yg sudah saya siapkan dan saya masukkan kedalam tas punggung, sayapun meneruskan perjalanan di bawah guyuran hujan yang sudah mulai mereda. Rencana berikutnya menyisir sungai Citarum etape Dayeuhkolot-Sapan (ke hulu), atau etape kampung Mahmud-Saguling (ke hilir). (Djaka Rubianto)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close