Selingan

Generasi Tangguh

Tahun-tahun 1943 sampai 1949 adalah tahun2 sulit bagi bangsa kami. Tahun2 pahit dibawah kaki serdadu Jepang sampai awal Republik baru belajar merdeka diganggu oleh tentera Belanda yang ingin kembali meneguk madunya Nusantara yang sempat terebut saat PD II. Generasi yang banyak masa kecil bahkan lahir di pengungsian.

 

Mereka tidur dibawah selimut kain batik usang tipis yang tiris karena tetesan atap bocor yang belum sempat dibenahi. Mereka dalam dekapan ibunya yang pontang panting mengungsi dibawa oleh derikan roda pedati. Mereka tidak tahu Bapak atau pamannya berjuang entah dimana. Mereka yang kehilangan kakak atau pamannya gugur diterjang peluru tentera pendudukan.

Generasi tangguh yang sempat makan burgur, atau nasi jagung. Generasi yang sempat makan hanya berlauk terasi atau rebusan rebung muda yang tidak sempat menjadi bamboo runcing. Generasi yang tulangnya liat karena banyak makan ulat, gangsir atau laron goreng.

 

Generasi yang dapurnya berwarna hitam sehitam kulitnya karena kayu bakar adalah satu2nya bahan bakar memasak nasi. Mereka yang saat bayi telinganya akrab dengan desingan suara bedil, metraliur atau mortir. Generasi yang merayakan ulang tahun dibawah lubang perlindungan dengan alunan sirene meraung-raung.

Generasi yang sempat merasakan uangnya tergunting karena sanering. Generasi yang pernah menggigit jari. Karena tiba-tiba uangnya yang lima ribu menjadi hanya lima perak. Generasi yang mengalami dahsyatnya hama tikus di seluruh negeri.

 

Generasi yang mengalami panasnya perang saudara antara sesama anak negeri. Kami mengalami perjuangan Trikora, Dwikora. Kami terbiasa mendengar teriakan semangat bebaskan Irian atau Ganyang Malaysia. Kami bukan generasi pengeluh. Kami ganti keluh dengan peluh. Rawe-rawe rantas malang-malang putung.

Tapi kami bersyukur. Kami pernah mendengar gelegarnya pidato sang orator. Kami tahu betul arif dan rendah hatinya Bung Hatta. Kami akrab dengan agung dan bijaknya Sri Sultan HB IX. Kami merasa dekat dengan para pemimpin bangsa. Kami pernah merasakan susah dan sengsaranya bangsa bersama mereka. Kami bangga dengan mereka.

Kini kami berusia antara 65 sampai 75. Mungkin kami sudah berbau tanah, satu persatu teman kami antar teman kami ke pemakaman. Tapi ya Allah, terima kasih atas gemerlap untaian pernak-pernik kehidupan kami. Semoga kami saat Kau jemput, dalam keadaan ingat kepada-Mu. (Sadhono Hadi)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close